Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Saturday, June 13, 2009

Cinta Sejati

Cinta, sebuah kata yang tak semua orang mampu mengakuinya, tak semua orang mampu melaksanakannya. Cinta sebuah ungkapan yang tak pernah pudar sepanjang manusia masih memiliki sanubari. Sebuah ungkapan yang mampu membuat si lemah menjadi kuat, si bodoh menjadi pintar, si penakut menjadi pemberani. Cinta pula yang membuat si cerdik terlihat dungu, si pemberani terlihat lemah dan si pejantan terlihat pecundang.

Dengan cinta, terlahir banyak generasi pewaris kehidupan, terlahir banyak individu pembentuk keluarga, terlahir banyak suku bangsa pembentuk marga dan terlahir banyak ras pembeda antar bangsa. Dengan cinta, terlahir banyak kisah tentang manusia serta terjalinnya silaturahmi antar bangsa. Dengan cinta pula silsilah manusia akan terjaga.
Cinta yang menguatkan manusia, cinta pula yang mampu melemahkannya.

Paradoks Cinta

Saat orang bicara tentang cinta, kadang yang terbesit hanyalah kebahagian, keceriaan dan kegembiraan. Padahal cinta hanyalah sebuah kata kerja, tergantung dari sanubari pelakunya.
Ketika sang penipu hati bicara tentang cinta, ketika sang pendusta sanubari bicara tentang cinta, sesungguhnya ia sedang bicara tentang ranjau kepedihan, sesungguhnya ia sedang bicara tentang benih ketakutan. Dan sesungguhnya ia juga sedang menyulam kezaliman untuk dirinya sendiri.

Perlunya cinta sejati

Sesungguhnya cinta sejati hanyalah milik Allah, yang ia wariskan untuk mahluk-mahluknya. Dia yang bersifat rahman sekaligus rahiim. Dia yang bersifat pengasih dan juga penyayang. CintaNya pada mahlukNya, tak pernah bisa diukur dengan neraca para hamba. Sebab Ia mencipta dengan sejuta rasa cinta kepada hambanya. Sifat cintaNya pada mahluknya, menitis dalam instink para induk satwa, juga pada naluri para ibu manusia. Namun cinta yang mengalir dalam nadi manusia kadang terkotori gelembung dosa dan debu kemaksiatan, sehingga sulit menemukan dimana cinta sejati itu berada.

Dua macam cinta sejati pada manusia

Pertama, Cinta seorang Ibu kepada anaknya.

Saat seorang bayi lahir, cinta seorang ibu yang mengokohkan jemarinya, menguatkan tulang belakangnya, menegakan dagunya, membuka panca indera dan menentramkan batinnya. Cinta seorang ibu pula yang membuat anak-anak manusia mampu berjalan dengan tegaknya. Cinta seorang ibu mampu menghapus sakitnya melahirkan, cinta seorang ibu pula yang mampu merubah derita kehamilan menjadi cerita kebahagiaan. Cinta seorang ibu mampu meredamkan amarah saat terhina, mampu memberi damai dalam hati yang terluka, mampu menyejukan jiwa yang gersang karena prahara, serta mampu mendinginkan emosi dalam kepala. Cinta seorang ibu pula yang mampu membuka pintu-pintu surga bagi anak-anak yang berbakti kepadanya.

Kedua, Cinta seorang teman kepada sahabatnya karena Allah.

Cinta yang datang dari seorang teman kepada sahabatnya karena lillahi taa’la, membuat hidup tak pernah terasa sia-sia. Ia yang menguatkan dikala lemah, yang meninggikan dikala runtuh, yang membangunkan dikala lelap, yang menemani dikala terjaga, yang mengingatkan dikala lupa,yang menyantuni dikala papa, yang menerangkan dikala gulita, dan yang mengayomi dikala terhina. Cinta seorang teman kepada sahabatnya karena Allah, berlandaskan iman, bertiang rasa setiakawan, berdinding tenggang rasa, beratap saling mengasihi, berpintu doa, berjendela empati, dan berhiaskan hati sanubari.

Bagaimana hendaknya cinta seorang manusia kepada kekasihnya.

Jadikanlah cintamu pada kekasihmu bukan sebagai cinta biasa, tetapi cinta seorang teman kepada sahabatnya karena Allah taa’la. Sebab itulah cinta yang abadi. Ketika engkau mencintai pasanganmu, jadikan cintamu itu sebagai sarana untuk mencintai Allah dan Rasulnya. Karena diakhirat kelak, seseorang akan bersama dengan apa yang dicintainya.

Untuk para pemuda dan pemudi yang belum menemukan cinta sejatinya. Percayalah bahwa Allah akan mengirimkan orang yang tepat untuk kalian, jika kalian benar-benar meluruskan niat bahwa cintamu pada kekasihmu, semata-mata karena Allah ta’ala. Jika hari ini engkau belum menemukan mereka, mudah-mudahan dengan cintanya Allah kepada kalian, merekalah yang akan menemukan diri kalian.

Untuk para pasangan yang merasakan hambarnya cinta meski telah menikah bertahun-tahun, segeralah kembalilah pada komitmen awal pernikahan. Luruskan niat dan janganlah mengotori hati dengan melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, apalagi bermain-main dengan cinta terlarang yang bisa menghanguskan hati dan membakar jiwa.
Lihatlah buah cinta kalian yang mulai beranjak dewasa. Kalau bukan karena cinta Allah kepada kalian, niscaya kalian tidak diberikan keturunan yang lucu-lucu. Kalau bukan karena Allah percaya kepada cinta kalian, niscaya Allah tidak akan memberikan amanah-amanah itu kepada kalian. Dan andaipun saat ini kalian belum diberikan keturunan, mudah-mudahan dengan lurusnya niat itu Allah akan memberikan amanah itu sesegera mungkin, sebab Allah adalah mengikuti prasangka para hambaNYA.

Untuk mereka yang pernah gagal dalam cinta, baik karena penghianatan atau takdirNYA, percayalah, amal-amal kalian pada masa-masa sulit itu tidak akan pernah dilupakan oleh Tuhan. Pengabdian kalian kepada keluarga yang pernah kalian bina, tetap diberikan nilai tersendiri oleh Allah Ta’ala. Jika kalian pernah terluka atau sakit, percayalah orang-orang yang menyakiti kalian juga merasakan sakit yang sama. Tetapi yang membedakan kalian dengan mereka adalah bahwa kalian ikhlas menerima kenyataan, bahwa pengorbanan kalian itu adalah demi menegakkan cinta kalian kepada Allah Ta’ala. Dan mudah-mudahan Allah akan mengirimkan kembali kepada kalian, hamba-hamba yang soleh dan taat, yang akan merajut cinta bersama kalian dimasa-masa yang akan datang.

Cinta sejati, sesungguhnya ia adalah cinta yang benar-benar abadi. Cinta yang mampu membawa pelakunya kepada cinta sebenarnya, yakni cinta kepada Tuhannya. Cinta yang mempersatukan para hamba yang beriman di yaumul akhirat nanti.

Wallahualam bishowab.

*In the middle of the night.*

Thursday, February 26, 2009

Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
dakwatuna.com - “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.

Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…

Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.

Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:

”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”

Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.

“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”

Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.

Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.

“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.

Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.

Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.

“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.

Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:

Kasih…

cinta yang terindah adalah mencintaimu,

sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.

Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu

burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan

dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir

berada dalam syurga abadi yang dijaga

oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa

yang akan menunggu kedatanganmu,

wahai kekasih…

“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya

“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.

“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan

“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.