Showing posts with label Hukum. Show all posts
Showing posts with label Hukum. Show all posts

Sunday, November 21, 2010

Law Enforcement, Who cares..?

Sebuah harapan dari rakyat kecil
Tentang supremasi hukum yg telah ditinggalkan penguasa...
By Rojali Dahlan

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.QS 4: 58 (1)


Nun disana, seribu empat ratus tahun yg lalu, seorang pemimpin dari kalangan manusia biasa telah lahir, seorang pemimpin pengganti sang Nabi yang telah pergi menemui RobbNya, pemimpin sebuah generasi baru yg terbaik sepanjang masa, tidak sebelum dan tidak pula sesudahnya, pemimpin yang mengisi kekosongan kekuasaan setelah ditinggal sang Nabi. Dialah khalifah pertama bergelar Ash-shidiq, yakni Abu Bakar ra, inilah pidato politiknya sesaat setelah ia di angkat dan dibaiat :

“Amma ba’du, para hadirin sekalian sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku, dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah diantara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat diantara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yg telah diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad dijalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian terbesar ditengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah ku selama aku mematuhi Allah dan rosulnya, tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian kepadaku, sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan sholat semoga Allah merahmati kalian. (2)

Itulah pidato inaugurasi sang khalifah pertama. Pidato yang jelas, lugas, tidak bersayap, tidak penuh retorika, tidak dipenuhi janji-janji, tidak pula penuh pencitraan, to the point, langsung pada tujuan politiknya yakni penegakan supremasi hukum, mengembalikan hak yang terambil, memulihkan hak yang teraniaya, tanpa tedeng aling-aling.

Salah satu pilar tegaknya keadilan dan kemakmuran dalam sebuah negara; entah ia berbentuk khalifah, kerajaan, ataupun republik; adalah penegakan hukum tanpa pandang bulu. Sejarah telah mencatat, bahwa supremasi hukumlah yang membuat negara-negara mencapai kemajuannya. Dalam masa modern, negara maju seperti AS dan Eropa, juga Jepang, Cina dan singapura telah membuktikan bahwa supremasi hukum membuat negara berjalan sesuai relnya, sesuai cita-cita rakyat bersama. Padahal Supremasi hukum telah dicontohkan oleh nabi ribuan tahun yang lalu. Nabi pernah berkata “Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan apabila ada salah seorang yang terpandang diantara mereka mencuri, mereka membiarkan begitu saja, akan tetapi jika salah seorang dari mereka yang lemah (rakyat biasa) mencuri, maka mereka menegakkan hukuman baginya. Demi Allah seandainya putriku Fatimah mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”(3)
Sebaliknya supremasi hukum yang lemah akan membuat negeri menjadi carut marut bahkan mengalami kegagalan dan carut marutnya negeri kita tercinta ini, adalah karena lemahnya penegakan hukum oleh para pemimpin.
Kita lihat di negeri kita, hukum hanya berlaku untuk orang-orang kecil, orang lemah, kaum miskin, papa dan para dhuafa, sedangkan untuk orang besar hukum seperti tidak bergigi. Kita lihat kasus nenek pencuri biji kakao yang dihukum sampai pengadilan; meski akhirnya hukumannya hanya dua setengah bulan; sangat kontras dibanding penuntasan kasus korupsi Gayus, yang seolah hanyalah panggung sandiwara. Seorang yang mencuri hanya sekian puluh ribu, bahkan hanya mengisi ulang hp terpaksa mendekam dipenjara, tapi seorang yg mencuri triunan rupiah diperlakukan bak artis tenar, mendapat fasilitas segala macam. Supremasi hukum yg lemah pula yang membuat para pahlawan devisa seperti budak di negeri orang, tanpa pembelaan berarti dari negerinya sendiri. Padahal negara sekuler seperti AS, Kanada dan Inggris, sangat concern terhadap nasib warganya dimanapun mereka berada. Satu nyawa rakyat bagi mereka sama pentingnya dengan nyawa pejabat. Tapi disini, nyawa rakyat sama remehnya dengan nyawa seekor lalat.

Perbedaan perlakuan hukum antara rakyat jelata dan petinggi negara, antara maling kelas teri dengan maling kelas ikan paus, membuat rakyat skeptis, artinya terbentuk dalam pikiran rakyat, jika ingin mencuri dan tetap happy, maka mencurilah dalam jumlah yang sangat besar dan signifikan. Dan salah satu cara mencuri dalam jumlah yg sangat besar adalah dengan korupsi.

Korupsi adalah kejahatan luar biasa, extra ordinary crime, ia bukan hanya mengambil hak-hak orang lain, tetapi juga memiskinkan orang lain. Pemiskinan ini bukan hanya satu atau dua orang, tetapi jutaan rakyat indonesia yang dimiskinkan oleh koruptor. Dalam kasus gayus, koruptornya adalah terdiri dari dua orang lacur yang berselingkuh, yakni pemberi suap dan penerima suap. Pemberi suap mengambil trilyunan uang rakyat yg harusnya disetor ke negara, dan penerima suap mengambil keuntungan dengan memuluskan langkah sang pemberi suap itu, jadilah sumber kekayaan alam negeri ini yag seharusnya untuk kemakmuran bersama diambil secara rakus oleh segelintir pengusaha dan perusahaannya karena bantuan tikus penghianat atas nama pegawai pajak negara.

Ketika aksinya tercium kucing alias penegak hukum, sang tikus tak kalah akal, ia suap semua pejabat yg menangani kasusnya, mulai dari kepolisian, kejaksaan hingga sang hakim sampai akhirnya vonis bebas diterima sang tikus. Untunglah Allah masih sayang kepada bangsa ini, ketika seorang kucing merasa dihianati kucing atasannya, maka ia berkoar-koar atas kongkalikong mafia hukum dengan mafia pajak, jadilah sang tikus tertangkap kembali dan mengalami dakwaan yang lebih berat. Tapi, karena mental sang kucing sudah biadab, sang tikus tetap saja bisa melenggang bebas hingga bisa pelesiran kemana yang ia mau.

Sang Kucing, jika memang mau, sebenarnya mampu menuntaskan kasus tersebut, ia tidak bisa berdalih belum ada bukti cukup. Dari pengakuan Gayus saja sudah cukup untuk memeriksa perusahaan yang memberi suap, petinggi polisi yg disuapnya, aparat hakim pemberi keputusan bebas hingga atasan gayus di dirjen pajak yang memberi restu. Bukan tidak mungkin gayus bekerja secara team dan diketahui oleh atasannya,sebab gayus adalah pegawai golongan IIIA, bukan termasuk golongan tinggi, mustahil pekerjaan pegawai rendah tidak diketahui atasannya. Pun dari sisi ditjen pajak, seandainya ada kemauan bisa saja menggugat balik (memPTUNkan) Putusan pengadilan pajak yang memenangkan perusahaan penyuap. Eratnya cengkeraman para mafia yang berkolaborasi membuat negeri seolah berputus asa, dan rakyatpun mulai muak, karena negeri kesayangan mereka ternyata dikuasai oleh para mafia, baik mafia pengusaha, mafia pajak dan mafia hukum. Harapan kepada pemimpin tertinggi seperti mimpi, padahal mudah sekali bagi beliau jika ada kemauan, ia dapat memerintahkan apa saja kepada bawahannya untuk menuntaskan kasus ini. Tinggal rakyat yang bingung, jika para pejabat enggan menuntaskan kasus ini, rakyat akan berfikir dengan daya kritisnya, jangan-jangan para pejabat tinggi itupun terlibat dalam kasus ini, mengingat orang-orang yg ditangkap dan didakwa sebagian besar hanya pegawai rendahan. Jika itu benar-benar terjadi, maka itu adalah kekejian terbesar seperti yang dikatakan Khalifah Abu Bakar, maka rakyatpun hanya bisa menangis seraya berdoa, doa sebagai orang yang teraniaya yang jaraknya dengan sang Robbi begitu dekat seperti jarak antara jari tengah dan jari telunjuk. Dan ketika doa mereka diterima, maka negeri ini akan mendapat adzab yang sangat pedih, naudzubillah min dzalik.

Wahai sang penguasa negeri ini, di tengah banyaknya dusta yang dipertontonkan, ditengah lemahnya harapan akan keadilan, di tengah sesaknya nafas yg teracuni oleh kebohongan demi kebohongan, harapan kami cuma satu, tolong tegakkan supremasi hukum dinegeri ini. Sebab itulah kunci kebahagiaan dan kemakmuran negeri. Kami tidak menginginkan program super yang bersifat mercu suar, megah dan gagah, kami juga tidak ingin bantuan utang luar negeri untuk meningkatkan ekonomi kami; sebab kami terbiasa mandiri; kami juga tidak ingin janji-janji pendidikan gratis dan pangan murah yang mustahil terwujud jika jatah kami akhirnya dikorupsi oleh anak buahmu. Kami juga tidak ingin anggaran pertahanan dan keamanan yang besar, sebab jika perut kami kenyang, kamipun akan tenang dan bisa berdamai dengan siapa saja.
Wahai penguasa, jika engkau bisa menegakan supremasi hukum tanpa pandang bulu, kami pun akan hidup tenang, sebab tiada satupun hak-hak kami akan dirampas, dan negeri ini pun akan adil dan makmur , baldatun thoybatun warrobbun ghofuur, gemah ripah loh jinawi.
Wahai penguasa, jangan takut, sebab engkau memegang kunci surga jika engkau berbuat adil, tapi jika engkau berkhianat, siapkan dirimu menjadi bahan bakar api neraka. Tidakkah engkau tahu, salah satu naungan dimana tidak ada naungan lain selain naungan Allah pada hari kiamat adalah naungan yg diberikan kepada pemimpin yang adil?
Wahai Pemimpin, kuatkan azzam untuk bertindak, doa para rakyat teraniaya akan menjadi pemicu buat dirimu, ia akan mengangkatmu ke tempat yg paling tinggi atau merendahkanmu ketempat yang paling rendah, jika engkau menggunakan hati nurani, insya allah hati kami pun akan tetap bersamamu, semoga engkau segera bertindak cepat dan tanggap, sebab negeri ini berada dalam kondisi gawat darurat, negeri ini berada dalam cengkeraman mafia jahat yang memiskinkan jutaan rakyat kami, mengambil hak pensiun orang tua kami, merampas masa depan anak-anak muda kami, dan mengambil paksa susu-susu milik bayi kami. Jika engkau takut bertindak, turunlah, itu lebih baik buat kalian sehingga Allah akan mencatat kalian sebagai pemimpin yang pengecut. Jika engkau butuh dukungan, minta tolonglah kepada Allah, jangan minta tolong kepada kami, sebab bagi kami, tanpa engkau minta tolongpun, dari dasar hati kami telah mendukung dan mendoakan para pemimpin yang adil, yang bisa mengembalikan hak-hak kami yang terampas oleh para mafia itu. Yang bisa mengembalikan keceriaan anak-anak kami, keceriaan para orang tua renta diantara kami, juga kecerian para pengungsi yg kampungnya luluh lantak oleh bencana, baik bencana alam, atau bencana karena pengeboran sumur yg tak bertanggung jawab itu.
Doa kami beserta pemimpin yang adil, dan azab Allah beserta pemimpin yang khianat.

Catatan :
(1) Quran Surat Annisa ayat 58
(2) Ibnu Hisyam As-Sirah An Nabawiyah 4/413-414.
(3) Bukhari & muslim,

Thursday, November 19, 2009

Iblis pun berkorban

Life is struggle and every struggle needs sacrifice and the real sacrifice is do sincere with disinterested

Hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan dan pengorbanan yang sesungguhnya adalah melakukan dengan tulus tanpa pamrih (ikhlas)

Dalam perjalanan hidupnya didunia sebagai tempat persinggahan menuju tujuan akhir yakni akhirat, manusia senantiasa dihadapkan kepada satu hal yang tidak bisa dihindari yakni bahwa hidup didunia harus dengan susah payah.

Alquran dengan jelas menerangkan hal itu.
QS:90, 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Jadi secara pabrikan (OEM) standard manusia dibuat dengan kondisi bersusahpayah, tinggal pemaknaan dan penerimaan rasa dari setiap individu yang berbeda-beda.
Karena takdir, ada yang sejak bayi sudah menjadi konglomerat, karena takdir pula ada yang lahir dalam kondisi terbuang dan tak diinginkan. Seiring dengan perjalanan mengisi kehidupan, barulah masing-masing individu diberikan akal dan fikiran yang berguna untuk menentukan arah masing-masing, apakah ia senang bermalas-malasan sehingga tetap menjadi miskin, atau apakah ia akan rajin dan merubah nasibnya sendiri sehingga ia menjadi kaya raya. Tapi tetap itu semua tidak menghindarkan manusia untuk tetap bersusah payah dalam segala aktifitas kehidupannya.

Dalam kondisi bersusahpayah itu, Allah pun menguji manusia untuk memberikan pengorbanannya sebagai ujian untuk mengetahui mana emas dan mana loyang, mana beriman dan mana yang kafir.
Dalam tahap pengorbanan itulah manusia dihadapkan dalam satu kondisi yang tidak enak, karena memberikan sebagian nikmatnya untuk mahluk lain. Disini keikhlasan hadir sebagai keyword, sebagai kata kunci yang membedakan pengorbanan seorang manusia dengan manusia lainnya, seperti perbedaan qurbannya habil dengan qobil.

Keikhlasan Kuadrat

Ketika manusia dalam kondisi sulit, ketika manusia dalam kondisi dibawah titik nadhir, sesungguhnya itu adalah saat yang tepat untuk menghadirkan dua keikhlasan. Pertama, ikhlas menerima takdir bahwa saat itu nasib sedang berada dilevel bawah, dimana tidak ada manusiapun yang mau jika diberikan kondisi seperti itu. Kedua; ketika dalam kondisi dibawah, tetap mampu berkorban dengan ikhlas untuk orang lain. Pengorbanan yang tidak harus berbentuk ternak, tetapi berbentuk materi atau hal lain seperti tenaga dan kesabaran.

Jika kita merasa sebagai orang yang paling menderita (baca: merasa dititik nadhir), apakah kita sudah membandingkan dengan orang lain disekeliling kita, apakah rasa menderita itu karena kita yang kurang sabar atau karena kita belum bisa menghadirkan keikhlasan atas kondisi itu, bagaimana mungkin kita bisa memberikan pengorbanan lain, jika untuk diri sendiri saja kita belum ikhlas. Bagaimana bisa mendapatkan ikhlas kuadrat sedang menghadirkan ikhlas yang pertama saja tidak sanggup.

Karena Perbuatan Sendiri

Jika seorang yang jatuh karena kemaksiatannya, jika seorang kini berada dititik nadhir karena kejahatannya, lantas ia merasa telah berkorban karena menerima hukuman dari Allah atas perbuatannya, dan merasa ikhlas dalam menerima hukuman itu, maka apakah pantas dikatakan ia telah berkorban, padahal peristiwa itu terjadi akibat perbuatannya sendiri. Jika seorang pejabat merasa dizhalimi, jika seorang pembesar merasa dibenci, sedangkan hujatan masyarakat itu datang atas perbuatan dirinya sendiri, pantaskan sang pembesar merasa menjadi korban, kemana nurani yg dulu ditinggalkan saat berbuat curang kepada ummat dan masyarakat
Jika para koruptor itu merasa dirinya telah berkorban maka bisa dikatakan iblispun telah berkorban bukankah demikian?.


Wallahualam Bishowab.

Wednesday, November 18, 2009

Dialog saya dengan Bapak Presiden

Hari beranjak larut, hujan yang menguyur Jakarta sejak sore tadi telah berhenti mengalir, tinggal gerimis yg turun perlahan bagai butiran kapas, menyejukkan bumi yg makin hari makin terasa panas. Malam pun terasa kian dingin menusuk tulang, meski mesin pendingin ruangan telah saya matikan sejak beberapa jam yang lalu. Sedikit pekerjaan telah saya rampungkan, ditemani segelas teh hangat dan siaran televisi dari sebuah stasiun tv swasta yang menyiarkan siaran langsung rapat kerja anggota DPR dengan tiga lembaga hukum yakni kepolisian, kejaksaan dan KPK terkait rekomendasi Tim 8 dalam kasus Bibit dan Chandra, dua orang mantan pimpinan KPK yang tersandung kasus rekayasa kriminalisasi KPK. Waktu telah menunjukan pukul 23.55, hingga tengah malam seperti ini, terlihat rapat masih terus berlangsung, bahkan diperkirakan akan sampai pagi, karena baru setengah anggota dewan yang mengajukan pertanyaan. Bagi saya pribadi, raker anggota dewan dengan tiga lembaga hukum itu merupakan dagelan politik, karena sudah bisa ditebak arahnya kemana.

Malam makin larut, mata pun sudah tak kuat untuk meneruskan pekerjaan, akhirnya untuk menghilangkan kantuk, sejenak saya rebahkan tubuh di sofa untuk meluruskan otot-otot tubuh dan menikmati rasa kantuk itu sepuluh sampai lima belas menit, agar tubuh segar kembali setelah bangun kemudian dan rasa kantukpun akan menghilang seketika. Belum lima menit mata ini terpejam, tiba-tiba pintu depan diketuk dengan keras. Terdengar suara salam dengan nada berat, seraya memanggil-manggil nama saya. Saya pun bangkit dengan malas seraya bertanya-tanya, siapasih tengah malam bertamu kerumah ini, apakah kerabat atau Pak RT dengan hansipnya. Pintu saya buka perlahan dan dibawah lampu temaram, saya lihat dua orang berbadan tegap bersafari hitam menyapa saya dengan senyum dipaksakan. “assalamu’alaikum, selamat malam, apakah bapak yang bernama Rojali Dahlan?”, “benar jawab saya, anda-anda ini siapa?”. Seorang yang berkumis tipis dan berdagu kelimis menjawab seraya menyerahkan kartu anggota dan selembar surat berlogo bintang dikelilingi padi melingkar berwarna keemasan kepada saya. “Maaf kami dari Pasukan Pengawal Presiden, saya Kolonel Amru dan ini kartu anggota saya. Bapak dipanggil ke Istana oleh Bapak Presiden, katanya ada hal penting yang ingin beliau tanyakan dan ini suratnya”. Saya diam terbengong-bengong, ada apa Presiden memanggil saya, dan apa hubungannya dengan saya, apakah berhubungan dengan komentar-komentar dan status saya di facebook atau diblog saya yang sering mengkritik presiden atau ada hal lain, dan mengapa sebegitu pentingnya saya sehingga harus dipanggil oleh presiden. Benak saya menerka-nerka dan berfikiran negative, jangan-jangan ini seperti zaman suharto, menculik dan menghilangkan orang yang tidak sefaham dengan penguasa. Tapi saya menepis fikiran seperti itu, saya tidak pernah berbuat macam-macam dan saya tidak yakin di zaman reformasi dan keterbukaan seperti ini tidak mungkin presiden kembali melakukan hal konyol seperti itu, apalagi saya bisa melihat dari attitude beliau yang komitmen dalam membela penegakkan HAM. Akhirnya saya sebagai orang awam, hanya meminta surat bukti pemanggilan saya itu sembari meyakinkan diri bahwa benar bahwa surat itu adalah surat resmi kepresidenan mengingat logo bintang dan padi berwarna emas yang menunjukan bahwa itu logo kepresidenan yg saya kenal. Saya bangunkan istri saya dan menjelaskan seluruhnya, istri saya sempat tidak percaya, tetapi setelah diyakinkan oleh Paspampres tadi dan mendapat jaminan tertulis bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan saya, sekaligus meminta nomor HP Presiden secara pribadi barulah istri saya merasa yakin. Saya bertanya, mengapa harus tengah malam buta begini, sang kolonel menjawab bahwa waktu yang dimiliki bapak presiden sangat sempit, dan ini menyangkut kepentingan bangsa yang besar. Beliau harus mengambil keputusan secara cepat, untuk menghindari mudharat yang lebih besar.

Lima belas menit kemudian saya selesai salinan dan pamit kepada istri saya, saya lihat jam dinding menunjukan pukul 01.10 dini hari. Saya paham kebiasaan beliau dari buku yang pernah saya baca, bahwa presiden kita ini jika menghadapi masalah apalagi menyangkut masalah penting jam berapapun beliau akan memanggil siapapun yang dirasa patut dipanggil, seperti kisah yang diceritakan mantan jubir beliau, Pak Dino saat peristiwa tsunami melanda Aceh beberapa tahun lalu yang dipanggil beliau pada pukul 02.00 dini hari. Sejurus kemudian saya sudah duduk dikursi tengah Nissan Terano ditemani dua orang paspampres, satu orang supir dan seorang ajudan Presiden. Sepanjang perjalanan saya bertanya-tanya kembali, sebegitu pentingkah saya sehingga presiden harus memanggil saya untuk membantunya memecahkan masalah? Atau ini adalah kebijakan beliau yang pernah berkomitmen untuk mendengarkan suara rakyat kecil. Dan mengapa harus saya, dari mana beliau mengetahui tentang saya dan apa kapasitas saya, apakah dari tulisan-tulisan dan komentar saya diinternet,juga artikel-artikel yang pernah saya tulis? Pertanyaan itu terus membahana di benak saya, berputar-putar dalam sudut-sudut otak saya yang semakin tak mengerti apa sebenarnya keinginan sang presiden ini terhadap saya.

Empat puluh lima menit kemudian saya tiba di istana, menyusuri koridor diantar sang ajudan menuju ruang kerja sang Presiden. Saya berfikir, tidak biasanya presiden menginap di istana, seingat saya, beliau lebih sering mengambil keputusan di rumahnya ketimbang di istana, jadi jika hari sudah menjelang malam, beliau meneruskan tugasnya sebagai presiden dari kediamannya. Tapi beda untuk kali ini, mungkin karena isunya sangat penting dan krusial beliau lebih memilih untuk menuntaskan keputusannya dengan menginap di istana. Pintu besar berwarna cokelat itu diketuk perlahan oleh sang ajudan, terdengar suara khas disertai salam hangat dan perintah untuk menyuruh masuk dari orang didalam ruangan itu. Sayapun lantas mengenalkan diri seraya menjabat tangan beliau. Sebagai presiden, beliau cukup berkharisma, dengan tubuh tegap dan tinggi besar tak lupa senyum khasnya seraya menawarkan minuman kepada saya. Saya bilang terserah minuman apa saja pak. Sejenak kemudian beliau menelpon dapur istana untuk menyediakan kopi susu untuk kami. Pembicaraan-pembicaraan ringan sebagai perkenalan mengalir dari mulut beliau, dan beliau sepertinya faham atas kebingungan saya mengapa saya harus berada di tempat itu. “Dik Jali,’ sapa beliau akrab memanggil saya, saya hanya butuh nasehat dan saran untuk memecahkan masalah yang saya hadapi ini, saya mencari orang yg kira-kira pas dan sesuai, tanpa pamrih kepada saya dalam setiap pandangan-pandangannya, dan itu saya lihat dari tulisan-tulisan Dik Jali di internet. Saya pernah membaca artikel Dik Jali yang menyentuh hati saya, artikel dengan judul surat terbuka untuk bapak Presiden yang ditayangkan di media www.eramuslim.com beberapa waktu lalu. Lalu saya menyuruh ajudan saya untuk mencari dimana Dik Jali tinggal, karena saya ingin bertukar fikiran dengan Dik Jali". Hati saya bergemuruh seraya berkata wow sampai segitukah dampak tulisan saya. Betapa beruntungnya saya bisa berhadapan dengan penguasa dan membantu memecahkan permasalahan bangsa dengan ide-ide yang terlepas begitu saja dari benak ini. Betapa terhormatnya saya bisa memberikan saran dan nasehat kepada bapak Presiden yang dengan nasehat itu mudah-mudahan bisa membantu membuka jalan fikiran beliau, demi kemaslahatan bangsa dan negara. Tapi perasaan minder dan tak berarti apa-apa membuat saya merendah, “Pak presiden, jawab saya, saya hanyalah orang biasa, latar pendidikan saya hanyalah seorang sarjana komputer, ilmu saya pas-pasan, dimasyarakat saya bukan tokoh penting, saya hanyalah seorang ayah, seorang kepala rumah tangga, pemimpin perusahaan kecil dan ketua sebuah yayasan kecil dalam bidang pendidikan islam di bilangan palmerah, tidak lebih dari itu. Saya bukanlah seperti anggota wantimpres yang bapak pilih, dengan latar belakang pendidikan doktor dan profesor dari universitas terkenal didalam dan luar negeri, dan saya bukanlah orang yang pantas untuk itu”. “Tak mengapa Dik Jali, saya tidak melihat itu semua, saya hanya melihat dari isi bukan dari casingnya, jawab beliau bijaksana”. Baiklah, apa yang bapak ingin utarakan dari saya. “begini Dik Jali, isu paling terakhir yang berkembang di masyarakat yang cukup menggetarkan Indonesia bahkan dunia adalah tentang isu kriminalisasi KPK, tepatnya isu Bibit dan Chandra. Tadinya saya berusaha untuk tidak ikut campur, karena masalah ini adalah masalah hukum dan presiden tidak berhak mencampuri proses hukum, tetapi ternyata isu itu berkembang luar biasa dan menyinggung ranah sosial dan politik. Blow up dari media dan aksi sosial dari media online semacam facebook membuat gerakan masyarakat mengarah kepada people power, dan saya khawatir, bangsa kita bisa terguncang jika masalah ini tidak terselesaikan dengan baik. Saya juga sudah membentuk TPF, dan tim itu sudah memberikan rekomendasi kepada saya, tetapi saya bingung. Saya tidak mau dipaksa untuk melakukan sesuatu diluar wewenang saya, dan saya tidak mau menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum. Jika saya ikuti rekomendasi Tim 8, benar rakyat akan tenang dan kepercayaan masyarakat akan pulih kepada saya, tetapi saya akan menciderai proses hukum. Jika saya abaikan rekomendasi itu, maka saya seperti menjilat ludah sendiri, secara hukum saya benar, tetapi rakyat bisa bergejolak. Terus terang ini seperti memakan buah simalakama” Jelas Presiden dengan mimik muka serius.
“Oh itu masalahnya”, jawab saya seolah-olah tidak mengetahui. Bapak ingin jawaban yang bagaimana, yang menyenangkan atau yang menyakitkan. “Maksudnya?,” tanya Presiden bingung. Begini pak, kalau jawaban yang menyenangkan saya akan menjawab sesuatu yang akan menyenangkan bapak, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekeliling bapak selama ini, tetapi kesenangan jawaban itu hanya berlangsung sesaat, justru setelah itu bapak akan dibuat menderita karena jawabannya tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan yang terjadi. “Baik-baik, saya akan meminta jawaban apa adanya, sekalipun itu menyakitkan”. Sela bapak presiden. “Syukurlah pak, dan memang sudah seharusnya bapak mendapatkan jawaban yg sesungguhnya meskipun itu menyakitkan, karena jawaban yang menyenangkan alias ABS itu bukan porsi saya, tetapi porsi anak buah bapak yang membuat masalah ini berlarut-larut”, tegas saya tanpa rasa takut. Sengaja saya berhenti untuk melihat gesture presiden, apakah benar-benar telah siap menerima jawaban saya. “Lalu”, tanya beliau mempersilahkan saya untuk meneruskan jawaban itu. “Sebelum saya lanjutkan, saya mohon maaf untuk meminta bapak berkata jujur dari hati nurani yang paling dalam”. “Maaf Pak, apakah bapak terlibat dalam masalah ini?” Tanya saya tanpa tedeng aling-aling? “Apa??” beliau terkaget-kaget atas pertanyaan saya, “ya tentu tidak Dik Jali” “untuk apa saya berbuat seperti itu”, “saya tidak akan mempertaruhkan jabatan saya untuk hal seperti itu” tegas bapak presiden membela diri. “Syukurlah kalo bapak tidak terlibat, jadi bapak akan mudah mengambil keputusan tanpa dibayang-bayangi oleh kepentingan. Dan jika kita tidak punya kepentingan, buat apa kita ragu-ragu dalam memutuskan, justru kalau ragu-ragu dan lambat, masyarakat akan curiga, jangan-jangan bapak terlibat”. “Saya bukan tipe orang yang tergesa-gesa, saya selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang sangat matang, apalagi ini menyangkut hukum yang penyelesaian idealnya adalah melalui jalur hukum, saya tidak mau mengintervensi hukum” tegasnya kembali.

“Pak, bapak memang tidak salah ingin menegakkan hukum dan memang itu seharusnya, tapi ada yang lebih penting dari itu semua, Bukankah menegakkan hukum bagian dari menegakkan kebenaran dan keadilan? Coba kita tanyakan pada hati nurani yang jernih, lebih utama mana, menegakkan kebenaran dan keadilan atau menegakkan hukum?. Bukankah jika keadilan telah tegak, otomatis hukum akan tegak, dan tidak semua penegakkan hukum akan memenuhi rasa keadilan juga berapa banyak penegakan hukum mencederai keadilan dan kebenaran, berapa banyak yang tidak bersalah divonis dan yang bersalah melenggang bebas?, benar vonis sudah dibacakan dan hukum sudah ditegakkan, tapi apakah keadilan juga sudah ditegakkan jika ada kasus seperti itu.?”
“Bapak Presiden, tidak semua penegakkan keadilan dan kebenaran itu selalu berlandaskan legal formal. Penegakan kebenaran dan keadilan bukanlah pekerjaan sepele, yang tidak menimbulkan resiko apa-apa. Justru pahala besar akan datang kepada pemimpin yang berbuat keadilan, pemimpin yang akan dinaungi di akhirat nanti, dimana tidak ada naungan satupun kecuali naungan Allah. Pemimpin yang adil juga akan duduk bersama-sama para nabi dan hamba Allah yang soleh. Jika bapak hanya ingin menegakkan hukum, bapak hanya akan mendapatkan ganjaran dunia, yakni jabatan bapak akan selamat, karena bekerja sesuai koridor hukum, tetapi keadilan bapak akan digugat di akhirat nanti. Tapi jika bapak menegakkan keadilan, meskipun jabatan bapak akan hancur, bapak akan tetap dikenang oleh rakyat yang mencintai bapak, akan dikenang dan didoakan oleh orang-orang yang mencintai kebenaran dan keadilan, dicintai oleh mahluk langit dan bumi dan diridhai oleh Allah SWT. Mana yang lebih baik menurut Bapak?”. Tanya saya dengan muka serius. “Banyak kisah yang menceritakan bahwa menegakkan keadilan lebih utama dari menegakkan legal formal. Contoh, andai kata para pemuda kemerdekaan seperti BM Diah, Sukarni dan kawan-kawan tidak memaksa Ir. Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan RI pada tanggal 17 agustus 1945 dengan menculiknya ke Rengas dengklok, dan Soekarno lebih memilih legalitas perjanjian dengan Jepang yang akan memberikan kemerdekaan jika tiba saatnya, niscaya bangsa kita tidak pernah tahu kapan akan merdeka. Contoh lain seandainya Nabi hanya mengikuti aturan formal bahwa pemimpin haruslah yang sudah senior, niscaya beliau tidak mengangkat Usamah bin zaid yang baru berusia 18 tahun untuk menjadi panglima perang menghadapi Romawi. Para pemimpin besar tidak memimpin dengan legal formal, tidak hanya mengandalkan logika semata, tetapi mereka memimpin dengan hati, dan hati merekalah yang bisa menembus kebenaran dari suatu permasalahan, meskipun bertentangan dengan logika dan legal formal. Pemimpin yang memimpin sekedar mengandalkan aturan legal formal, seperti robocop yang bekerja sesuai dengan perintah atasannya dan rule program yg diistall di memorinya. Mana kala ada rule/aturan yang melarang robocop untuk membunuh/menangkap petinggi OCP, meskipun petinggi OCP itu berlaku korup dan kriminal, keadilan tidak bisa ditegakkan oleh robocop, ia tidak bisa menyentuh CEO OCP itu sampai ada perintah eksternal yang diberikan oleh petinggi OCP lainnya, yakni memecat CEO korup itu, barulah robocop bisa mengeksekusinya. Apakah anda ingin disamakan dengan robot seperti itu?”
Bapak presiden terlihat diam membisu, cukup lama beliau dalam kondisi seperti itu, kemudian kata-kata saya kembali memecah sunyi
“Bapak Presiden, Penegakan kebenaran dan keadilan lebih utama bagi rakyat ketimbang pembangunan ekonomi. Sebab jika kebenaran dan keadilan sudah ditegakkan, rakyat tidak akan khawatir kalau hak-hak dan jatah hidupnya akan diambil atau dikorupsi oleh orang lain, yang ujung-ujungnya rakyat akan sejahtera karena keadilan ekonomi merata bagi mereka. Bukankah yang memiskinkan mereka selama ini karena hak-hak dan jatah mereka dikorupsi oleh orang-orang bejat tak bertanggung jawab itu?”
Bapak presiden masih terlihat membisu, sayapun melanjutkan kalimat,
“Bapak Presiden yang saya hormati, memang sulit untuk menegakkan keadilan, sedang kita sendiri tidak mengetahui dimana keadilan itu berada. Untuk itulah Allah memberi nikmat akal dan hati yang jernih untuk melihat dimanakah kebenaran dan keadilan itu berada. Saran saya marilah kita tauladani sikap Nabi Yunus, ketika menyadari bahwa beliau salah dalam mengambil keputusan dan meninggalkan ummatnya karena ketidaksabaran beliau, hingga beliau ditelan oleh ikan besar, lalu beliau langsung bertobat dan berdoa dalam doanya yang sangat terkenal itu. Subhanaka laillaha anta, ini kuntu minal dzholimin, maha suci engkau ya Allah, tidak ada Tuhan selain engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
“Bapak Presiden, untuk kasus kali ini, dan juga untuk kasus-kasus yg lain, tolong bapak mengambil keputusan dengan hati, bukan dengan asas legal formal, insya allah hasilnya akan lebih baik dari pada apapun, dan bangsa ini akan selamat”. Lupakan sementara resiko jabatan, karena jabatan adalah amanah dan dia akan pergi jika Allah menghendaki, sebagaimana dia datang saat Allah menghendaki juga. Bukankah bapak dulunya juga bukan siapa-siapa?”

Tak terasa waktu mengalir begitu cepat, sayup-sayup terdengar pengumuman dari masjid bahwa sebentar lagi akan masuk saat subuh, saya pun mohon pamit kepada Presiden seraya mendoakan semoga diberi hidayah dan kebeningan kalbu agar dapat memimpin dengan hati, seperti para pemimpin besar lainnya. Presiden terlihat menangis, airmatanya terburai menahan haru, ia tidak bisa menyembunyikan keharuannya atas nasihat-nasihat yang keluar dari mulut saya, entah mengapa saya begitu lancar berkata kepada sang Presiden, seperti berkata kepada sahabat dekat saja. Syukurlah, pesan saya sampai ke lubuk hatinya, dan memang itu yang saya harapkan, saya menginginkan agar hatinya mudah peka dan perasaannya halus, agar empatinya tajam terhadap nasib rakyat ini.
Setelah berterimakasih, sang presiden memberikan bingkisan sebuah buku kepada saya, buku yang sangat saya kenal, yakni La tahzan, jangan bersedih karya aidh alqarni. Buku yang sangat bagus untuk mengobati hati-hati yang terlanjur karat oleh kesombongan dan kemunafikan. Rupanya sang Presiden telah lama mengenal buku itu, dan dari buku itu pula beliau mudah tersentuh oleh tulisan-tulisan yang membangun jiwa.

Saya segera pamit untuk pulang, di perjalanan saya seakan tak percaya, baru saja berbicara dan berdiskusi saling memberi tausiah kepada seorang presiden penguasa negeri ini. Tapi ketika saya duduk termenung dalam Nissan terano yang mengantar saya pulang, tiba-tiba sebuah sepeda motor menyalip kami dan dengan repfleks sang sopir membanting setir ke kiri tetapi tak ayal mobil kami menjadi terjungkal karena menabrak trotoar, saya yang sedang bengong terlempar keluar jendela, ketika saya bangun, saya tersadar sedang berada dilantai disamping sofa tempat saya tertidur semalam.

Tengah malam 18 November 2009

Monday, September 28, 2009

Empati yang hilang(tumpul) jilid dua

Mengamati perkembangan pemberantasan korupsi (baca perseteruan cicak vs buaya; KPK vs Polri) setelah dua minggu pasca penetapan tersangka pimpinan KPK, Chandra dan Bibit semakin terlihat aneh saja.
Aroma bau tidak sedap bahwa perseteruan itu melibatkan dendam pribadi kabareskrim SD; seperti kata bang Buyung Nasution sangatlah kental, Ia yang merasa tersinggung karena disadap oleh KPK dan lantas marah dengan mengungkapkan istilah mana berani cicak (KPK) melawan Buaya (Polri) mulai menyusun strategi demi melemahkan KPK. Sang jenderal pun (BHD) seperti melindungi kepentingan pribadi anak buahnya. Ia malah menuduh didepan publik tentang suap yang dilakukan oleh Antasari untuk menyuruh Ary memberikan uang kepada Chandra. Tuduhan ini lantas dibantah oleh Antasari, Ary dan Chandra. Melihat bantahan itu, publikpun melihat bahwa polri bekerja sangat tidak profesional, bukti-bukti belum kuat, tuduhan belum nyata malah membuat statement yang bisa berujung fitnah, adagium lama jaman orba seperti terulang kembali, polri bekerja dengan metode yang penting tangkap dulu, bukti bisa dibuat dan dicari belakangan, innalillahi.

Sekali lagi saya heran dengan pemimpin dinegeri ini, beda dengan wakilnya yang mampu berkomentar dan memberikan sedikit pencerahan kepada publik, ia selalu diam seribu bahasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, dibawah sana, anak buahnya sedang bertarung, rakyatnya sedang bertikai dan para pencari keadilan sedang mengigil, bersimpuh bermunajat dan berdoa kepada tuhannya, semoga keadilan bisa tegak di bumi Indonesia.
Kemana empati mu pergi wahai sang pemimpin, kemana rasa dan nuranimu menghilang wahai sang raja. Belum tuntas dugaan pelanggaran wewenang, malah kau menerbitkan perppu yang bisa berujung fitnah, yang membenarkan bahwa dua orang itu adalah bersalah, padahal kasus belum tuntas, masalah belum clear, siapa yang benar dan siapa yang salah juga belum jelas. Mengapa engkau mengambil keputusan berpihak yang tergesa-gesa, yang ujung-ujungnya bisa menjadi tradisi bagi pemimpin berikutnya untuk melemahkan lembaga hukum jika menyangkut kepentingannya.

Saya sebagai rakyat biasa, tidak bisa melihat lebih dalam bagaimana isi hatimu wahai presiden, dibalik wajahmu yang tampan, dibalik tubuhmu yang tegap, dibalik senyummu yang berkharisma saya tidak bisa melihat sedalam apa nurani yang engkau punya, setajam apa empati yang engkau miliki dalam menyelesaikan masalah dengan prinsip keadilan.
Memang, engkau bukanlah nabi Sulaiman yang diberikan hikmah keadilan dalam setiap pemerintahannya, engkau juga bukan nabi Yusuf yang selalu dibimbing kebenaran dalam setiap kekuasaannya. Tapi engkau adalah manusia yang dengan takdirNYA telah terpilih menjadi pemimpin kami yang dengan itu pula Allah melebihkan engkau atas kami, dan yang paling berarti, engkau adalah seorang muslim yang lahir dan mati diperintahkan untuk menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.
Ketika engkau bingung, Tuhan akan memberikan hidayah kepadamu melalui nurani, tanyakan kepadanya, kemana kakimu harus berpijak, tanyakan dalam istikharah-istikharah mu, kemana gerahammu akan menggigit. Jangan dengarkan bisikan-bisikan manusia-manusia disekelilingmu yang mempunyai penyakit di dalam hatinya. Dengarkan saja suara rakyat yang terdengar nyaring dibawah telapak kakimu, meski engkau berada dimenara gading, tetapi suara mereka dapat menembus angkuhnya tembok istanamu. Jeritan mereka mampu memenuhi alam tidur mu, merusak mimpi-mimpi indahmu yang senantiasa mendatangi malam-malammu. Jangan kau gadai akhiratmu, dengan mimpi dunia yang membutakan mata. Sebab pemimpin sepertimu, sama seperti yang lain, akan dimintai tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, termasuk anjing kurus yang mati kelaparan ditengah jalan karena kelalaian penguasa negerinya. Semoga engkau menemukan kembali empati itu.

Tuesday, September 15, 2009

Innalillahi wainna ilahi rojiun....Azab yang sengaja di undang.

Miris sekali melihat perkembangan pemberantasan korupsi dinegeri ini, keadilan dan nurani dikangkangi oleh gengsi dan balas dendam. Para pencuri dibela, para penegak hukum dipidana. Sungguh bangsa ini sedang mengundang azab untuk datang memporakporandakan negeri ini.

Adalah para petugas KPK yang notabene melaksanakan kewenangannya sebagai penegak hukum malah dijadikan tersangka oleh polisi, pasal yang dikenakannya pun tidak ada hubungannya dengan suap, mencuri, korupsi dan perbuatan bejat lainnya. Sang petugas, Chandra dan Bibit dijadikan tersangka lantaran dianggap melanggar pasal 23 UU No 31/1999 jo pasal 421 KUHP jo pasal 15 UU 20/2001 tentang Tipikor.
Mereka diduga menyalahgunakan wewenang atau sewenang-wenang memakai kekuasaannya memaksa orang untuk membuat, tidak berbuat atau membiarkan barang sesuatu atas penetapan keputusan bepergian ke luar negeri atas nama Joko Chandra dan penetapan keputusan pelarangan berpergian ke luar negeri atas nama Anggoro Widjaja.

Bagi para ahli hukum, hal ini sangat aneh dan menimbulkan geram, apalagi saya yang awam, yang hanya bisa melihat dari apa yang telah mereka lakukan hanyalan sebatas menjalankan undang-undang, tanpa sedikitpun terlibat oleh kasus penyuapan.

Harapan kepada para polisi sang “buaya” sebagai hamba hukum terdepan dalam menegakan supremasi hukum kembali sirna, luruh seiring luruhnya kepercayaan yang mereka pertontonkan dalam bualan-bualan di media massa. Harapan kepada kejaksaan sang “godzila” pun telah musnah sejak dulu kala sejak sang pendekar gedung bundar, Urip sang pendusta dan penginjak martabat adigung terbukti melakukan perbuatan tercela. Lebih-lebih, para begawan digedung bundar itu seperti pembawa virus bagi lembaga lainnya.
Seorang Antasari yang alumni gedung itu, kini menjadi perusak lembaga kepercayaan masyarakat satu-satunya dalam memberantas korupsi. Testimoninya seperti pepatah jawa, rawa-rawa rantas, malang-malang putung. Kalau hancur, hancurlah sekalian. Ia hantam dan fitnah koleganya di KPK. Sepertinya ia tidak ingin membusuk sendirian disana. Terpilihnya Antasari ;dengan rekam jejak yang kurang baik; sebagai anggota dan ketua KPK seperti membawa bencana dan cobaan berat bagi KPK. Sepertinya para anggota dewan yang memilihnya sudah merancang jauh-jauh hari untuk menghancurkan KPK, dengan menempatkan alumni gedung bundar, Antasari sebagai jajaran pimpinan KPK, yang sudah jauh-jauh hari banyak orang yang menolak dan meragukan kapabilitasnya, kini semua keraguan itu seperti terbukti didepan mata.

Para wakil rakyatpun setali tiga uang, malah bersemangat menelanjangi fungsi dan lembaga pemberantas korupsi itu dengan menghilangkan taring penuntutan yang justru disitulah letak ketajaman KPK. Logika sederhana, jika tidak bisa menuntut, untuk apa KPK berdiri, dan KPK berdiri bukankah karena keadaan yang memaksa karena polisi dan kejaksaan telah mandul. Jika penuntutan dikembalikan ke kejaksaan bukankah malah tuntutan itu bisa dimain-mainkan dengan SP3; yang selama ini tidak dikenal di KPK; karena sekali saja seorang menjadi tersangka maka KPK akan terus menuntut sampai keputusan pengadilan di ketok hakim. Korupsi adalah Extraordinary Crime, kejahatan luar biasa yang mampu menghancurkan sendi-sendi bangsa, ia lebih kejam dari terorisme bahkan lebih busuk dari terorisme itu sendiri. Teroris hanya menghancurkan target mereka dengan jelas dan korbannya pun jelas, tetapi korupsi menghancurkan tulang punggung bangsa, merampas hak anak-anak yatim, merebut rezeki orang miskin dan menghancurkan ekonomi rakyat kecil. Sungguh besar dampak kejahatan yang ditimbulkan dari korupsi.

Ketika para wakil rakyat yang telah kehilangan nurani itu bersemangat membonsai fungsi KPK, sang pemimpin negeri ini juga terlihat tampak lugu dan pura-pura tidak tahu, Ia yang peragu, malah membiarkan kejahatan terjadi didepan matanya. Ia membiarkan semua itu karena tak paham, atau sengaja lari dari tanggung jawab. Bukankah sebagai pemimpin seharusnya ia bicara tegas, cukuplah jaminan dari dirinya bahwa ia akan terus mendukung upaya pemberantasan korupsi dengan memberikan support kepada lembaga pemberantas korupsi yang telah dijualnya dalam kampanye politik sehingga mengangkatnya kembali menjadi presiden pada periode kedua. Tapi tidak, ia tidak memberikan support, ia mendiamkan itu semua dengan dalih bukan wewenang seorang presiden.

Jujur saja saya sebagai rakyat merasa ngeri dengan azab yang akan turun berikutnya bagi bangsa ini ketika pemimpin tidak lagi bisa melindungi rakyatnya, ketika pemimpin terlihat zalim ;meski ia tidak merasa melakukan kezaliman karena empatinya telah hilang. Takutlah akan doa para orang yang teraniaya, yang tiada jarak antara doanya dengan Allah. Takutlah akan doa para hamba yang berdoa karena melihat ketidak adilan telah meraja lela di bumi Indonesia. Doa itu mungkin bukan hanya datang dari petugas KPK yg saat ini diposisi teraniaya, tetapi dari kita, rakyat Indonesia yang tergerak hatinya, yang gusar hatinya melihat kemungkaran terjadi kasatmata didepan mata. Ketika doa-doa orang teraniaya mengalir dalam tangisan mereka, ketika tengadah tangan terjulur dari hamba-hamba yang lemah, dari rakyat-rakyat yang tak berdaya maka tiadalah yang akan datang kecuali azab yang akan turun kepada para pemimpin dan wakil rakyat, seperti turunnya azab kepada namrud, atau turunnya azab pada firaun,

Naudzubilah midzalik. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.

Sunday, May 03, 2009

Antasari dan Aksi Penegak Hukum dalam Film Holywood



Dunia penegakan korupsi di Indonesia saat ini heboh luar biasa setelah salah seorang penting dinegeri ini, pangeran penegak anti korupsi, pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung via Mabes Polri atas tuduhan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain, seorang direktur sebuah BUMN, PT Putera Rajawali Banjaran.

Sosok Antasari yang dikenal tegas, berani tanpa pandang bulu dinilai berhasil membuat gigi KPK menjadi sangat tajam di mata publik. Prestasi terakhir KPK di bawah komando Antasari yang dianggap paling sukses adalah ketika membongkar skandal di Bank Indonesia yang menyeret besan Presidan SBY, Aulia Pohan kedalam penjara.

Seperti sebuah pertunjukan drama antiklimaks yang terpaksa dihentikan karena pemeran utama dinyatakan tidak bisa melanjutkan perannya, Antasari bagaikan meluncur dari puncak roller coaster dengan kecepatan sangat tinggi, sesaat setelah ia mencapai ketinggian puncaknya. Motif yang menjeratnya juga membuat publik hampir tak percaya yakni “Perebutan (baca perselingkuhan dengan - red) seorang wanita” (http://www.detiknews.com/read/2009/05/04/121857/1125828/10/pembunuhan-nasrudin-berawal-dari-perselingkuhan-di-kamar-808-grand-mahakam). Karena kasus itu, sang pendekar hukum pun tersandung kedalam jerat hukum pidana dengan delik pembunuhan berencana dengan hukuman maksimal adalah hukuman MATI, sungguh ironis.

Belum lama berselang, Antasari berhasil membuat KPK bersinar terang karena mampu membawa para koruptor mendekam dalam jeruji besi. Jaksa Urip, beberapa anggota DPR, mantan dubes, mantan Kapolri dan beberapa orang penting yg pada zaman Suharto seperti sulit tersentuh hukum kini menjadi para pesakitan. Dibawah Antasari pula publik mulai percaya bahwa KPK bukan merupakan kepanjangan tangan pemerintah, tetapi merupakan lembaga independen dan merupakan institusi terakhir harapan masyarakat bagi keadilan hukum untuk para pencuri dan perampok uang negara.

Turunnya Moralitas; Perselingkuhan dianggap biasa dan menjadi wilayah private.

Tapi kini publik seakan tak percaya, status moralitas para penegak hukum mulai diragukan, atau mungkin malah hilang sama sekali. Ada dua hal yang dapat dicatat dalam kasus ini, pertama, jika Antasari dinyatakan bersalah, maka negeri ini harus mempunyai aturan baru tentang moralitas. Jenis moralitas yang harus ditegakkan adalah jenis moralitas budaya timur, yang tidak terlepas terhadap tiga paramater yang mengikutinya, yakni moralitas akan harta, tahta dan wanita dalam artian 1. bermoral thd harta dimana tidak melakukan korupsi, 2. bermoral thd kekuasaan dimana tidak berkonspirasi untuk merebut kekuasaan, dan 3. bermoral thd wanita dalam pengertian tidak berselingkuh dan berzina terhadap wanita. Bukan jenis moralitas yang dipertontokan para penegak hukum dalam film-film Holywood, dimana mereka digambarkan suci dari dosa korupsi dan konspirasi (bermoral-red), tetapi selalu bermain cinta dengan wanita yg bukan istrinya sebelum melakukan aksinya. Atau seperti agen rahasia 007, James Bond, yang dianggap bermoral tinggi terhadap harta dan kekuasaan tetapi gemar meniduri banyak wanita.

Kedua, kalaupun Antasari divonis tidak bersalah, maka tetap menjadi keharusan dalam penilaian dalam Fit & Proper Test untuk setiap pejabat publik, bahkan mungkin untuk calon anggota DPR dan DPD di negeri ini, di sarankan untuk menambah satu kriteria lain yakni moralitas/kesusilaan/akhlak mulia, tidak hanya menilai sisi integritas dan kapabilitas saja, karena apapun jabatannya, atau apapun posisi mereka, sisi moralitas tetap harus diutamakan sebagai penilaian bahwa seseorang pejabat itu pantas menduduki jabatannya karena mempunyai kecakapan dan kemampuan serta mempunyai ketinggian akhlak. Indonesia bukanlah Amerika, dan Amerika bukanlah Indonesia, kita tidak bisa memaksakan standar moral bangsa Amerika Serikat untuk moral bangsa Indonesia. Clinton mungkin boleh lepas dari skandal dengan Monica Lewinski, tetapi Antasari, jika terbukti bersalah, atau siapapun pemimpin atau pejabat yang berselingkuh atau mempunyai dosa susila, tetaplah bukan merupakan pemimpin yang baik. Mereka adalah para pecundang. Jangan lagi kasus-kasus susila dianggap sebagai masalah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan integritas seseorang. Jangan lagi akhlak dianggap sebagai wilayah private, karena perbuatan selingkuh/zina adalah merupakan perbuatan kotor yang paling tinggi, sekali manusia berani melompatinya, maka manusia akan menganggap remeh perbuatan-perbuatan kotor lainnya seperti korupsi , konspirasi, bahkan menghilangkan nyawa manusia sekalipun. Semoga para pemimpin yang masih mempunyai hati nurani dan akhlak mulia mampu merubah persepsi bangsa ini, menuju bangsa yang maju, beradab dan berakhlak mulia. Amin.

Thursday, March 05, 2009

PLEDOI

Mengamati puisi/syair pledoi tersangka kasus korupsi pengadaan kapal patroli departemen perhubungan, Bulyan Royan, yang berjudul “Aku Ketakutan” pada sidang tipikor hari rabu (4/3 2009 ) Bulyan menyebut nama tuhan sebanyak 23 kali. Dalam syair yang dibacakan oleh pengacaranya itu, Bulyan berharap agar jika ia bersalah maka hukumlah dengan hukum dinegeri ini, jangan dihukum karena politis atau kekuasaan semata, tidak pula karena kebanggaan sang penguasa. Ia juga menyebutkan kronologis penangkapan dirinya di plaza senayan, sesudah mengambil uang di ATM. Menurut Bulyan menjadi anggota DPR mengubah dirinya dari pebisnis menjadi politikus. “Sejujurnya saya ungkapkan terjadinya perkara ini disebabkan hal-hal yang sebenarnya dalam dunia bisnis sah-sah saja menerima sesuatu dari seorang pengusaha ke pengusaha lain yang mereka merasa kita ikut membantu dalam usaha mereka” tuturnya. (Kompas Kamis (5/3 2009). Ia mengakui, kekhilafan itu terjadi karena dirinya sama sekali tidak tahu jika perbuatan itu bertentangan dengan perundangan.

Amboi.. begitu mudahnya manusia membolak-balikan kata dengan perasaan innocent di depan pengadilan manusia. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud melakukan prejudge terhadap Bulyan, biarlah pengadilan yang akan menentukan apakah beliau bersalah atau tidak. Yang menarik disini adalah seolah-olah bulyan menyatakan bahwa beliau “Melakukan tindakan korupsi tetapi tidak tahu kalau hal itu adalah perbuatan korupsi” sama seperti perkataan anak kecil, mengambil barang orang lain tapi tidak mengetahui kalau itu adalah mencuri. Bagaimana orang sekaliber Bulyan, anggota dewan terhormat pula tidak mengetahui perbedaan antara mencuri dengan tidak mencuri.

Dalam satu kisah pernah sahabat menanyakan kepada nabi tentang hukumnya seorang pegawai menerima hadiah, dimana pada suatu masa pernah seorang petugas pengumpul zakat berkata kepada temannya, “ini adalah bagian zakat untuk negara, dan ini adalah bagianku sebagai hadiah untukku”. Nabi dengan tegas menjawab, “cobalah manusia itu duduk-duduk saja dirumah bersama bapak dan ibunya, apakah akan mendapatkan hadiahnya atau tidak”, dengan kata lain nabi mengharamkan para pegawai menerima hadiah karena sudah pasti hadiah itu datang karena berhubungan dengan pekerjaannya.

Mengenai hadiah saja nabi sudah begitu tegas mengharamkannya, bagaimana dengan suap, pelicin, komisi yang sudah pasti bertujuan untuk melancarkan transaksi bisnis, apatah lagi uang yang digunakan adalah uang bukan milik sendiri atau uang bukan milik perusahaan sendiri tetapi uang milik negara. Dengan kata lain untuk urusan bisnis saja diharamkan, apalagi urusan negara. Apakah Bulyan tidak tahu, apa yang di anggap lumrah dalam bisnisnya selama ini adalah sesuatu yang haram.
Sebenarnya simple saja menyatakan sesuatu itu haram atau tidak, tanyakan saja pada hidayah yang sudah terinstall dalam diri kita yakni hati nurani apakah itu termasuk komisi, pelicin, suap, sogokan atau bukan. Tanyakan pula apakah berhubungan dengan sesuatu yang kita lakukan dalam pekerjaan kita atau bukan, jika bukan, ya mudah-mudahan itu adalah rezeki yang turun dari langit karena sikap wala wal baro (loyalitas dan antiloyalitas) kita dalam memegang teguh agama ini. Loyal terhadap kebenaran dan antiloyal/menentang terhadap segala jenis kemungkaran.

Sekarang Pak Bulyan mungkin hanya bisa menangis.. dan itu lebih baik.. menyesal sekarang lebih utama dari pada menyesal dipengadilan akhirat nanti.. kami doakan semoga beliau tabah menerima ujian ini dan taubatnya diterima allah sebagai sebenar-benarnya taubat sehingga kita dapat menjadikannya ibroh/pelajaran dari kasus yang menimpa beliau. Pledoi di persidangan dunia masih bisa dimanipulasi, tetapi bagaimana dengan persidangan akhirat...??? Wallahu’alam bisshowab

Jogjakarta 6 Maret 2009, Alfaqir Ilallah