Friday, October 09, 2009

Bandar Jakarte



"Cintaku pada kampung halaman seperti cinta sang nabi pada negeri mekah tempat kelahiran

Meski kusam dan berubah dalam wajah, ia tetaplah bumi pertiwi
Tempat bocah-bocah kecil menggayut dalam kehangatan
Tempat rindu-rindu masa kecil mesra tertanam
Mengingatmu seperti mengingat kekasih pujaan
Merenungimu seperti kembali kemasa silam
Dalam bulir-bulir sejarah yang terlepas
Dalam benih-benih mimpi yang mencengkram malam
Yang tetap kau kejar hingga saat ini
Dalam khayalmu dulu di tempat ini."

Kemanggisan Palmerah dulu dan sekarang

Kemanggisan Palmerah, sebuah distrik ditengah kota Jakarta yang kalo kita zoom out dari google earth terletak di sebelah barat daya (arah jam 8) dari monas, berbatasan dengan Petamburan di timur, Kebayoran lama di selatan, Kebon jeruk di barat dan Tanjung duren di utara. Sebelum pemekaran wilayah, Kemanggisan Palmerah masuk dalam wilayah kecamatan Grogol petamburan, tetapi kini menjadi kecamatan sendiri dengan beberapa kelurahan termasuk kelurahan Palmerah dan kelurahan Kemanggisan sendiri.

Lapangan Cina (Lapangan Sibun) dan kampus Binus

Dulu semasa tahun enam puluh sampai tujuh puluhan, wilayah kemanggisan/palmerah masih merupakan hutan dan sawah. Listrik pun baru masuk kesana sekitar tahun tujuh puluhan, bahkan rumah orang tua saya baru memasang listrik sekitar tahun delapan puluhan. Menurut cerita orang tua saya, dulu jarak antar rumah masih sangat berjauhan. Sepanjang jalan KH Sya’dan, tempat tinggal orang tua saya hanya beberapa gelintir tetangga saja yang tinggal di jalan itu. Dari ujung jalan di depan kompleks Mandala, hingga ke pertigaan jalan H. Taisir, semua tetangga saling mengenal. Bahkan nama jalan KH.Syahdan diambil dari ulama terkenal di seantero Kemanggisan Palmerah.
Kampus Binus Syahdan dulunya adalah sebuah lapangan yang bernama lapangan cina atawe lapangan Sibun ; menurut kisah yang diceritakan oleh paman saya; nama lapangan cina itu karena pemiliknya memang seorang cina yang tinggal dekat pasar Palmerah; Koh Sibun namanya, yang membelinya dari penduduk pribumi dengan menukarkan dengan sebuah oplet sekitar tahun enam puluhan. Kemudian tanah itu dibeli oleh pemilik binus dan dijadikan kampus pada tahun 1985.
Lapangan cina dulunya adalah sebuah resapan air dengan kebun-kebun singkong yang bertebaran. Letak tanahnya yang melengkung membuat air hujan selalu mengalir ketempat itu, hingga kalau musim hujan lapangan itu menjadi semacam danau kecil yang asyik untuk dieksplorasi oleh anak-anak kecil termasuk saya. Bagaimana tidak, letak lapangan itu persis disamping rumah orangtua saya, sehingga saya ingat betul bagaimana lapangan itu menjadi saksi berbagai macam peristiwa yang singgah ditempat itu.
Lapangan itu pernah menjadi tempat pertandingan sepakbola antar kampung, arena tujuh belasan, sebagai tempat penjual obat keliling, atraksi debus, pasar malam, posko partai persatuan pembangunan waktu kampanye di era ORBA, tempat olahraga aeromodeling, kandang kuda, kandang kerbau, lapangan bermain layang-layang raksasa, layang-layang kaleng krupuk, dan yang paling favorit bagi saya ketika itu adalah lapangan itu pernah menjadi bioskop misbar(gerimis bubar) alias layar tancap yang ditayangkan semalam suntuk.
Kalau dibulan Ramadhan, tempat itu menjadi ajang lomba bikin bleduran alias meriam tomong (meriam dari bamboo dengan bahan bakar minyak tanah yang dipanaskan) yang suaranya sangat menggelegar bagai perang betulan. Juga tempat menerbangkan “tuyul-tuyulan” yakni istilah untuk selembar koran dilipat mengembung dengan kait dari potongan lidi, kemudian dibakar secara serempak dimasing-masing sudut, sehingga udara panas yang terjadi mampu mengangkat Koran yang terbakar itu menjadi sebuah balon udara, lebih tepatnya balon api yang mampu membumbung tinggi ke angkasa.

Tempat Kenangan

Selain lapangan cina, ada beberapa tempat yang sangat bekesan dihati saya ketika saya kecil. Tempat pertama adalah Mushola Baitul Makmur yang terletak disebelah gedung Binus Center (WRI), tempat kami kecil berkumpul dan merayakan hangatnya ramadhan dimasa-masa kecil kami. Lalu ada mushola Darussalam yang kini berubah menjadi Mesjid Darussalam (orang kampung menyebutnya mesjid aji tado; sesuai dengan nama pewakaf tanah yakni alm H. Murtado). Mesjid ini terletak persis didepan kampus Binus Syahdan yang kalo hari jum’at terpaksa menutup jalan Syahdan untuk tempat sholat karena jamaah membeludak, untunglah ijin dari kapolsek Palmerah telah turun sejak lama guna memakai jalan umum untuk kepentingan masyarakat itu.
Dan tempat hangout yang paling asik saat saya kecil adalah kebun cakra yang terletak diseberang jalan Kebon jeruk (Binus anggrek sekarang). Konon kebun cakra dulunya adalah tanah milik satuan elit resimen cakrabirawa, pasukan yang pernah terlibat dalam peristiwa G30S empat puluh empat tahun silam. Di kebun seluas sekitar 10 hektar itu terdapat ruang yang sangat asri dimana didalamnya ada taman, hutan, rawa dan lapangan sepak bola. Pohon kelapa berjejer disepanjang jalannya. di sebelah utara, terletak gedung tua peninggalan Belanda yang pernah menjadi tempat syuting acara penampakan distasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Di tempat ini, banyak anak muda yang menjadikan kebun cakra sebagai tempat rekreasi sekaligus memadu asmara. Tempat itu juga dipakai sebagai lokasi “outbond” anak-anak kampung karena sering dijadikan tempat meluncur menggunakan pelepah kelapa yang telah kering, juga sebagai tempat latihan berenang di rawa yang banyak eceng gondoknya dan juga tempat berlatih para atlit sepak bola antar kampung. Saat ini kebun cakra telah banyak berubah, ia telah menjadi beberapa ikon, seperti kampus binus anggrek di selatan dan perumahan elit casagoya kebun jeruk di sebelah utara. Tinggal beberapa ribu meter saja tanah kebun cakra itu yang entah sekarang menjadi milik siapa.

Kemanggisan palmerah kini sudah tidak lagi menjadi kampung yang asri, ia telah berubah menjadi pecinan padat, seiring dengan hadirnya kampus Binus dan banyaknya penduduk asli menjual tanah mereka kepada para cukong yang menjadikan daerah itu pusat bisnis mereka. Komplek sandang pun; sebuah komplek diselatan Binus; yang dulu indah dan asri, satu persatu telah beralih kepemilikan menjadi rumah-rumah besar berlantai empat. Bahkan lokasi yang dulu bernama rawa kapitan alias sawah, tempat beberapa sekolah dasar negeri dan smk negeri berada, terdapat sebuah apartemen besar dan mewah yang menjulang tinggi, menutupi rumah-rumah dinas para guru sd negeri ditempat itu.

Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang sering menjadi tempat rekreasi anak-anak pada masa itu. Salah satunya adalah daerah yang disebut rawa, lokasi di belakang bekas pabrik ubin batusari yang kini menjadi tanah kosong. Di rawa itu, kami anak-anak kecil sering berenang dan bermain-main disana, acara memancing menjadi sebuah kesenangan tersendiri,apalagi dimusim hujan, saat ikan-ikan dikolam milik alm H.M. Daud melompat masuk ke rawa karena kelebihan air. Yang paling mengasyikan adalah menangkap ikan dengan menggunakan petasan jangwe (mercon yang berbentuk roket dengan sebatang lidi sebagai penyangganya). Dengan modal sebatang paralon yang ujungnya ditenggelamkan ke dalam air sebagai peluncur, kami mengebom dasar rawa dengan petasan itu. Blaaar air memucrat tinggi seperti ledakan torpedo, sejurus kemudian banyak ikan-ikan mati mengenaskan tewas mengambang terkena ledakan torpedo itu, sungguh sebuah rekreasi yang murah meriah dan menyenangkan meskipun kami khawatir takut dimarahi orangtua karena perbuatan itu.
Tempat lain adalah lokasi yang dulu disebut “lobang” yang kini menjadi kantor kecamatan Palmerah. Disebut lobang karena tempat itu seperti jurang yang menganga akibat penggalian tanah yang sangat massif. Ketika hujan turun tempat itu menjadi danau yang sangat dalam dan menyeramkan.

ALCAS, PAKEM, KEMRAY, RABEL, dan GS

Dulu sekitar tahun delapan puluhan ketika pertandingan sepak bola masih ramai, dan PSSI masih menjadi kebanggaan anak bangsa, para anak muda didaerah kami banyak membentuk klub sepakbola, meski lebih pantas kalau dikatakan itu adalah kelompok atau geng anak muda yang memiliki kesamaan wilayah dan menamakan klub mereka dengan nama wilayahnya. Saya sebagai anak kecil sangat bangga grup kami waktu itu, yakni ALCAS, singkatan dari Anak Lapangan Cina Asli, meski kadang diejek dengan singkatan Anak Luntang-lantung cari sandal. Kemudian ada PAKEM: Persatuan Anak Kemanggisan. KEMRAY:anak Kemanggisan Raya, RABEL: Anak Rawa Belong, dan GS:Garuda Sakti.
Tidak jarang mereka saling bentrok dan ribut jika bertemu dijalan, meskipun keributan itu terjadi diluar kompetisi sepak bola. Tetap saja jika saling ketemu maka mereka akan saling ejek dan berkelahi sampe benjol-benjol.

Ketika terjadi demam BMX, sepeda roda dua dengan model ala mountain bike, hampir seluruh anak-anak demam akan sepeda itu, kemudian muncul sepeda modifikasi, dengan model yang aneh-aneh dan menggelikan. Ada yang jok dan stangnya tinggi menjulang, ada yang bingkainya panjang hingga empat meter, ada yang berbentuk mobil, ada juga yang berbentuk sepeda sirkus dan sebagainya. Saat musim sepeda modif itu terjadi musibah bagi kakak sepupu saya, Andri, ia meninggal terkena stroom saat memodifikasi sepedanya. Ia tewas ketika memegang bor listrik yang kabelnya basah terkena air dari kamar mandi.
Setelah musim sepeda, kemudian muncul musim breakdance, alias tari patah-patah. Banyak anak-anak ABG latah berpenampilan seperti rapper. Kemana-mana bawa minicompo di panggul, tidak lupa bawa tikar, rantang berisi nasi dan termos berisi air panas, sekalian lalapan dan sambel goreng hehehe, emang mau piknik.
Dalam tari breakdance itu, para ABG kadang sering mengadu keahlian tari patah-patah, kelompok demi kelompok menunjukan kebolehannya, ada gaya kelabang, ada gaya gangsing, ada gaya moonwalknya Michael Jackson, ada pula gaya ular keket dan capung terbang, gaya dewa mabuk dan gaya monyet mencuri timun mungkin juga ada kale. Pokoke semua gaya yang bisa dianggap top dah. Resiko dari tari patah-patah memang berbahaya, bahkan konon ada anak muda yang mati mengenaskan gara-gara lehernya patah memperagakan gaya gasing memutar bumi, karena ia berputar dengan kepala dibawah dan kaki diatas dengan gerakan cepat sekali.

Balada Layar Tancap

Meskipun saat itu saluran TV hanya semata wayang alias TVRI doang, tapi anak-anak tak pernah kehilangan hiburan, sebab, dibalik pohon-pohon rimbun, di tengah-tengah lapang ada cukong-cukong layar tancap yang siap dipanggil dalam setiap acara hajatan. Film yg diputar bahkan tidak hanya satu atau dua film, tapi tidak tanggung-tanggung sampai pagi alias semalam suntuk. Biasanya film berakhir menjelang subuh. Dan film favorit yang sering diputar saat itu adalah Dono Kasino Indro dengan Warkop DKI, Rhoma irama dengan Soneta nya, Bary Prima dengan jaka sembungnya, George Rudy (baca Gaga Rudi) dengan film actionnya, Eva Arnaz dengan bodi botohnya dan terakhir suzzana dengan sundel bolongnya, iiiiiiiihhhhhh atuut. Yang disebut terakhir seringnya diputar pas tengah malam, saat anak-anak harus pulang karena tidak boleh nonton sampai pagi.
Ada cerita lucu yang pernah diceritakan oleh abang saya ketika baru pulang nonton layar tancap bersama kawan-kawannya. Saat itu para ABG yg terdiri dari abang saya, bang Deden (ape khabar bang), bang Mali, bang Burhan alias buang beserta tokoh kita bang Iim alias Ibrohim pulang dari nonton layar tancap. Kebetulan saat itu posisi rumah bang iim lebih dulu sampai ketimbang yang lainnya. Jadi ketika sampai didepan rumahnya, dia langsung pamit kepada temannya dan segera mengetuk pintu dengan ramah. Tok tok tok, Enyak..enyak.., buka pintu ini Iim. “Im, kita tungguin ye sampe enyak lu ngebukain pintu, kata abang saya”. Enggak usah, gue berani sendirian, elu kalo pada mau pulang, pulang aje gih” Yg bener nih… Tanya yg lain, “bener, giih gue gak ape-ape”. “Ya udah kalo gitu kita tinggal ya… Yuuk bleh kita cabut”. Sementara itu Bang Iim tetap mengetuk pintu rumahnya, dengan perlahan, tok-tok-tok, enyak, enyak, ini Iim nyak. Ekor mata bang Iim masih menangkap sosok teman-temannya yang terlihat mulai menjauh, kemudia dengan sabar ia memanggil-manggil enyaknya untuk membukakan pintu. Enyak, enyak, buka pintu nyak, ini iim. Suara-suara canda temannya masih terdengar meski sayup-sayup. Tok tok tok, enyak ini Iim, bukain pintu. Hampir sepuluh menit bang Iim mengetok pintu, hingga ia belum menyadari bahwa disekelilingnya telah sepi dan terus saja ia memanggil enyaknya dengan nada rendah, enyak….enyak…enyak…tiba-tiba ia mengeraskan suaranya ENYAAKKKKKKK…..ENYAKKKKKKK ….ENYAAAKKKKKK Bang Iiim teriak sekeras mungkin sambil mengedor pintu saking takutnya karena menyadari bahwa teman-temannya telah jauh dan tidak mungkin mendengar teriakannya. Tiba-tiba dari belakang rumahnya terdengar suara HUAHAHAHAHAHA Bang Iim kaget luar biasa. Ternyata itu suara teman-temannya yang tertawa terpingkal-pingkal melihat Iim ketakutan luar biasa, mukanya pucat pasi akibat ditinggal sendirian. Mereka sengaja bersembunyi untuk mengerjain Bang Iim yang terkenal penakut tapi gengsian…hahahaha. Kacian deh lu.

Kemanggisan atawa Palmerah kini sudah tidak semeriah dulu, ia kini sudah berubah menjadi bagian kota besar yang individual serta materialistis. Ikatan sosial antar tetangga sudah mulai berkurang, karena antar tetangga kini sudah tidak saling mengenal. Penduduk sudah didominasi oleh pendatang dan kaum pencari kerja serta mahasiswa. Keramahan dan kemurahan senyum saat bertegur sapa telah menghilang, kecuali hanya beberapa penduduk yang masih saling mengenal. Terakhir ketika saya bersilaturahmi kerumah paman saya, beliau bercerita bahwa kemanggisan sekarang sudah asing baginya, ia seperti tinggal didaerah yang tidak ia kenal. Para sahabatnya sudah meninggal, termasuk bapak saya yang menjadi kakaknya. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun orang yang dikenalnya.

Pesatnya pembangunan diwilayah ini, seakan mampu mengusir jiwa-jiwa yang dulu pernah singgah di kampung ini, karena alasan ekonomi, semua harus terjual dan berganti kepemilikan. Budaya ramah dan tegur sapa menghilang, seiring pemodal-pemodal besar mencengkeram sudut-sudur kampung. Celoteh-celoteh dan riang bocah tergerus oleh laju dan bising kendaraan, suara-suara ayat suci yang biasanya mengalun merdu selepas maghrib kini menghilang bergantikan suara dentuman-dentuman speaker dari ratusan warnet yang tersebar menjamuri pojok-pojok kampung, Jalan-jalan dan gang-gang yang dulu sunyi selepas isya kini bagaikan tak pernah tidur. Suasana syahdu dan hangat menguap dalam hingarbingar nafas kota. Dan kini para pribumi seakan pasrah akan takdir kehidupan. Tak bisa melawan dalam kenestapaan, kecuali segelintir jiwa yang diberi kurnia lebih yang tetap terjaga mempertahankan kampung halaman, dalam doa-doa lirih yang terdengar seperti gumam, entah sampai kapan bersulam kenangan, hingga anak cucu yang menjadi harapan, tuk bertanya pada pagar halaman, masih kuatkah engkau bertahan?

In the middle of the night.

Monday, September 28, 2009

Empati yang hilang(tumpul) jilid dua

Mengamati perkembangan pemberantasan korupsi (baca perseteruan cicak vs buaya; KPK vs Polri) setelah dua minggu pasca penetapan tersangka pimpinan KPK, Chandra dan Bibit semakin terlihat aneh saja.
Aroma bau tidak sedap bahwa perseteruan itu melibatkan dendam pribadi kabareskrim SD; seperti kata bang Buyung Nasution sangatlah kental, Ia yang merasa tersinggung karena disadap oleh KPK dan lantas marah dengan mengungkapkan istilah mana berani cicak (KPK) melawan Buaya (Polri) mulai menyusun strategi demi melemahkan KPK. Sang jenderal pun (BHD) seperti melindungi kepentingan pribadi anak buahnya. Ia malah menuduh didepan publik tentang suap yang dilakukan oleh Antasari untuk menyuruh Ary memberikan uang kepada Chandra. Tuduhan ini lantas dibantah oleh Antasari, Ary dan Chandra. Melihat bantahan itu, publikpun melihat bahwa polri bekerja sangat tidak profesional, bukti-bukti belum kuat, tuduhan belum nyata malah membuat statement yang bisa berujung fitnah, adagium lama jaman orba seperti terulang kembali, polri bekerja dengan metode yang penting tangkap dulu, bukti bisa dibuat dan dicari belakangan, innalillahi.

Sekali lagi saya heran dengan pemimpin dinegeri ini, beda dengan wakilnya yang mampu berkomentar dan memberikan sedikit pencerahan kepada publik, ia selalu diam seribu bahasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, dibawah sana, anak buahnya sedang bertarung, rakyatnya sedang bertikai dan para pencari keadilan sedang mengigil, bersimpuh bermunajat dan berdoa kepada tuhannya, semoga keadilan bisa tegak di bumi Indonesia.
Kemana empati mu pergi wahai sang pemimpin, kemana rasa dan nuranimu menghilang wahai sang raja. Belum tuntas dugaan pelanggaran wewenang, malah kau menerbitkan perppu yang bisa berujung fitnah, yang membenarkan bahwa dua orang itu adalah bersalah, padahal kasus belum tuntas, masalah belum clear, siapa yang benar dan siapa yang salah juga belum jelas. Mengapa engkau mengambil keputusan berpihak yang tergesa-gesa, yang ujung-ujungnya bisa menjadi tradisi bagi pemimpin berikutnya untuk melemahkan lembaga hukum jika menyangkut kepentingannya.

Saya sebagai rakyat biasa, tidak bisa melihat lebih dalam bagaimana isi hatimu wahai presiden, dibalik wajahmu yang tampan, dibalik tubuhmu yang tegap, dibalik senyummu yang berkharisma saya tidak bisa melihat sedalam apa nurani yang engkau punya, setajam apa empati yang engkau miliki dalam menyelesaikan masalah dengan prinsip keadilan.
Memang, engkau bukanlah nabi Sulaiman yang diberikan hikmah keadilan dalam setiap pemerintahannya, engkau juga bukan nabi Yusuf yang selalu dibimbing kebenaran dalam setiap kekuasaannya. Tapi engkau adalah manusia yang dengan takdirNYA telah terpilih menjadi pemimpin kami yang dengan itu pula Allah melebihkan engkau atas kami, dan yang paling berarti, engkau adalah seorang muslim yang lahir dan mati diperintahkan untuk menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.
Ketika engkau bingung, Tuhan akan memberikan hidayah kepadamu melalui nurani, tanyakan kepadanya, kemana kakimu harus berpijak, tanyakan dalam istikharah-istikharah mu, kemana gerahammu akan menggigit. Jangan dengarkan bisikan-bisikan manusia-manusia disekelilingmu yang mempunyai penyakit di dalam hatinya. Dengarkan saja suara rakyat yang terdengar nyaring dibawah telapak kakimu, meski engkau berada dimenara gading, tetapi suara mereka dapat menembus angkuhnya tembok istanamu. Jeritan mereka mampu memenuhi alam tidur mu, merusak mimpi-mimpi indahmu yang senantiasa mendatangi malam-malammu. Jangan kau gadai akhiratmu, dengan mimpi dunia yang membutakan mata. Sebab pemimpin sepertimu, sama seperti yang lain, akan dimintai tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, termasuk anjing kurus yang mati kelaparan ditengah jalan karena kelalaian penguasa negerinya. Semoga engkau menemukan kembali empati itu.

Tuesday, September 15, 2009

Innalillahi wainna ilahi rojiun....Azab yang sengaja di undang.

Miris sekali melihat perkembangan pemberantasan korupsi dinegeri ini, keadilan dan nurani dikangkangi oleh gengsi dan balas dendam. Para pencuri dibela, para penegak hukum dipidana. Sungguh bangsa ini sedang mengundang azab untuk datang memporakporandakan negeri ini.

Adalah para petugas KPK yang notabene melaksanakan kewenangannya sebagai penegak hukum malah dijadikan tersangka oleh polisi, pasal yang dikenakannya pun tidak ada hubungannya dengan suap, mencuri, korupsi dan perbuatan bejat lainnya. Sang petugas, Chandra dan Bibit dijadikan tersangka lantaran dianggap melanggar pasal 23 UU No 31/1999 jo pasal 421 KUHP jo pasal 15 UU 20/2001 tentang Tipikor.
Mereka diduga menyalahgunakan wewenang atau sewenang-wenang memakai kekuasaannya memaksa orang untuk membuat, tidak berbuat atau membiarkan barang sesuatu atas penetapan keputusan bepergian ke luar negeri atas nama Joko Chandra dan penetapan keputusan pelarangan berpergian ke luar negeri atas nama Anggoro Widjaja.

Bagi para ahli hukum, hal ini sangat aneh dan menimbulkan geram, apalagi saya yang awam, yang hanya bisa melihat dari apa yang telah mereka lakukan hanyalan sebatas menjalankan undang-undang, tanpa sedikitpun terlibat oleh kasus penyuapan.

Harapan kepada para polisi sang “buaya” sebagai hamba hukum terdepan dalam menegakan supremasi hukum kembali sirna, luruh seiring luruhnya kepercayaan yang mereka pertontonkan dalam bualan-bualan di media massa. Harapan kepada kejaksaan sang “godzila” pun telah musnah sejak dulu kala sejak sang pendekar gedung bundar, Urip sang pendusta dan penginjak martabat adigung terbukti melakukan perbuatan tercela. Lebih-lebih, para begawan digedung bundar itu seperti pembawa virus bagi lembaga lainnya.
Seorang Antasari yang alumni gedung itu, kini menjadi perusak lembaga kepercayaan masyarakat satu-satunya dalam memberantas korupsi. Testimoninya seperti pepatah jawa, rawa-rawa rantas, malang-malang putung. Kalau hancur, hancurlah sekalian. Ia hantam dan fitnah koleganya di KPK. Sepertinya ia tidak ingin membusuk sendirian disana. Terpilihnya Antasari ;dengan rekam jejak yang kurang baik; sebagai anggota dan ketua KPK seperti membawa bencana dan cobaan berat bagi KPK. Sepertinya para anggota dewan yang memilihnya sudah merancang jauh-jauh hari untuk menghancurkan KPK, dengan menempatkan alumni gedung bundar, Antasari sebagai jajaran pimpinan KPK, yang sudah jauh-jauh hari banyak orang yang menolak dan meragukan kapabilitasnya, kini semua keraguan itu seperti terbukti didepan mata.

Para wakil rakyatpun setali tiga uang, malah bersemangat menelanjangi fungsi dan lembaga pemberantas korupsi itu dengan menghilangkan taring penuntutan yang justru disitulah letak ketajaman KPK. Logika sederhana, jika tidak bisa menuntut, untuk apa KPK berdiri, dan KPK berdiri bukankah karena keadaan yang memaksa karena polisi dan kejaksaan telah mandul. Jika penuntutan dikembalikan ke kejaksaan bukankah malah tuntutan itu bisa dimain-mainkan dengan SP3; yang selama ini tidak dikenal di KPK; karena sekali saja seorang menjadi tersangka maka KPK akan terus menuntut sampai keputusan pengadilan di ketok hakim. Korupsi adalah Extraordinary Crime, kejahatan luar biasa yang mampu menghancurkan sendi-sendi bangsa, ia lebih kejam dari terorisme bahkan lebih busuk dari terorisme itu sendiri. Teroris hanya menghancurkan target mereka dengan jelas dan korbannya pun jelas, tetapi korupsi menghancurkan tulang punggung bangsa, merampas hak anak-anak yatim, merebut rezeki orang miskin dan menghancurkan ekonomi rakyat kecil. Sungguh besar dampak kejahatan yang ditimbulkan dari korupsi.

Ketika para wakil rakyat yang telah kehilangan nurani itu bersemangat membonsai fungsi KPK, sang pemimpin negeri ini juga terlihat tampak lugu dan pura-pura tidak tahu, Ia yang peragu, malah membiarkan kejahatan terjadi didepan matanya. Ia membiarkan semua itu karena tak paham, atau sengaja lari dari tanggung jawab. Bukankah sebagai pemimpin seharusnya ia bicara tegas, cukuplah jaminan dari dirinya bahwa ia akan terus mendukung upaya pemberantasan korupsi dengan memberikan support kepada lembaga pemberantas korupsi yang telah dijualnya dalam kampanye politik sehingga mengangkatnya kembali menjadi presiden pada periode kedua. Tapi tidak, ia tidak memberikan support, ia mendiamkan itu semua dengan dalih bukan wewenang seorang presiden.

Jujur saja saya sebagai rakyat merasa ngeri dengan azab yang akan turun berikutnya bagi bangsa ini ketika pemimpin tidak lagi bisa melindungi rakyatnya, ketika pemimpin terlihat zalim ;meski ia tidak merasa melakukan kezaliman karena empatinya telah hilang. Takutlah akan doa para orang yang teraniaya, yang tiada jarak antara doanya dengan Allah. Takutlah akan doa para hamba yang berdoa karena melihat ketidak adilan telah meraja lela di bumi Indonesia. Doa itu mungkin bukan hanya datang dari petugas KPK yg saat ini diposisi teraniaya, tetapi dari kita, rakyat Indonesia yang tergerak hatinya, yang gusar hatinya melihat kemungkaran terjadi kasatmata didepan mata. Ketika doa-doa orang teraniaya mengalir dalam tangisan mereka, ketika tengadah tangan terjulur dari hamba-hamba yang lemah, dari rakyat-rakyat yang tak berdaya maka tiadalah yang akan datang kecuali azab yang akan turun kepada para pemimpin dan wakil rakyat, seperti turunnya azab kepada namrud, atau turunnya azab pada firaun,

Naudzubilah midzalik. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.

Tuesday, September 08, 2009

Syahdu yang hilang

Dulu, sewaktu kecil, kita sangat senang beribadah dalam hangatnya suasana ramadhan, bercengkrama dengan teman-teman dan berceloteh dalam gaya khas anak-anak tentang nikmatnya bulan barokah itu.

Meski kita tahu, nikmatnya bulan ramadhan saat anak-anak hanya sebatas kesenangan berbuka, bercanda dan bersenda gurau serta bermain-main dalam syahdunya suasana bulan puasa itu. Bulan yang membekas dan berbeda dari bulan-bulan lainnya.
Sholat isya dan tarawih berjamaah, sholat subuh berjamaah, tadarusan dan seabrek aktifitas lainnya yang begitu nikmat di lalui tanpa beban dalam jiwa anak-anak.

Kini, ketika dewasa, seolah-olah ada kesyahduan yang menghilang dalam aktifitas ramadhan kita. Pekerjaan-pekerjaan orang dewasa yang mengharuskan kita untuk berjibaku demi mencari sesuap nasi untuk nafkah keluarga, mengharuskan kita terlempar dalam kesibukan kita sendiri. Bulan ramadhan berjalan terasa hambar, terasa seperti biasa seperti bulan-bulan lainnya seolah-olah kita hanya memindahkan waktu jam makan kita dari siang ke malam hari saja. Dan bulan ramadhan pun berlalu tanpa syahdu.

Kita tidak mengerti mengapa kesibukan dunia menyebabkan kita menjadi sulit untuk memahami bahwa ramadhan itu adalah sebuah rizki dari Allah kepada manusia. Rizki yang datang kepada semua orang tetapi tidak semua orang mau menerimanya.
Kita tahu, saat ramadhan adalah saat rahmat dan pengampunan Allah turun deras dari langit, tapi kita tidak tahu, mengapa kita tidak antusias melaksanakannya. Kita hanya antusias mengumpulkan bekal untuk hari raya, bukan bekal untuk hari kiamat. Kita hanya sibuk bekerja untuk hari kemenangan itu, tetapi kita tidak dapat memastikan apakah kita menang pada hari itu. Menang bagi kita adalah saat kita bisa tampil “perfect” pada hari raya dihadapan sanak saudara, handai taulan dan teman-teman. Begitukah?

Entah mengapa begitu sulit menghadirkan suasana ramadhan itu kedalam hati, dan mengapa lebih mudah menghadirkan suasana ramadhan dalam balutan hiburan di televisi. Seolah-olah televisilah yang paling bergembira atas hadirnya ramadhan.

Kita tidak tahu, mengapa ketika semakin dewasa, saat tanggung jawab sebagai kepala keluarga semakin membesar, saat keinginan-keinginan tentang masa depan dan hidup layak didalam lilitan harta dan kekayaan semakin mendera sanubari, keinginan dan tekad akan penghidupan yang lebih baik demi masa depan anak-anak, demi masa depan orang-orang yang kita sayangi semakin membuat rasa dan hangatnya ramadhan hilang seperti hilangnya pagi ditelan siang. Dimana kita bisa temukan syahdunya suasana itu seperti saat kita kecil?

Mungkin kita akan menemukan kembali saat-saat itu, ketika kita tidak lagi sibuk akan urusan dunia, ketika rambut mulai beruban, ketika kita dipaksa pensiun karena umur tak bisa berbohong, ketika produktifitas telah berkurang dan menghilang. Dengan kata lain ketika senja telah tiba, dan ketika renta telah menyapa.
Apakah kita harus menikmati indahnya ramadhan dengan menunggu saat renta itu?
Apakah kita bisa menikmati nikmatnya ibadah dalam kerentaan itu?
Dan siapakah yang menjamin kita bisa sampai pada masa renta itu?

Tuhan, kemanakah perginya ramadhan nan syahdu itu?

Tuesday, September 01, 2009

Bulan Ramadhan : Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh : K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala. Kini – di bulan ini – ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya. Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’ Shiyami
Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’l Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya: "Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?" Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang bertuhan’ telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…" (Qs. 2 :185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban ini? Mereka jadi pan-dai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa meni sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang po-hon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit?

Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur-an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur-an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh ma-nusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perin-tah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalna-hu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Ma-laikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, mu-nafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur-an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Alqur-an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur-an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alqur-an membentuk frame berfikir. Alqur-an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.
Betapa da’wah Alqur-an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur-annya. Bila me-nyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Mu-suh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di te-ngah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.
Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? "Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi" (Yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.
Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

o0o

Friday, July 31, 2009

Ketika dompet mulai kosong

Saya kira semua akan setuju bahwa pada suatu ketika seorang laki-laki atau seorang perempuan pernah mengalami tidak punya uang sama sekali. Padahal penghasilan yang didapat terbilang cukup untuk kehidupan selama sebulan. Beda dengan orang yang memang sehari-hari berpenghasilan pas-pasan, dimana dompet mereka memang senantiasa kosong.

Saya tidak membahas apakah sang pemilik dompet adalah orang kaya atau orang miskin, orang mampu atau orang tidak berpunya. Yang saya akan bahas disini adalah bagaimana dan apa yang dilakukan saat seseorang itu tidak punya uang sama sekali. Bagaimana iman yang akan menjaga mereka apakah benar-benar bekerja atau tidak.
Kondisi “tidak punya uang” menurut saya relatif, dimana untuk sebagian besar rakyat kecil kalau dibilang tidak punya uang memang benar-benar tidak punya uang. Ada sebagian menyatakan kalau didompet mereka hanya tinggal satu juta atau lima juta sudah menyatakan tidak punya uang sama sekali.
Disinilah yang membedakan dua golongan besar manusia. Cobaan tidak punya uang cukup ampuh untuk menunjukan kualitas iman seseorang.

Suatu ketika seorang teman pernah berkata, betapa sulit hidup dijaman sekarang ini, apa-apa serba mahal, berapapun gaji dan penghasilan yang saya miliki tidak akan cukup untuk menopang kehidupan selama sebulan. Saya katakan kepada kawan saya itu, memang sekarang semua serba mahal, dan sulit untuk bisa memenuhi kebutuhan yang semakin lama semakin banyak. Tapi coba kita ingat-ingat beberapa tahun lalu dan bandingkan dengan kondisi sekarang, tetap sama bukan, meskipun gaji semakin membesar, tetap saja penghasilan tidak cukup juga. Apa yang salah kalau begitu.
Saya bilang, dulu waktu gaji kecil, kebutuhan juga masih kecil, sekarang gaji besar, kebutuhan juga membesar. Malah bagi sebagian orang tak bisa membedakan mana kebutuhan dengan keinginan. Akhirnya sebelum akhir bulan tiba uang sudah habis sama sekali. Sebenarnya kondisi tidak punya uang itu seharusnya membuat manusia berfikir lebih jernih dan bijaksana. Seharusnya kita bisa berhemat, minimal melokalisir keinginan yang tidak perlu. Karena keinginan-keinginan yang tidak perlu itulah yang melahirkan kebutuhan besar.

Kebutuhan yang hadir secara wajar, mampu menjaga seorang manusia untuk tetap bersyukur atas rezeki dari Allah, meskipun saat itu mereka tidak punya uang sama sekali. Kondisi kebutuhan yang wajar pula yang menyebabkan hati bisa berfikir jernih dan menjauhi hal-hal yang subhat bahkan terlarang agama. Sebab mereka sadar bahwa kebutuhan mereka memang seperti itu dan rezeki yang didapat belum cukup untuk menutupi kebutuhannya. Akhirnya sifat qonaah / merasa cukup akan muncul dengan sendirinya. Sifat mulia dan optimis bahwa Allah akan memberikan rezeki terhadap hamba-hambanya akan terpatri dalam sanubari.

Saya sangat terkesan dengan ucapan Alm. Rahmat Abdullah, ketika istri beliau meminta uang belanja sedangkan beliau saat itu tidak punya uang sama sekali. “Ummi, kalau rezeki sudah habis, itu artinya rezeki akan datang lagi, sama seperti sumur yang sudah kering, itu artinya air akan datang lagi”.[1] Sifat optimis dan gembira saat rezeki habis justru sebagai pertanda bahwa sebentar lagi akan datang rezeki berikutnya. Meskipun dalam suasana musibah atau kondisi yang benar-benar genting sama sekali. Mereka yang pandai bersyukur selalu ingat bahwa “innamal ushri ushro” sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan.

Dilain pihak beda dengan mereka yang kebutuhannya hadir karena keinginan. Mereka mempersulit kemudahan yang mereka miliki karena tergoda syahwat materi, trend, dan keinginan untuk dipuji, merasa wah dan gagah, bahkan terkadang karena bujukan kawan sekitar. Saat kondisi seperti ini sulit untuk berfikir jernih apalagi saat uang tak punya. Jadilah korupsi menjadi makanan sehari-hari, menilep, mencuri, merampok, bahkan memakan harta milik ummat (shodaqoh, amal jariah, dana haji dll).

Bagi sebagian orang godaan wanita masih bisa ditahan, tetapi godaan harta, jarang sekali yang bisa bertahan. Hanya orang-orang yang benar-benar takut kepada Allah yang bisa lolos dari godaan harta. Lihat saja betapa banyak para aktivis yang dulu semasa mahasiswa terlihat zuhud dan anti korupsi, kini ketika sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan, masuk dalam struktur pemerintahan atau masuk dalam kelembagaan dewan, kini diam seribu bahasa, saat tawaran amplop terbang melayang diatas kepalanya, dan ini bukan gosip atau rumor, ini adalah fakta. Juga berapa banyak para da’i, para ulama, para tokoh masyarakat yang terjerembab kedalam kasus pencurian uang, baik milik yayasan, ataupun milik negara. Padahal bibir-bibir mereka setiap hari mengalir ucapan-ucapan hikmah yang menjadi panutan bagi masyarakat.

Memang sulit menjaga amanah jika berhubungan dengan uang. Sangat berat, bahkan lebih berat dari godaan syahwat dan mabuk-mabukan. Apalagi saat kita dalam kondisi tidak punya uang, meskipun kondisi itu kadang kita sendiri yang menciptakan.

Inilah secarik doa yang diajarkan rosul untuk kita dalam menghadapi kondisi seperti itu:


اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.” [2]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” [3]
---------------------------------

Semoga Bermanfaat.

Daftar Pustaka
[1]Sang Murrabi
[2] HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180.
[3] HR. Al-Bukhari 7/158.

Wednesday, July 29, 2009

Niteni

Bagi suku jawa kata ini tidaklah asing, sebab ia banyak dipakai dalam perbendaharan sehari hari dalam membicarakan tentang suatu ramalan yang diambil dari kebiasaan yang berulang. Meskipun saya bukan orang jawa, saya banyak mengetahui istilah ini dari istri saya. Istilah titeni ini menarik bagi saya karena cukup mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

Titeni atau “niteni” (dibaca dengan huruf e pepet seperti kata bebek) dalam bahasa jawa berarti menganalisa dan menyimpulkan sesuatu dari kejadian berulang-ulang yang berlaku pada seseorang atau tempat atau gejala alam. Ilmu titeni bukanlah ilmu sihir atau cenayang yang mendahului takdir Tuhan. Ia hanyalah ilmu yang bisa dibuktikan dengan ilmiah bahkan terbukti secara empiris. Ilmu statistika adalah salah satu ilmu yang boleh dikatakan ilmu “niten” itu. Contoh ilmu niten yang paling mencengangkan adalah hasil survey LSI yang meramalkan SBY menang 60-70% .

“Niten” bagi masyarakat awam mungkin dianggap sebuah kelebihan bahkan karomah. Masih ingat bagaimana GusDur dianggap wali oleh para pengikutnya karena kesanggupan beliau meramal suatu peristiwa. Jawaban GusDur ketika dicrosschek oleh media adalah bahwa beliau bukanlah sakti mandraguna, tetapi beliau sangat cerdas membaca situasi karena rajin membaca buku tentang apapun dan dari buku itu beliau bisa memprediksi atas apa yang akan terjadi.

Saya pun pernah meniten/meramal tentang kematian beberapa orang termasuk kematian ayah saya dan mertua saya tepat pada hari h yang saya sebutkan. Saya ungkapkan ramalan saya kepada orang terdekat saya, seperti istri dan kakak saya agar mereka jangan bersedih yang berlebihan jika saat itu datang. Dan memang dengan izin Allah itu terjadi persis seperti apa yang saya ucapkan.

Apakah saya punya kelebihan atau ilmu kebatinan, tentu tidak saya hanya mempelajari ciri-cirinya saja dan itu berlaku universal. Meskipun saya pernah beberapa kali tepat, saya juga pernah gagal yakni ketika meniten kematian Pak Harto. Tapi bagi saya bukan kematiannya yang saya cermati, tetapi siapakah orang-orang dekatnya yang akan menghormati beliau secara berlebihan. Dari situ saya hanya ingin tahu, siapakah Soehartois selama ini yang sebenarnya.

Bagi saya pribadi, kemampuan untuk meniten sangat diperlukan untuk para pemimpin, sebab pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki visi dan misi yang kuat. Visi dan Misi yang kuat itu didapat dari hasil niten. Kita tahu bagaimana Microsoft mampu menggurita karena ilmu titen yang dimiliki Bill Gates. Dalam buku “Rahasia Bisnis Microsoft” terbitan tahun 1995, disitu disebutkan bagaimana pada tahun 1970an Bill Gates berucap bahwa suatu saat komputer-komputer akan dapat ditemukan dipelosok-pelosok dan sudut rumah tangga. Padahal saat itu komputer masih berwujud ruangan besar dengan ukuran 10x10 M bahkan lebih dan hanya perusahaan besar yang mampu membelinya. Ucapan Bill gates terbukti dengan hadirnya PC (Personal Computer/ Komputer Pribadi). Juga pada saat launcing windows 3.00 tahun 1992, Bil Gates berucap bahwa suatu saat informasi akan berada di ujung jari, padahal internet belum ada saat itu. Apakah Bill Gates sakti mandera guna, tentu saja tidak, beliau hanya cerdas membaca situasi dan keadaan, sehingga niten atau ramalan beliau tepat sekali.

Dalam sejarah islam, nabi pernah melakukan ilmu niten, nitennya beliau kali ini adalah sebagai manusia bukan dari wahyu yang diturunkan oleh Allah. Padahal bisa saja beliau menanyakan langsung kepada Allah tentang hal tersebut. Disebutkan dalam persiapan perang Badar, kaum muslimin merasa bingung dengan jumlah musuh yang akan mereka hadapi, maklum itu adalah perang pertama yang diperbolehkan Allah atas mereka untuk mempertahankan izzah kaum muslimin. Salah seorang sahabat bertanya kepada seorang anak kecil penggembala kambing, yang biasa mengembala dilembah itu, berapa jumlah pasukan quraisy, sang anak tak bisa menjawab dengan pasti berapa jumlahnya, karena anak kecil tak akan sanggup mengira-ngira berapa jumlah orang banyak. Lalu Rasulullah bertanya kepada anak itu, “Nak berapa jumlah onta yang mereka sembelih?” jawab sang anak “kira-kira sembilan atau sepuluh onta”. Lalu Rasul dapat memastikan bahwa jumlah musuh adalah sembilan ratus sampai seribu orang karena untuk satu ekor unta biasanya dimakan untuk seratus orang. Sangat mudah bukan.

Bagi para penguasa/pemimpin seharusnya mempunyai ilmu niten yang canggih, jangan hanya berdasarkan informasi dari orang-orang yang hanya bisa menjilat saja, ABS(Asal Bapak Senang), padahal informasi itu menyesatkan. Pemimpin harus mempunyai visi dan misi yang jelas untuk masa depan bangsa, implementasi visi dan misi mereka dibuktikan dengan strategi yang kuat dan aplikasi yang menyentuh sasaran, bukan hanya sekedar populis untuk menarik simpati rakyat. Soekarno dan Soeharto terlepas dari baik atau buruknya sejarah beliau merupakan contoh pemimpin dengan visi dan misi yang kuat. Soekarno jauh sebelum kemerdekaan mempunyai misi berdirinya negara kesatuan republik indonesia. Soeharto mempunyai misi kesejahteraan republik indonesia dengan GBHN dan Repelitanya. Hanya pemimpin di era reformasi ini yang saya lihat masih gamang dalam konsep visi dan misinya, mungkin terjebak oleh masa jabatan yang hanya dua periode, sehingga pemikiran mereka menjadi kerdil bagaimana dengan waktu yg singkat itu bisa memimpin negeri ini, dan jika menang akan memikirkan periode selanjutnya.

Bagi para pengusaha, ilmu niten sangat diperlukan untuk meramal nasib perusahaan kedepan. Bagi pemimpin yayasan atau jamaah ilmu niten ini dapat digunakan untuk membawa organisasi ini kedepannya mau dibawa kemana.
Bagi para kepala rumah tangga, ilmu niten sangat diperlukan untuk membawa perahu keluarga ke arah yang lebih baik, bisa meramalkan badai yang akan menggucang bahtera, atau kapan datangnya angin sejuk yang membawa berita gembira. Bagi para istri atau ibu rumahtangga, ilmu niten ini sangat diperlukan untuk mengelola keuangan rumah tangga, jadi tahu kapan sesuatu itu menjadi kebutuhan dan kapan sesuatu itu menjadi keinginan, sehingga konflik ekonomi dan keuangan dalam rumah tangga bisa diminimalisir.
Bagi para anak-anak ilmu niten diperlukan untuk mengelola masa depan mereka, sehingga bisa membantu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Demikianlah sedikit ilmu “Titen” yang saya ketahui, semoga bermanfaat, Alhaqqu minrobbikum.


Daftar Pustaka:
1.Sirah Nabawiyah
2.Rahasia Bisnis Microsoft
3.Ketika Cinta Bertasbih
4.Gus Dur Kau Mau Kemana

Friday, July 24, 2009

Ketika Empati Mulai Tumpul

Kisah ini adalah nyata dan pernah terjadi di negeri ini. Kisah yang terjadi tigapuluh tahun lalu disebuah daerah terpencil di pedalaman kalimantan. Kisah ini pernah saya baca dalam sebuah majalah berita pada tahun sembilan puluhan. Dalam kesempatan ini saya akan menceritakan kembali dalam ingatan versi saya, dengan sedikit improvisasi tanpa mengurangi isi dan kandungan ceritanya. Selamat mengambil I’tibar dari kisah tersebut.

Surat dalam Amplop tak berlogo.

Jumat Malam. 1 Agustus 1979, di rumah seorang Bupati.

Saat itu malam mulai merayap, jam dinding diruang tengah menunjukan pukul 22.00, diluar hujan rintik-rintik belum berhenti sejak tadi siang, dinginnya udara memaksa sang penghuni rumah untuk tidur cepat-cepat, apalagi setelah seharian melakukan inspeksi keseluruh jajarannya nyaris menghabiskan seluruh energinya. Setelah melipat tas kerjanya, Pak Kartajaya (bukan nama sebenarnya), seorang Bupati di kota kecil dipedalaman Kalimantan, bersiap-siap menuju tempat tidurnya. Ia harus tidur cepat-cepat, sebab besok pagi harus pergi ke Jakarta selama seminggu untuk mendampingi gubernur untuk ikut presentasi potensi wilayah bagi Penanaman Modal Asing diwilayah kekuasaannya. Perusahaan asing itu berencana membuka tiga lokasi proyek di wilayahnya. Baginya, berhasil menarik investasi asing kewilayahnya membuat prestasi sendiri dimata gubernur, dan tentu saja banyak keuntungan materi yang akan didapatinya.

Baru setengah jam ia memejamkan mata, tiba-tiba ia mendengar kegaduhan didepan rumahnya, lantas ia bangkit untuk memanggil ajudannya agar mengusir orang-orang yang membuat kegaduhan tengah malam itu. Sang ajudan segera menjalankan tugasnya, ia menuju kepintu gerbang dan mendatangi kegaduhan itu. Ternyata ada dua orang pemuda dengan wajah lusuh memaksa ingin bertemu sang Bupati. Yang satu berperawakan pendek, berambut ikal memakai baju merah dan bercelana jeans, yang satu lagi kurus berambut lurus memakai kaos oblong bersendal jepit. Keduanya adalah perwakilan dari dua desa bertetangga, desa A dan desa B, dua desa terpencil dipinggir hutan yang sejak lama bermusuhan. Rupanya niat mereka dihalangi oleh dua satpam penjaga rumah itu, sehingga mereka berteriak-teriak dan menimbulkan kegaduhan.
“Ada apa ini, teriak sang ajudan”, “ini pak; jawab satpam yg lebih tua; dua orang pemuda ini memaksa ingin bertemu Bupati, katanya penting sekali dan menyangkut nyawa manusia.” Mengapa kalian tidak datang saja besok pagi, Pak Bupati sudah tidur, jawab sang ajudan. “Tapi Pak, kami membawa surat dari pemimpin-pemimpin kami dan kami ingin langsung bertemu dengan Pak Bupati untuk menjelaskan kondisinya dan menunggu apa selanjutnya intruksi beliau,. Kalau kami tidak jelaskan, takutnya beliau tidak faham duduk perkaranya, dan kami ingin jawaban itu sekarang agar bisa kami sampaikan ke pemimpin kami saat ini juga”. Baik, jawab sang ajudan, kalian tunggu saja disitu dan kemarikan surat yang kalian bawa, mudah-mudahan Pak Bupati mau bertemu kalian.
Sang ajudan segera mengambil amplop surat dari pemuda itu dan melihat cover depannya. Tertulis surat itu ditujukan kepada Pak Bupati, dan pengirimnya mengatasanamakan tokoh desa A dan B. Terlihat amplop surat itu cukup aneh untuk ukuran surat resmi, tanpa kop surat dan alamat institusi, ia lebih mirip amplop surat kaleng.
Segera saja sang ajudan menuju kamar sang bupati dan mengetuk pintunya. “Toktoktok”, “siapa” tanya pak Bupati. “saya ajudan bapak” ada surat untuk bapak, katanya dari tokoh desa A dan B, katanya penting Pak. Sang pembawa surat juga ingin bertemu bapak dan menginginkan jawabannya sekarang, karena menyangkut nyawa orang Pak”. “Hemm desa A dan B, dua desa bebuyutan yang sering membuat buruk citra wilayah saya“, ada apa lagi sih. “Apa tidak bisa besok saja, saya sudah capek, bilang kepadanya, saya akan menjawab surat itu besok pagi dan taruh surat itu di laci meja saya”, “Tapi Pak...ini menyangkut...” “Sudah...” Pak Bupati segera memotong” tidakkah kamu mengerti kalau saya harus tidur agak pagian malam ini agar besok bisa menghadiri undangan Pak Gubernur ke Jakarta, bukankah kamu ikut juga” “Siap Pak” jawab sang ajudan. Segera saja ia menaruh amplop itu dilaci meja kerja pak Bupati. “Pak amplop itu sudah saya taruh dilaci bapak yang paling atas ya” “Ya, sekalian suruh orang itu kembali saja besok pagi”. “Siap Pak”.

Dua puluh tahun kemudian, Agustus 1999.

Pak Kartajaya sudah lama pensiun, kini ia hanya tinggal bersama dengan istrinya. Dua orang anaknya telah menikah dan tinggal di Jakarta. Kesibukannya sekarang hanya bercocok tanam, memelihara ikan dan sekali-sekali membersihkan ruangan kerja yang menjadi kebanggaannya. Foto-fotonya bersama gubernur dan Presiden acap kali dibersihkan sendiri, juga pajangan-pajangan senjata tradisionil yang ia dapat sebagai cindera mata ketika berkunjung ke daerah. Agar tak bosan, kadang-kadang seminggu sekali ia rubah posisi lukisan dan senjata itu, hanya meja kerjanya saja yang tak pernah ia rubah, selain karena berat, meja itu juga cukup besar, jadi ia hanya membersihkan kaca meja itu saja. Meja kerja itu terbuat dari kayu jati yang ia beli langsung dari jepara. Meja kerja dengan kualitas nomor satu, yang umum dimiliki oleh para pejabat dinegeri ini. Saat asyik membersihkan laci dan mengeluarkan isinya, tiba-tiba ia melihat sebuah amplop lusuh yang sepertinya sudah lama berada ditempat itu, tetapi belum sempat ia baca. Perlahan diambilnya amplop itu dan dilihat secara seksama. Sepertinya ini surat kaleng, tidak ada nama dan alamat institusinya selain nama pengirim tokoh desa A dan B. Ia mencoba mengingat-ingat tentang kedua desa itu, tapi tak juga bisa mengingatnya, kemudian dilihat kembali amplop itu, Surat itu memang ditujukan untuk dirinya, karena penasaran lalu dibukanya surat itu perlahan.

Desa A & B, 30 juli 1979

Kepada Bapak Bupati yang kami hormati,

Kami mewakili penduduk desa A dan B memohon petunjuk kepada Bapak apa yang kami harus lakukan, kami akan mematuhi apapun instruksi Bapak demi kebaikan desa kami. Mengingat situasi genting yang terjadi di desa kami, kami mohon kesediaan Bapak untuk datang ke desa kami untuk mendukung upaya damai yang kami ajukan kepada masyarakat didesa kami. Kami sudah lelah bertikai, kami sudah lelah bertempur karena mempertahankan dan membela sesuatu yang tidak jelas. Kami para tokoh muda ingin kedamaian terwujud di desa kami. Tetapi para tokoh tua tidak mau berdamai, mereka hanya berfikir tentang harga diri desa kami. Kami berusaha membujuk mereka, tetapi tidak bisa. Kami hanya butuh tokoh yang mau didengar oleh orangtua-orangtua kami dan tokoh itu adalah Bapak.

Sampai disini, Pak Kartajaya tertegun, ia mencoba mengingat-ingat, bagaimana surat ini bisa sampai kepadanya. Keningnya bekerut-kerut, tanda ia berusaha mengingat-ingat kapan ia menerima surat itu. Ia berdoa kepada Allah, untuk dimudahkan mengingat kejadian itu. Otaknya berfikir keras, berusaha mencari petunjuk. Lalu ia mengingat kebiasaannya dulu selama bekerja sebagai bupati. Ia ingat, ia mempunyai tiga laci di mejanya. Laci pertama paling atas adalah untuk berkas atau surat yang sudah selesai dibacanya dan sudah ditandatangani. Laci kedua dari atas adalah berkas kerjanya hari itu, dan laci paling bawah adalah untuk surat-surat atau berkas yang baru masuk. Ia sendiri yang menyusun seperti itu untuk memudahkan dirinya bekerja. Juga untuk menghindari ada berkas yang terlewati. Tetapi mengapa ada surat seperti ini yang belum sempat dibacanya. Perlahan ia mencoba berfikir keras dan mengingat-ingat, sedikit-demi sedikit mulai timbul ingatannya, ternyata surat itu adalah surat yang dikirim oleh pemuda yang membuat gaduh malam itu dirumahnya, dan karena ia mengantuk berat, ia menyuruh ajudannya meletakan dilaci kerjanya, dan sang ajudan meletakan di laci yang paling atas, pantas saja ia tidak pernah membaca surat itu, karena pagi-pagi ia harus berangkat ke Jakarta. Astaghfirullah.
Kemudian ia meneruskan membaca surat itu.

Ketokohan Bapak di desa kami, membuat para orangtua kami mempercayai apapun keputusan Bapak, tetapi para orangtua kami hanya memberikan waktu dua hari bagi kami untuk menghadirkan Bapak, jika tidak, mereka akan bertempur habis-habisan, sampai seluruh desa hancur berkeping-keping. Damai sekalian atau hancur sekalian. Jika bapak tidak sempat hadir ketengah-tengah kami, maka bapak bisa membuat surat sebagai ganti kehadiran Bapak, cukuplah stempel dan tandatangan bapak menjadi jaminan buat kami.

Kami mohon bapak segera membuat keputusan untuk kami. Kami mengutus dua orang perwakilan dari desa kami yang akan membantu bapak.
Kami tunggu kehadiran Bapak dua hari dari sekarang, jika dalam dua hari bapak tidak datang, maka kami akan saling menghancurkan, kami mohon pertolongan dan campurtangan bapak.

Terima Kasih

Ttd Ttd
Wakil Desa A Wakil Desa B

Tiba-tiba dada Pak Karta bergemuruh, airmatanya mengalir deras, tubuhnya lunglai, matanya gelap dan jiwanya guncang menahan penyesalan yang teramat dalam. Sebagai pemimpin, ternyata ia tidak bisa melindungi warganya. Ia malah asyik memikirkan keuntungan dirinya sendiri. Ia merasa empatinya telah hilang dan naluri kemanusiaannya telah tumpul. Kalau saja saat itu ia meninggalkan ego dan kantuknya dan mau sedikit saja membaca surat itu, maka segalanya tidak akan berakhir seperti ini. Yang paling menyakitkan adalah bahwa ia adalah satu-satunya orang yang diharapkan bisa mencegah pertumpahan darah itu. Tiba-tiba matanya gelap dan tubuhnya terasa lunglai. Ia tak sadarkan diri. Saat itu juga Pak Karta meninggal dunia terkena serangan jantung akibat tidak kuat menahan beban.

Minggu, 3 Agustus 1979 sore, dua puluh tahun lalu.

Halaman depan koran lokal memberitakan dua orang pemuda berduel hingga tewas didepan rumah Pak Bupati Kartajaya. Yang satu berperawakan pendek, berambut ikal memakai baju merah dan bercelana jeans, yang satu lagi kurus berambut lurus memakai kaos oblong bersendal jepit. Polisi tidak mengetahui motifnya apa.


Ibrah

Banyak sekali hal-hal yang kita anggap kecil ternyata dapat berdampak luarbiasa bagi orang lain. Kurang pekanya hati, rendahnya empati, miskinnya kasih sayang membuat seseorang terutama pemimpin kehilangan kepekaan batinnya. Dampak kurang pekanya hati dan rendahnya empati membuat hati menjadi tumpul. Kebijakan-kebijakan yang dibuatpun menjadi miskin keberkahan bahkan menuai caci maki.

Kurang pekanya orangtua terhadap anak, mampu membuat anak menjadi merasa dipinggirkan, begitu juga kurang pekanya guru terhadap murid, yang membuat murid merasa tak diacuhkan. Kurang pekanya para dai terhadap ummat, melahirkan ummat-ummat yang jahil, kurang pekanya pemimpin terhadap rakyat, melahirkan rakyat yang zalim dan teraniaya.

Kita masing-masing adalah pemimpin yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak. Seorang laki-laki adalah pemimpin dikeluarganya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang pembantu adalah pemimpin di rumah majikannya , maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang Penguasa adalah pemimpin dinegerinya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. (Mutafaq alaihi).

Semoga Bermanfaat.

Wednesday, July 22, 2009

Pelajaran berharga dari seekor nyamuk

Saat itu waktu menunjukan pukul sepuluh malam, anak-anakku sudah tertidur pulas, istriku sedang sibuk dengan pekerjaannya menyusun silabus untuk semester depan, sedang aku masih asyik mengetik pekerjaan yang harus ku selesaikan untuk esok hari. Segelas kopi moka hangat menemaniku malam itu.

Ketika sedang khusu’ mengetik tiba-tiba aku merasakan lengan kananku digigit nyamuk, refleks aku tepuk dengan telapak kiriku hingga nyamuk itu tewas seketika. Karena merasa terganggu, kutinggalkan sejenak pekerjaanku seraya mengambil raket eletrik pemusnah nyamuk yang belum lama aku beli. Kuputuskan untuk berburu nyamuk dahulu sebelum melanjutkan pekerjaanku.

Satu persatu seluruh kamar aku jelajahi, beberapa nyamuk meregang nyawa dalam raket listrik itu, meledak bagai terkena bom kecil dengan suara berdetak-detak. Raket dengan kekuatan limaribu volt itu memang mampu membuat nyamuk langsung hangus berkeping-keping. Setelah kurang lebih setengah jam, aku berhenti berburu nyamuk dan mencoba menghitung berapa banyak nyamuk yang berhasil aku bunuh.

Saat sedang menghitung nyamuk itu, aku sedikit terhenyak dan tercenung, ku lihat ada dua nyamuk yang masih kecil-kecil ikut terbakar, posisinya seolah menempel dengan induknya. Entah mengapa kemudian aku menjadi terenyuh, aku membayangkan bahwa nyamuk yang kecil itu adalah anak-anak yang sedang mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Pikiranku menerawang membaca tamsil dan ibrah yang tersembunyi, betapa hidup seekor nyamuk itu sangat sulit bahkan senantiasa berkalang maut. Untuk bertahan hidup saja, mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka dari kejaran manusia dan itu berlangsung setiap saat detik demi detik, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sampai tiba masa pembalasan nanti. Tidak memandang bahwa nyamuk itu masih kecil atau sudah dewasa, semua harus mempertahankan hidup masing-masing. Dan itu sudah sunnatullah untuk mereka. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, mereka harus menjalankan takdir seperti itu, hanya keikhlasan yang membuat nyamuk tetap patuh menjalankan perintah Allah, berusaha untuk bertahan hidup atau mati ditangan manusia.

Pikiranku melayang membandingkan dengan sifat manusia yang lemah dan mudah berkeluh kesah. Baru tertimpa musibah sedikit saja sudah merasa sebagai orang paling menderita sedunia. Cobaan sakit, kekurangan uang dan harta, tidak lulus ujian, tidak lulus tender, tidak naik jabatan, tidak terpilih sebagai caleg, ditolak lamaran kerja, ditolak lamaran nikah, belum bertemu jodoh, belum bekerja dan sederet kisah sedih lainnya yang tidak seberapa berat dibandingkan pengorbanan sang nyamuk tadi mampu membuat manusia kehilangan keimanannya, mampu membuat manusia menjadi durhaka atau paling tidak mampu membuat manusia kufur terhadap nikmat Allah. Padahal pengorbanan itu belum membutuhkan pengorbanan nyawa kita sekalipun. Astagfirullah.

Pantaskah manusia yang diberi kekuatan akal, kekuatan fisik, kekuatan hati dan kekuatan fikiran yang begitu sempurna ternyata berlemah-lemah dan berkeluh kesah dihadapan Allah, sedangkan nyamuk yang tidak memiliki kekuatan fisik apapun selain hanya terbang rendah dan hinggap dari satu tempat ketempat lain, yang tidak mempunyai akal fikiran ternyata sabar menerima takdir Allah, betapapun beratnya takdir itu. Siapakah sesungguhnya mahluk yang paling lemah itu? manusia atau nyamukkah?

Begitu banyak nikmat Allah yang mengalir setiap hari, yang mengucur memasuki nadi-nadi manusia, yang menghembus melalui desahan nafas dan belaian lembut rongga-rongga tenggorokan. Mengalun indah lewat indera pendengaran, menusuk-nusuk harumnya indera penciuman, bergetar serasa makna dalam indera peraba, memendar warna-warni dalam indera penglihatan, dan nikmatnya tabularasa dalam indera pengecap, semua terlupakan begitu saja oleh cobaan yang tidak seberapa dahsyatnya dibanding meregangnya nyawa sang nyamuk tadi.

Ya Rabbi, begitu mudahnya hamba mengkufuri nikmatMu, begitu mudahnya hamba melupakan kasih sayangMu, dan begitu mudahnya hamba terperosok kedalam jurang kenistaan, hanya karena lemahnya diri ini, hanya karena lemahnya keimanan ini. Tubuh yang kekar, otak yang cerdas dan fisik yang kuat ternyata tidak membuat hamba lebih baik dari mahluk lemah ciptaan Mu itu. Bagi kami nyamuk adalah mahluk hina yang tidak berguna, tetapi dimata Mu ia adalah mahluk setia yang tidak pernah membantahMu. Ketidakbergunaannya bagi manusia bukan karena dirinya tidak berguna, tetapi karena ia mematuhi perintahMu, ia hanya sebagai vector(pembawa) dari mahluk Allah lainnya yakni virus dan bakteri. Ia merelakan dirinya dihancurkan oleh manusia karena menerima titahMu sebagai inang dari virus dan bakteri pembawa penyakit. Kalaupun Engkau mau, bisa saja dirinya Kau ciptakan bersih dari virus dan bakteri itu, seperti semut atau lebah ciptaan Mu yang terlihat begitu berguna di mata manusia. Tapi tidak, demi menjaga sunnatullah, ia rela menjadi kambing hitam bagi emosi manusia, meski resikonya adalah meregang nyawa. Padahal jika manusia mau sedikit saja sadar diri, bagi mahluk Allah lain semacam hewan di hutan atau binatang ternak, maka manusia juga adalah vector pembawa bencana dan malapetaka di alam semesta. Tapi mereka tidak pernah komplain kepada Allah atas ulah manusia itu, sungguh pun manusia telah menghancurkar anak keturunannya, menghancurkan habitatnya, bahkan menghancurkan alam sekitarnya yang tiada berdaya itu.

Ya Rabbi, kami malu kepada nyamuk itu atas ketabahan mereka menerima takdir Mu.
Kami malu atas alibi yang kami buat dibalik tubuh kuat kami,
Kami malu dengan ketidakberdayaan kami,
Kami malu dengan tingkah pongah dan kesombongan kami,
Kami malu dengan kekuatan otak dan akal fikiran kami,
Jika ternyata kami hanyalah hamba-hambamu yang cengeng dan lemah tak berguna.

Ya Rabbi, Maha benar Engkau yang telah menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia.

Semoga bermanfaat.

Friday, July 10, 2009

Arti Sebuah Keikhlasan

Ikhlas, sebuah kata yang mudah dilisan, tetapi berat pelaksanaannya. Sebuah kata yang meredakan amarah saat terzalimi, menentramkan hati saat tertimpa musibah, menenangkan bathin saat tangan dalam posisi memberi.

Ikhlas, sebuah perbuatan yang mempunyai nilai dan derajat tinggi yang akan disematkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang mau menuju kesana. Hamba-hamba yang mukhlis dalam mencari ridhanya.

Ikhlas pula yang menyebabkan seorang gadis suci, Maryam mau menerima titah Allah untuk mengandung nabi mulia, Isa As, meski tanpa suami.
Ikhlas pula yang menyebabkan Hajar mau ditinggal Ibrahim As, ditengah padang tandus tanpa teman seorang diri.
Ikhlas pula yang menyebabkan Ismail menjadi begitu mulia menerima perintah Allah untuk disembelih ayahnya.

Ikhlas menjadikan ibadah seorang hamba menjadi sempurna dimata Allah, tanpa ikhlas sujud-sujud para hamba menjadi sia-sia dan shaum-shaum ummatnya hanya bernilai lapar dan dahaga saja.

Ikhlas menjadikan hati bening, sebening embun di pagi hari, embun yang mampu menyejukan angkara murka saat menyadari bahwa segala perbuatan dan kebaikan kita tidak selamanya berbalas kebaikan pula dimata manusia. Segala kebaikan yang kita harapkan dari orang yang telah kita tolong, menjadi lenyap setelah mereka tidak membalasnya dengan serupa, dan ikhlaslah yang membuat hati menjadi sadar, bahwa kebaikan itu hanya datangnya dari Allah.

Saat seorang istri mengikhlaskan dirinya untuk berbakti kepada suaminya, dan suamipun membalas dengan keridhaan kepada Allah atas bakti istrinya, yang terlihat hanyalah kebaikan dan kebaikan.

Saat seorang anak dengan ikhlas membantu orangtuanya, terlebih saat orangtuanya memasuki usia renta, dan orangtua menjadi ridha atas bakti anaknya, maka sang anak menjadi mustajab doanya dan nerakapun haram menyentuh tubuhnya.

Saat seorang murid dengan ikhlas mematuhi perintah gurunya, dan gurupun ikhlas mendidik murid-murid mereka, jadilah amalan-amalan mereka menjadi amal yang bermanfaat. Sang murid menjadi generasi terbaik dan sang guru menjadi tauladan bagi masyarakatnya.

Saat seorang pedagang dengan ikhlas melayani pembeli dan memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggannya, jadilah amal sholeh yang mendatangkan barokah bagi dirinya dan usahanya.

Saat seorang pemimpin dengan ikhlas memimpin negerinya, menjauhkan diri dari perbuatan korupsi dan perbuatan khianat lainnya, lalu rakyatnya pun ridha atas kepemimpinannya, jadilah sang pemimpin itu duduk bersama dengan para nabi dan para mujahid kelak di yaumil akhir.

Saat seorang sahabat ikhlas membantu temannya, mengisi kesulitannya dengan kemudahan, mengobatinya ketika luka, menasehatinya ketika alpa, meluruskan jalannya ketika tersesat, jadilah sang sahabat itu sebaik-baik manusia dimuka bumi, karena hidupnya selalu bermanfaat bagi lingkungannya.

Sahabatku,
Sulit menggapai ikhlas itu, tanpa niat dan azzam yang kuat. Tak mudah meloloskan hati untuk berkata “Insya Allah saya ikhlas, Insya Allah saya ridha”, tanpa bantuan dari Sang Pencipta hati itu sendiri.
DIA yang mampu membolak-balikan hati, dengan atau tanpa persetujuan akal kita, dengan atau tanpa jiwa yang menyertai atau menolaknya.
Tapi DIA adalah maha pemberi kasih sayang dan maha pemberi nikmat, rahmat dan karunianya sangat luas. DIA pun memudahkan kita untuk memperoleh derajat mukhlis itu. Hanya satu perintahnya kepada kita “Berbuatlah karena Allah”, Niatkankanlah dengan “Lillahi Ta’ala” dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan kita. Didalam ibadah-ibadah kita, di dalam amal dan dalam pekerjaan, di dalam bisnis dan dalam bermuamalah, di dalam berbakti kepada orang tua dan dalam mendidik anak, di dalam bercinta dan dalam mencintai, di dalam pengabdian kepada masyarakat, hatta dalam hal-hal yang sangat sepele sekalipun; seperti memberi makanan kepada binatang, atau bahkan dalam hal yang sangat besar seperti dalam peperangan dan pertempuran.

Bagi siapapun kita berbuat atau untuk apapun kita lakukan, semua akan terasa indah jika disertai dengan keikhlasan. Sebelum surga akhirat benar-benar didapat, insya allah nikmatnya "surga dalam dunia" pun dapat kita rasakan dengan keikhlasan itu sendiri. Insya Allah.

Semoga Bermanfaat.

Monday, June 29, 2009

Bukan Sekedar Kata

Seorang sahabat pernah bertanya dalam statusnya di FaceBook, dalam akad nikah mengapa dengan “kata-kata saja” ;mungkin maksudnya sebuah kalimat; seorang wanita menjadi halal bagi suaminya, sedetik setelah ucapan itu meluncur dari bibir suaminya dan dinyatakan sah oleh penghulu serta para saksi. Sang teman sangat heran betapa sebuah kata-kata dapat menghalalkan sentuhan laki-laki terhadap kulit wanita yang bukan muhrimnya.

Pertanyaannya sekilas sepele, tetapi sebenarnya penuh makna yang dalam, betapa sebuah kata-kata, selanjutnya biar enak dibaca saya ganti dengan sebuah kalimat dapat merubah suatu kondisi atau status dari yang haram menjadi halal.

Kata-kata atau Kalimat, sebuah approach yang dipakai oleh Pencipta untuk berkomunikasi dengan hambanya sekaligus sebagai media komunikasi (baca bahasa) untuk mengajarkan ilmu kepada hamba-hambanya.
Dengan kalimat pula Allah memegang janji para hamba-hambanya jauh ketika masih di alam ruh QS,7:172. 1)
Nabi Isa, ;yang lahir tanpa ayah, tetapi dengan kalimat Allah;disebut sebagai Ruh dan Kalimat Allah. QS,4: 171. 2)
Begitu juga dengan nabi Adam yang lahir tanpa ibu dan bapak, lahir dan tercipta dengan kalimat Allah.

Bukan sekedar kata,
Kalimat secara esensi adalah sebagai media komunikasi antar Pencipta dan mahlukNya atau antar sesama mahluk Allah. Kalimat juga sebagai pengejawantahan sifat Allah “KALAM”, ﻛﻼﻡ yang maha berkata-kata.
Dengan kalimat, terjadi saling pengertian antara mahluk Allah. Malaikat diperintahkan dengan kalimat untuk menjalankan tugasnya di alam semesta ini. Didunia, banyak kalimat yang diucapkan sebagai tasbih oleh mahlkuk Allah, Bumi, matahari, bintang, dan seluruh alam semesta bertasbih dengan kalimatnya.

Kalimat dapat berupa suara dapat pula berupa tulisan atau kode-kode tertentu. DNA manusia yg tersusun dalam untaian basa adenin (dilambangkan A), sitosin (C, dari cytosine), guanin (G), dan timin (T) yang mampu mereflesikan milyaran bahasa pembentukan fungsi tubuh manusia adalah contoh kalimat dalam bentuk kode.

Tulisan dalam kitab-kitab Zabur, Taurat, Injil dan Alqur’an adalah kumpulan kalimat-kalimat Allah yang memiliki makna yang sangat dalam bagi manusia.

Suara-suara guntur, gesekan angin pada dedaunan, nyanyian burung, gemuruh ombak, adalah contoh kalimat Allah dalam bentuk suara.

Dengan kalimat pula semua sistem di alam semesta berjalan sebagaimana mestinya. Manusia pun mulai mengerti bahwa kalimat yang diucapkan mampu membuat sesuatu berubah (berfungsi) seolah-olah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sejak Harut dan Marut: dua orang malaikat yang penasaran bagaimana menjadi manusia; turun ke bumi atas izin Allah; mengajarkan sihir kepada manusia, maka mulai saat itu manusia mulai mengerti tentang mantera, sebuah kalimat yg bisa menipu pandangan lahiriah manusia, mengubah visual seolah-olah hakikat. Mengubah bentuk bahkan mampu memberi efek kepada manusia itu sendiri (dengan izin Allah tentunya).

Dari zaman Aladin dengan “Open Sesame” sampai zaman “The Master” dengan sugestinya Mr. Romy Rafael, semua menggunakan untaian kalimat.
Bahkan di zaman komputer ini, tidak ada system yang berjalan sendiri tanpa kernel pada Operating System (OS) yg memicu kehidupan peralatan elektronik itu sendiri, hatta mesin sekecil kalkulator sekalipun. Juga Password yang ampuh untuk menjalankan aplikasi. Semua adalah untaian kata-kata.
Ada sebuah ilustrasi menarik, pernahkah anda melihat film robocop yang dalam adegan terakhir sang penjahat tidak bisa dibunuh karena ia adalah petinggi OCP yang dalam aturan nomor sekian menyatakan bahwa robocop tidak bisa melukai bahkan membunuh karyawan OCP sekalipun dia bersalah; Anyway ketika pendiri OCP mengatakan “You Are Fired”, “kamu saya pecat”, otomatis status sang penjahat berubah menjadi orang biasa lantas dengan mudah sang robocop mengarahkan senjata kepadanya dan matilah ia.

Adahal menarik mengapa sebuah kalimat mempunyai posisi begitu penting bagi manusia bahkan alam semesta. Sebab sebuah kalimat mampu menjadi sebuah triger/pemicu dari perjalanan penciptaan alam semesta itu sendiri. Sebab Allah mencipta semesta hanya dengan kalimat “Kun Faya Kun”, “jadi, maka jadilah.”

Sebagai penutup, jika dalam paragraph pertama diatas menjelaskan bahwa hanya dengan kalimat seorang wanita menjadi halal, maka dengan ucapan kalimat pula seorang wanita menjadi haram baginya. Ucapan “cerai” yg dilontarkan secara sadar oleh suami meskipun dilakukan dengan bercanda atau dalam keadaan emosi, mampu memisahkan keduanya dengan segera, dengan ucapan itu pula maka jatuhlah talak satu kepadannya. Ucapan yang kelihatannya remeh tetapi mampu mengetarkan Arsy.

Jadi berhati-hatilah dengan kata-kata anda, dan pandai-pandailah menjaga lidah anda. Sebab lidah mampu menusuk lebih tajam dari pedang, lebih panas dari api yang membara. Dengan lidah pula sang fitnah menjadi lebih kejam dari pembunuhan.

Wallahu alam bishowab.

Catatan:

1) QS,7:172. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"”

2)QS,4: 171. “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.”

Friday, June 26, 2009

Baracuda Expedition II, Part 3 - Selesai

Cerita 2 Sahabat..

Setelah mendapatkan tempat yang cocok, Pak Ardi segera menginstrusikan untuk menurunkan kail pancing bagi yang ingin memancing. Segeralah masing-masing dari kami mengambil pancing yang telah disiapkan oleh ABK. Disini kami sedang membuktikan siapa kira-kira yang memiliki rezeki yang bagus atau yang paling “berkah” dalam tanda kutip, maksudnya siapa yg paling banyak dapat ikan begitu. Para awak kapal juga ikut membantu memancing, termasuk Pak Ardi sang kapten kapal.
Sebenarnya jika kondisi keempat orang yang “nembak” tadi bagus alias fit, pasti kegiatan ini akan terasa lebih seru lagi, tetapi karena kondisi yang tidak menguntungkan, jadilah kegiatan itu dilakukan bergantian. Kecuali Labib, Pak Awi, Pak Harno dan Mr. Jevi, yang tetap tegar menghadapi gelombang, keempat orang itu melakukan kegiatan mancing disela-sela mual mereka. Ketika dirasakan tubuh mulai enak, maka mereka memancing kembali, jika dirasakan mulai mual dan muntah-muntah, maka rebahan dan tidur lagi. Sedangkan saya, hahaha, mancing cukup sekali, sisanya rebahan dan tidur, nyam-nyam-nyam.

Diantara keempat orang yg cemen itu saya lihat hanya Pak Yuli yg tetap semangat ghirah memancingnya. Begitu beliau selesai “nembak”, segera saja mengambil kail dan mancing kembali. Begitu seterusnya; jadi; kalau saya tidak salah hitung, pak Yuli tujuh kali nembak, tujuh kali tidur dan tujuh kali mancing, haha keren khan. Sedangkan Pak Bowo, mudah sekali menyuruh beliau untuk memegang tali kail dan memancing, caranya ,lecehkan saja beliau dengan kata-kata manis, maka meskipun kepala berat, perut melilit, beliau akan sigap berdiri, dan sepertinya beliau hanya akan memancing jika harga dirinya “diinjak-injak” oleh rekan-rekan terutama oleh Mr. Jevi, hahaha. Meskipun lagi flying abis tetap saja dibela-belain megang tali pancing demi sekeping harga diri, hahaha.

Bicara tentang harga diri, harga diri Pak Peter mungkin lebih tinggi lagi. Meskipun beliau belum mendapatkan ikan satupun, tetapi jika ada rekannya yang mendapatkan ikan, maka segera diambilnya dan minta diabadikan untuk diperlihatkan kepada anaknya, Dzikri sambil berteriak “Abang Dzik, ini loh hasil tangkapan ayah keren kan..., hahaha” demi harga diri dihadapan anak, terpaksa mengakui milik orang lain, hahaha, setelah itu, Pak Peter dengan nyamannya tidur lagi, zzzzz.

Hasil tangkapan merupakan indikator sukses atau tidaknya kegiatan memancing itu, semakin banyak hasil tangkapan, berarti semakin sukses pula memancingnya.
Refleksi dari “hasil tangkapan” ini saya iibaratkan dengan seberapa besar seorang manusia berikhtiar mencari rezekinya. Ada kisah tentang dua orang sahabat yang berprofesi sebagai nelayan dalam mencari rezeki. Sahabat yang pertama katakanlah si A bertipe realistis,. sedang yang kedua bertipe perfeksionis dalam artian ia akan berbuat jika kondisinya mendukung, katakanlah si B.

Sahabat kita si A ini, setiap hari selalu menjemput rezekinya, ia selalu pergi melaut, meskipun dia tahu bahwa tidak setiap hari dia bisa mendapatkan rezeki sesuai dengan harapannya. Sedangkan sahabat kita si B, Ia menjemput rezekinya jika difikirnya hari ini akan ada banyak rezeki yang akan didapatnya, diluar itu ia tidak mau membuang hari-harinya dengan kegiatan yang kira-kira tidak mendapatkan hasil sesuai dengan keinginannya. Dalam benaknya Ia pun menanamkan tekad, Ia akan rajin melaut jika sudah mempunyai kapal motor sendiri, karena menurutnya jika melaut memakai sampan/perahu kecil hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga serta ikan yang didapatpun tidak seberapa.

Hari demi hari berlalu, Si A selalu mendapatkan apa yang diusahakannya, meski dengan sampan kecil, Allah selalu memberikan rezeki terhadap hamba-hambanya yang telah berusaha. Hasil dari melaut dengan sampan kecil itu ia gunakan untuk membeli sampan yang lebih besar, hasil dari sampan yang lebih besar ia gunakan untuk membeli kapal bermotor, begitu seterusnya hingga lewat dua puluh tahun. Sampai akhirnya si A telah menjadi nelayan sukses dengan armada kapal nelayan yang besar dengan ABK berpuluh-puluh orang. Sedang si B, karena selalu berfikir, besok saja kalau sudah punya perahu besar baru rajin melaut, besok saja kalau sudah punya kapal motor baru rajin melaut, begitu saja hingga tak terasa hari-hari telah berlalu begitu cepat, dan kondisi si B tetap sama dengan kondisi dua puluh tahun lalu. Ia tidak memiliki apa-apa selain usia yang mulai renta dan rambut yang mulai memutih.

Relevansinya dengan kisah diatas, jika kita berfikiran akan mau berusaha jika sudah punya modal, akan mau bekerja keras setelah menikah dan punya anak, akan mau rajin bekerja setelah punya waktu luang dan alasan-alasan lain maka yang ada hanyalah penyesalan dan penyesalan. Dalam konteks ibadah dan mencari ilmu juga sama seperti itu, jika kita berfikiran, akan belajar ngaji jika ada waktu luang, akan rajin sholat jika sudah berumah tangga, akan menjadi suami yang soleh jika sudah punya anak dan alasan lain sebagainya, bersiap-siaplah kita hanya hidup dalam angan-angan. Tanpa terasa kulit sudah keriput, rambut mulai beruban dan mata mulai buram, tinggallah penyesalan mendalam yang tak pernah bisa dimaafkan. Masa muda tak pernah bisa kembali kepada kita. Ulama salaf pernah berkata “Jarak yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian dan jarak yang paling jauh adalah masa lalu”.

Kembali ke memancing, atas dasar pemikiran dan motivasi diatas, barulah saya sadar kalau saya terus menunggu sampai kondisi badan benar-benar fit, kapan saya bisa memancing, kapan saya bisa membuktikan kalau saya juga bisa menjadi fisherman sejati. Toh juga saya tidak menengetahui apakah mual-mual ini sebentar saja atau mungkin malah berlangsung lama. Akhirnya menjelang matahari tepat di atas kepala, saya bangkit mengambil kail pancing, mengaitkan umpan berupa cumi-cumi yg sudah dipotong-potong kedalam kail dan melemparnya ke dalam lautan. Ditemani Pak Harno, Labib dan ABK yg masih setia memancing, sementara kawan-kawan lain terlihat tidur karena kelelahan.

Pada uluran kail yg pertama, saya merasakan benang kail terasa ada yang menarik-narik. Segera saja saya angkat dengan perasaan senang, mudah-mudahan ikan baracuda yang menjadi telur pertama saya. Dengan hati gembira karena bakal mendapat rezeki nomplok, saya tarik benang kail dengan kekuatan penuh, sepenuh semangat para pejuang kemerdekaan, dan ketika benang terangkat semua, “HAH” kosong! mana ikannya?, “tapi kok berasa berat ya?” gumam saya, Pak Harno tertawa terpingkal-pingkal, sambil menjelaskan “Pemberat timah kalo ditarik-tarik seperti itu rasanya juga seperti ikan yang menarik-narik” wuahahaha kaciaaaan deh gue....

Akhirnya saya ulurkan kembali benang pancing saya. Dengan harap-harap cemas saya menunggu moment yang paling membahagiakan dalam hidup saya, ceile segitunye. Beberapa menit telah berlalu, tik tik tik, waktu begitu lambat saya rasakan, hembusan angin juga seakan melambat, tiba-tiba saya merasakan kail ada yang menarik-narik, tetapi saya cuekin saja, daripada malu, mendingan cuek, keledai aja enggak mungkin masuk lubang dua kali, apalagi saya. Setelah agak lama barulah saya menyadari bahwa yang menarik-narik itu adalah benar-benar ikan, karena beda rasanya gitu loh. Segera saya angkat kail itu dengan semangat 45, mudah-mudahan kali ini benar-benar ikan, dan ternyata “Bingo” seekor ikan baracuda menatap tajam kepada saya, seakan-akan ia marah mengapa dari tadi saya cuekin saja, padahal ia sudah berenang kesana kemari meminta pertolongan. Alhasil, karena saya tidak tega untuk mencabut ujung kail dari mulut ikan itu, akhirnya saya meminta tolong pak Ardi untuk melepaskannya. Setelah selesai, saya memasukan kembali umpan dan mulai mengulurkan benang kembali. Sejurus kemudian saya kembali menunggu dengan was-was, lima menit telah berlalu, saya masih tahan, lima belas menit berlalu, saya juga masih tahan, setengah jam berlalu, saya masih berusaha bertahan, tetapi mual dari perut saya yang tidak tahan, akhirnya saya merebahkan diri sambil tangan kiri tetap memegang benang pancing. Setelah itu saya tak sadarkan diri karena tertidur pulas, sampai pak Ardi membangunkan saya, sambil berkata “Pak pancing nya saya pindahkan dulu ya karena makan siang sudah matang.” Hehehe saking gak sabarnya, mancing saja sampe ketiduran.

Begitu saya bangun, ternyata mual belum hilang, jadi saat teman-teman asyik bersantap makan siang, saya kembali rebahan. Pak Awi dan rekan lainnya siap-siap melakukan sholat zuhur beserta ashar di jama’. Dan saya masih asik tidur meneruskan mimpi yang tadi. Weleh-weleh.

Saya terbangun saat perut terasa perih, untung ada pepaya yang dibawa oleh teman saya, sudah dikupas dan tinggal makan lagi, wuih nyam-nyam-nyam, adem banget, mak nyos. Setelah itu saya segera berwudhu dan bersiap-siap untuk sholat dzuhur dan ashar.

“Abang Dzik, Ayah Pulang”

Hari menjelang pukul tiga, ternyata kami sudah berkeliling ke berbagai karang, terlihat hasil pancing sudah lumayan banyak, meski menurut Pak Awi, tidak sebanyak pada ekspedisi pertama. Tapi lumayanlah. Pak Ardi juga mengisyaratkan kalau kita akan segera mendarat, ada usulan apakah mau berenag dulu di pulau Untung Jawa, tapi sebagian menolak, terutama para bapak-bapak yang cemen itu. Mendengar kita akan mendarat, mendadak mual-mual saya hilang, hahaha, dan saya merasakan seperti tidak terjadi apa-apa, segar bugar saja, sugesti kali ya?. Sugesti itu pula yang membuat Pak Peter mampu melakukan tugasnya sebagai manusia seutuhnya, ketika perut kenyang, dan usus sudah tidak lagi mampu menampung, apakah yang harus dilakukan oleh seorang manusia selain pergi kebelakang. Masalahnya, disini bukan dirumah yang nyaman, bukan juga di toilet yang setelah selesai tinggal pencet, serrr, air langsung mengalir. Disini kalo mau kebelakang, ya bener-bener kebelakang. Langsung nempel sama air laut. Hahaha. Kata pak Peter, butuh dua perjuangan untuk menuntaskan hasrat itu. Perjuangan pertama, adalah bagaimana agar bisa mengebom dengan nyaman, selain membuang rasa malu karena dilihat oleh mahluk-mahluk penghuni perahu, juga menahan keseimbangan dan mentargetkan sasaran tembak agar tepat jatuh kelubangnya, tidak kekepala rekannya yaitu saya sendiri, karena posisi tidur saya ada dibelakang pak Peter, hahaha sial bener nasib saya kali ini. Perjuangan kedua adalah bagaimana cara bersucinya, posisi yg bergoyang-goyang ditambah mengambil air dgn ciduk dari air laut yang mengalir deras, adalah sebuah kesulitan tersendiri. Untunglah pak Peter berhasil melewati itu semua dengan hebat, sebagai seorang pemula, buang air besar di perahu yang sedang berjalan, ditambah ombak yang datang menerjang bukankah merupakan sebuah prestasi tersendiri tuh, hahaha, karena ada rekan kita yang untuk buang air kecil saja tidak sanggup bahkan harus menunggu 18 jam hingga tiba di daratan, hehehe piss deh.
Setelah selesai dengan hajatnya, pak Peter pun kembali keposisinya, mengetahui perahu akan segera mendarat, beliau berteriak “Abang Dzik, ayah pulaaang!”..halah kayak disinetron aje hehehe.

Mendarat

Setelah melewati hampir satu jam perjalanan pulang, barulah terlihat kesibukan nelayan dan jalur penyebrangan Jakarta pulau seribu, nun disana terlihat sangat kecil hotel-hotel di pesisir ancol berdiri, di depan kami terlihat perahu penyebrangan semacam feri, bergerak sangat cepat, mengantar penduduk bermobilisasi. Di kiri dan kanan kami, terlihat perahu-perahu nelayan yang seukuran dengan kami, dengan penumpang yang juga baru pulang melaut. Burung-burung camar terbang rendah berkejar-kejaran melintasi ombak yang perlahan menghilang, burung belibis juga terbang rendah sambil berkelompok-kelompok melewati kapal kami. Ikan-ikan kecil entah ikan apa namanya terlihat melompat-lompat dari satu ombak ke ombak lainnya. Deru perahu motor terdengar jernih, sejernih perasaan kami yang merasa bersyukur, bahwa kegiatan ini alhamdulilah berjalan dengan lancar, meski ada sedikit gangguan pencernaan, yang kami anggap sebagai kewajaran bagi seorang pemula. Cerahnya cuaca pantai menyambut kedatangan kami, secerah hati kami yang merasa tak sabar untuk menginjakkan kaki kembali kedaratan, juga secerah hati teman kami yang telah menahan pipis sehari semalam, hehehe. 18 jam di ombang-ambing laut, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Tapi itu tidak membuat kami jera, karena yang kami cari adalah kebersamaan sebagai seorang sahabat.

Pukul 4.00 pm sore Perahu telah merapat, satu persatu kami beranjak melompati dek belakang. Semua barang-barang diperiksa agar tidak ketinggalan, Pak Awi melunasi kewajiban kita kepada sang pemilik kapal. Selesai bersalam-salaman kami berangkat kembali pulang. Mobil kembali meluncur meninggalkan Tanjung Pasir, dikemudikan oleh Mr, Jevi, kita segera menemui sanak keluarga. Sebelum itu kita sempat berbincang-bincang mengenai kesan dan pesan, intinya kita siap dengan Ekspedisi Baracuda ke III, insya allah dilain waktu. Sebelum sampai dirumah, kita mampir sebentar di warung nasi bebek dan ayam bakar yang berlokasi dekat pintu masuk Bandara Soekarno Hatta.
Sekitar pukul 5.00pm sore, kami segera kembali ke mobil. Mobilpun meluncur dan memasuki area bandara, lalu memasuki tol bandara, kemudian menuju tol dalam kota, dan terus melaju mengantar kami ketempat pertama kali kami berkumpul dan kembali kepada keluarga tercinta.

Selesai.

Dan inilah sedikit rekaman tentang ekspedisi itu (dengan back ground music asal comot yg penting rame)

Selamat menikmati.

"Ting Nong"
"Perhatian-perhatian, pintu teater 2 akan segera di buka..
Bagi penonton yg masih diluar silahkan memasuki ruangan teater 2...
Film terbesar abad ini Baracuda Expedition II akan segera dimulai..
Klik Play untuk melanjutkan.."

"Ting Nong"

Tuesday, June 23, 2009

Baracuda Expedition II, Part 2

Perjuangan Baru Dimulai.

Setelah menikmati santapan tengah malam di dermaga Pulau Untung Jawa, saya, pak Awi, Labib dan pak Yuli berkeliling dermaga sebentar, sementara yang lain asyik ngobrol di bangku dermaga. Setelah selesai berkeliling, saya kembali menemui teman2, tetapi karena pada jam-jam seperti itu adalah waktu tidur saya, maka segera saja saya mencari posisi nyaman dibangku dermaga untuk meneruskan naluri alamiah saya, tidur sambil selonjoran, muantap hehehe. Sayup-sayup terdengar derai tawa teman-teman saya yang entah ngomongin apa.

Kira-kira pukul tiga, ada ajakan kembali ke kapal untuk membeli umpan. Dengan terpaksa saya bangkit dari kursi dengan mata masih terpejam. Dalam pikiran saya membeli umpan pasti di pasar ikan, ternyata kami pergi menuju ke tengah laut dimana banyak Kapal Bagan membuang sauh. Kapal Bagan adalah kapal khusus yang menjual umpan-umpan untuk nelayan. Kapal Bagan ini mempunyai ciri khas yang unik, kapal ini berhiaskan banyak lampu ribuan watt yang terpasang pada atapnya yang berbentuk cadik, dimana posisi cadik ini berada di sisi kanan dan kiri kapal, sehingga kapal tetap tenang meski ombak besar datang menerpa. Dari jauh Kapal Bagan ini terlihat seperti lampu stadion yang menyala terang ditengah laut, seolah-olah kita sedang berada ditengah lapangan sepak bola pada malam hari.

Gelombang oh gelombang.

Pada saat kapal kami merapat ke Kapal Bagan, saya merasakan gelombang laut mulai terasa membesar,mungkin sekitar 1 sampai 2 meter. Kapal kami terasa kesulitan untuk merapat ke Kapal Bagan ini. Pak Ardi berusaha sampai dua kali memutar kapal untuk kembali merapat, teryata tetap tidak bisa karena tingginya gelombang. Saya yang pemula, yang belum pernah melihat secara langsung hantaman gelombang setinggi itu menjadi ciut. Terpikir oleh saya untuk memakai pelampung yang dibawa oleh Pak Awi. Tetapi saya kalah cepat, ternyata Pak Bowo memiliki pikiran yang sama dengan saya, Ia segera menyuruh Labib untuk memberikan pelampung kepadanya, meski karena gengsi, pelampung itu hanya dipegang-pegang saja, dan tidak dipakainya, hahaha, Wo, wo, bisa aje lu. Seingat saya jumlah pelampung ada dua, saya tidak tahu yang satu lagi ada dimana, saya ingin menanyakan kepada Labib, tetapi karena gengsi, saya lebih baik pura-pura cuek saja dengan keadaan seperti itu. (Gila, lebih suka gengsi dari pada nyawa terancam hehehe). Pikiran saya kalo ada apa-apa saya tinggal rebut saja pelampung yang dipegang-pegang oleh pak Bowo, habis dipegang doang sih kagak dipakai, hehehe bukannya gampang ngerebutnya kalo sudah begitu, hihihi.

Setelah mencoba berkali-kali dan gagal merapat kepada Kapal Bagan, Pak Ardi, sang nahkoda memutuskan untuk pergi mencari Kapal Bagan lain. Terlihat nun jauh disana ada lampu-lampu terang yang berdiri tegak, segera beliau memacu kapal untuk mendekati Kapal Bagan kedua itu. Alhamdulillah meski dengan susah payah, dan atas perintah keras Pak Ardi kepada awaknya untuk segera melompat ke cadik Kapal Bagan itu akhirnya kami berhasil merapat dan membeli umpan, meskipun umpan itu berupa cumi-cumi yang berukuran kecil dan beberapa udang. “Tidak apa-apa beli saja” kata Pak Ardi kepada anak buahnya. “Dari pada tidak ada sama sekali” ujarnya.

Setelah sedikit tegang akibat drama Kapal Bagan, kami pun memutar haluan dan pergi menuju karang jawir, tempat pertama yang akan kami kunjungi, sekitar dua jam perjalanan dari sini.

Ketika hati tiba-tiba menjadi khusu’.

Perahu melaju pelan, ombak-ombak besar masih setia mengiringi perjalanan kami menuju karang jawir, tetapi setelah dicek oleh Pak Ardi dengan alat dan instingnya, tempat itu dirasa tidak bagus, kemudian kami berpindah ke karang becak; nama becak mungkin dari lokasi tempat becak dijadikan rumpon, IMHO*);. Hati saya pun masih berdegup kencang tak karuan, melihat ombak besar bergulung-gulung dari depan, samping dan belakang, seolah-olah ingin melumat kapal kami. Saya yang pemula langsung saja berfikiran macam-macam, saya menjadi begitu mellow saat itu, teringat istri dirumah, teringat anak yang lucu-lucu, teringat para sahabat dan rekan-rekan difacebook, teringat utang yg belum lunas; walah; teringat ajal yang terasa sangat dekat, lebih dekat dari urat leher sendiri, huhuhu, semua bersatu padu bersenyawa dalam fikiran saya. Tinggallah kepasrahan yang saya miliki. Ketika rekan-rekan saya yang lain hanyut terbawa mimpi. Saya terjaga dengan rasa tak karuan. Hanya bisa berdzikir dalam gumam yang membasahi bibir, meminta ampun dan keselamatan pada illahi robbi. Saya jadi teringat kisah dalam alqur’an, dimana sifat manusia yang mudah mengingat Allah ketika badai datang dan mudah lupa ketika badai menghilang, perumpamaannya seperti seorang yang berlayar dengan kapal ditengah samudera., Dan saya, disini ditengah lautan, di dalam ombak yang silih berganti menerjang, sedang menjadi perumpamaan itu. Subhanaka laailaha illa anta astaghfiruka, inni kuntu minadzhalimiin, Maha suci Allah, tiada tuhan selain Engkau, ampunilah kami, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang dzalim.(Doa Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan), terus mengalir dari bibir ini sepanjang perjalanan menjelang pagi itu. Dan tiba-tiba saja hati ini menjadi khusu’ mengingat mu ya Allah. Subhanallah.

Saat pagi tiba.

Ketika kaki langit mulai memerah, dan benang hitam mulai terlihat jelas dari benang putih, meskipun lengkung langit masih terlihat gelap, terlihat di ufuk timur sang surya mulai meraba-raba. Saya tersadar bahwa fajar akan segera tiba, saya segera membangunkan Pak Awi, yang segera saja bangkit seraya menanyakan apakah waktu subuh sudah masuk. Saya bilang sudah, karena sudah pukul lima lewat lima menit. Segera saja Pak Awi berteriak menyuruh kita untuk sholat subuh. Teman-teman yang lain yang mulai kebelet pipis mulai bangkit dari tidurnya. Saya pun termasuk orang yang kebelet pipis, bahkan sejak satu jam lalu, karena kondisi saya sedang tidak fokus karena khusu’ tadi (nyari alibi neh, hehehe), akhirnya saya tahan saja keadaan itu. Barulah ketika Pak Yuli mulai melakukannya, kita semua baru melakukan hal yang sama. Tetapi pak Jevi nyeletuk, bahwa ia sudah kebelet pipis sejak beberapa jam lalu, tetapi karena tidak enak melewati posisi tidur kami, beliau tahan saja keadaan itu sampai pagi, hahaha alasan aja lu Jev.

Selanjutnya kami sholat subuh satu persatu, karena tempat sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk berjamaah. Kami sholat dengan keadaan duduk, karena sholat berdiri tidak mungkin mengingat perahu bergoyang-goyang kuat akibat terpaan gelombang. Kami berwudhu dengan air laut, menggunakan ciduk/gayung yang ada pada kapal. Satu persatu tubuh kami basuh dengan tangan yang masih memegang kuat pada pinggiran kapal, karena takut jatuh begitu loh bro.

“Nembak”

Selesai sholat subuh, perjalanan masih berlanjut, mungkin sekitar lima belas menit lagi sampai. Sambil menunggu waktu, kami sarapan dengan lontong yang dibawa oleh Pak Awi, dan para awak kapal pun telah menyediakan mi instant untuk kami. Sampai disini perjalanan saya anggap mulus tak ada gangguan berarti, sampai suatu saat, beberapa menit sebelum sampai di karang becak, tiba-tiba Pak Bowo mual-mual dan langsung “nembak” alias muntah. Alasannya karena ia sedang tidak enak badan. Padahal seingat saya setelah meninggalkan dermaga semalam, kami sempat minum obat anti mabuk laut. Dan hasilnya ternyata tidak mempan.

Disinilah efek domino berlaku efektif, ketika satu orang muntah, ternyata mempengaruhi kondisi orang lain untuk muntah juga, jadilah muntah berjamaah, yakni, Bowo sebagai imam, saya, Peter, dan Yuli sebagai makmumnya, hahaha.

Ternyata efek muntah ini mempengaruhi aktifitas-aktifitas berikutnya. Suasana mancing jadi kurang seru, karena beberapa kru tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai fisherman sejati akibat kondisi badan yang tidak mendukung karena mual-mual dan muntah tadi, termasuk saya yang hampir seluruh perjalanan memancing saya gunakan untuk rebahan dan tidur, guna menstabilkan kondisi badan akibat mual yang teramat sangat. Hahaha cemen banget ya. Justru saya sangat salut dengan Labib, anak pak Awi, bocah kelas tiga SD yg ikut trip ini, dengan gagah perkasanya dia melakukan aktifitas tanpa terganggu dengan erangan dan lenguhan para bapak-bapak cemen ini bak seorang profesional sejati. Anak ini memang patut di acungi jempol, selain profesional dalam memancing, konon ia juga sudah hapal 3 juz, ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tinggallah bapak-bapak cemen ini menjadi bahan tertawaan para kru lainnya termasuk ABKnya Pak Ardi. Terserah deh pak, mau ketawa, mau ngakak, mau nyengir kuda sekalipun gpp, urat malu udah putus, hahaha.

Disinilah saya sangat berterima kasih kepada Bowo, jabatannya sebagai provokator ternyata sukses. Setelah berhasil memprovokator kita untuk ikut dalam ekspedisi ini, beliau juga sukses memprovokatori kita dalam gerakan muntah berjamaah. Tapi untuk yang kedua, justru menjadi bumerang buat Mr.Bowo sendiri, karena sepanjang perjalanan dari rumah sampai Tanjung Pasir, dilanjutkan sampai dermaga pulau Untung Jawa, beliaulah yang selalu berkelakar memancing tawa dan sesumbar tentang ekpedisi ini. Hasilnya beliaulah yang jadi bahan guyonan Pak Jevi dan Pak Harno, dan kawan-kawan lainnya.

Hasil pertama yang didapat adalah ikan selar yg didapat Labib, berikutnya ikan baracuda yang diperoleh Pak Awi, selanjutnya Pak Ardi dan krunya mendapatkan berbagai macam jenis ikan lainnya. Juga pak Harno dan pak Yuli, yg berhasil memecahkan telur pertamanya. Saya, Jevi, Bowo dan Peter belum berhasil memecahkan telur pertama.

Selanjutnya karena dirasakan ikan susah didapat, Pak Ardi melanjutkan pencarian ketempat lain disebut juga dengan karang, entah karang apa namanya saya lupa, yg jelas ada beberapa karang yang kami kunjungi.
Yang jadi pertanyaan saya, bagaimana Pak Ardi bisa mengetahui nama suatu tempat, sedangkan tidak ada satupun petunjuk yang terlihat, karena sepanjang mata menandang hanya laut dan laut, dan bagaimana pula bisa kembali ketempat semula. Jawabnya sederhana, ternyata Pak Ardi memiliki satu alat yang disebut Global Positioning System (GPS) type 60. Peralatan yang dipandu satelit dan sebesar handphone itu memberikan data lengkap tentang posisi lingkar dan bujur bumi tempat kita berada, alat itu juga menunjukan arah semacam kompas.

*)
IMHO: In My Humble Opinion; Opini dari dasar hati yang paling dalam...

Cerita 2 Sahabat..

Bersambung...