Monday, September 28, 2009

Empati yang hilang(tumpul) jilid dua

Mengamati perkembangan pemberantasan korupsi (baca perseteruan cicak vs buaya; KPK vs Polri) setelah dua minggu pasca penetapan tersangka pimpinan KPK, Chandra dan Bibit semakin terlihat aneh saja.
Aroma bau tidak sedap bahwa perseteruan itu melibatkan dendam pribadi kabareskrim SD; seperti kata bang Buyung Nasution sangatlah kental, Ia yang merasa tersinggung karena disadap oleh KPK dan lantas marah dengan mengungkapkan istilah mana berani cicak (KPK) melawan Buaya (Polri) mulai menyusun strategi demi melemahkan KPK. Sang jenderal pun (BHD) seperti melindungi kepentingan pribadi anak buahnya. Ia malah menuduh didepan publik tentang suap yang dilakukan oleh Antasari untuk menyuruh Ary memberikan uang kepada Chandra. Tuduhan ini lantas dibantah oleh Antasari, Ary dan Chandra. Melihat bantahan itu, publikpun melihat bahwa polri bekerja sangat tidak profesional, bukti-bukti belum kuat, tuduhan belum nyata malah membuat statement yang bisa berujung fitnah, adagium lama jaman orba seperti terulang kembali, polri bekerja dengan metode yang penting tangkap dulu, bukti bisa dibuat dan dicari belakangan, innalillahi.

Sekali lagi saya heran dengan pemimpin dinegeri ini, beda dengan wakilnya yang mampu berkomentar dan memberikan sedikit pencerahan kepada publik, ia selalu diam seribu bahasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, dibawah sana, anak buahnya sedang bertarung, rakyatnya sedang bertikai dan para pencari keadilan sedang mengigil, bersimpuh bermunajat dan berdoa kepada tuhannya, semoga keadilan bisa tegak di bumi Indonesia.
Kemana empati mu pergi wahai sang pemimpin, kemana rasa dan nuranimu menghilang wahai sang raja. Belum tuntas dugaan pelanggaran wewenang, malah kau menerbitkan perppu yang bisa berujung fitnah, yang membenarkan bahwa dua orang itu adalah bersalah, padahal kasus belum tuntas, masalah belum clear, siapa yang benar dan siapa yang salah juga belum jelas. Mengapa engkau mengambil keputusan berpihak yang tergesa-gesa, yang ujung-ujungnya bisa menjadi tradisi bagi pemimpin berikutnya untuk melemahkan lembaga hukum jika menyangkut kepentingannya.

Saya sebagai rakyat biasa, tidak bisa melihat lebih dalam bagaimana isi hatimu wahai presiden, dibalik wajahmu yang tampan, dibalik tubuhmu yang tegap, dibalik senyummu yang berkharisma saya tidak bisa melihat sedalam apa nurani yang engkau punya, setajam apa empati yang engkau miliki dalam menyelesaikan masalah dengan prinsip keadilan.
Memang, engkau bukanlah nabi Sulaiman yang diberikan hikmah keadilan dalam setiap pemerintahannya, engkau juga bukan nabi Yusuf yang selalu dibimbing kebenaran dalam setiap kekuasaannya. Tapi engkau adalah manusia yang dengan takdirNYA telah terpilih menjadi pemimpin kami yang dengan itu pula Allah melebihkan engkau atas kami, dan yang paling berarti, engkau adalah seorang muslim yang lahir dan mati diperintahkan untuk menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.
Ketika engkau bingung, Tuhan akan memberikan hidayah kepadamu melalui nurani, tanyakan kepadanya, kemana kakimu harus berpijak, tanyakan dalam istikharah-istikharah mu, kemana gerahammu akan menggigit. Jangan dengarkan bisikan-bisikan manusia-manusia disekelilingmu yang mempunyai penyakit di dalam hatinya. Dengarkan saja suara rakyat yang terdengar nyaring dibawah telapak kakimu, meski engkau berada dimenara gading, tetapi suara mereka dapat menembus angkuhnya tembok istanamu. Jeritan mereka mampu memenuhi alam tidur mu, merusak mimpi-mimpi indahmu yang senantiasa mendatangi malam-malammu. Jangan kau gadai akhiratmu, dengan mimpi dunia yang membutakan mata. Sebab pemimpin sepertimu, sama seperti yang lain, akan dimintai tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, termasuk anjing kurus yang mati kelaparan ditengah jalan karena kelalaian penguasa negerinya. Semoga engkau menemukan kembali empati itu.

Tuesday, September 15, 2009

Innalillahi wainna ilahi rojiun....Azab yang sengaja di undang.

Miris sekali melihat perkembangan pemberantasan korupsi dinegeri ini, keadilan dan nurani dikangkangi oleh gengsi dan balas dendam. Para pencuri dibela, para penegak hukum dipidana. Sungguh bangsa ini sedang mengundang azab untuk datang memporakporandakan negeri ini.

Adalah para petugas KPK yang notabene melaksanakan kewenangannya sebagai penegak hukum malah dijadikan tersangka oleh polisi, pasal yang dikenakannya pun tidak ada hubungannya dengan suap, mencuri, korupsi dan perbuatan bejat lainnya. Sang petugas, Chandra dan Bibit dijadikan tersangka lantaran dianggap melanggar pasal 23 UU No 31/1999 jo pasal 421 KUHP jo pasal 15 UU 20/2001 tentang Tipikor.
Mereka diduga menyalahgunakan wewenang atau sewenang-wenang memakai kekuasaannya memaksa orang untuk membuat, tidak berbuat atau membiarkan barang sesuatu atas penetapan keputusan bepergian ke luar negeri atas nama Joko Chandra dan penetapan keputusan pelarangan berpergian ke luar negeri atas nama Anggoro Widjaja.

Bagi para ahli hukum, hal ini sangat aneh dan menimbulkan geram, apalagi saya yang awam, yang hanya bisa melihat dari apa yang telah mereka lakukan hanyalan sebatas menjalankan undang-undang, tanpa sedikitpun terlibat oleh kasus penyuapan.

Harapan kepada para polisi sang “buaya” sebagai hamba hukum terdepan dalam menegakan supremasi hukum kembali sirna, luruh seiring luruhnya kepercayaan yang mereka pertontonkan dalam bualan-bualan di media massa. Harapan kepada kejaksaan sang “godzila” pun telah musnah sejak dulu kala sejak sang pendekar gedung bundar, Urip sang pendusta dan penginjak martabat adigung terbukti melakukan perbuatan tercela. Lebih-lebih, para begawan digedung bundar itu seperti pembawa virus bagi lembaga lainnya.
Seorang Antasari yang alumni gedung itu, kini menjadi perusak lembaga kepercayaan masyarakat satu-satunya dalam memberantas korupsi. Testimoninya seperti pepatah jawa, rawa-rawa rantas, malang-malang putung. Kalau hancur, hancurlah sekalian. Ia hantam dan fitnah koleganya di KPK. Sepertinya ia tidak ingin membusuk sendirian disana. Terpilihnya Antasari ;dengan rekam jejak yang kurang baik; sebagai anggota dan ketua KPK seperti membawa bencana dan cobaan berat bagi KPK. Sepertinya para anggota dewan yang memilihnya sudah merancang jauh-jauh hari untuk menghancurkan KPK, dengan menempatkan alumni gedung bundar, Antasari sebagai jajaran pimpinan KPK, yang sudah jauh-jauh hari banyak orang yang menolak dan meragukan kapabilitasnya, kini semua keraguan itu seperti terbukti didepan mata.

Para wakil rakyatpun setali tiga uang, malah bersemangat menelanjangi fungsi dan lembaga pemberantas korupsi itu dengan menghilangkan taring penuntutan yang justru disitulah letak ketajaman KPK. Logika sederhana, jika tidak bisa menuntut, untuk apa KPK berdiri, dan KPK berdiri bukankah karena keadaan yang memaksa karena polisi dan kejaksaan telah mandul. Jika penuntutan dikembalikan ke kejaksaan bukankah malah tuntutan itu bisa dimain-mainkan dengan SP3; yang selama ini tidak dikenal di KPK; karena sekali saja seorang menjadi tersangka maka KPK akan terus menuntut sampai keputusan pengadilan di ketok hakim. Korupsi adalah Extraordinary Crime, kejahatan luar biasa yang mampu menghancurkan sendi-sendi bangsa, ia lebih kejam dari terorisme bahkan lebih busuk dari terorisme itu sendiri. Teroris hanya menghancurkan target mereka dengan jelas dan korbannya pun jelas, tetapi korupsi menghancurkan tulang punggung bangsa, merampas hak anak-anak yatim, merebut rezeki orang miskin dan menghancurkan ekonomi rakyat kecil. Sungguh besar dampak kejahatan yang ditimbulkan dari korupsi.

Ketika para wakil rakyat yang telah kehilangan nurani itu bersemangat membonsai fungsi KPK, sang pemimpin negeri ini juga terlihat tampak lugu dan pura-pura tidak tahu, Ia yang peragu, malah membiarkan kejahatan terjadi didepan matanya. Ia membiarkan semua itu karena tak paham, atau sengaja lari dari tanggung jawab. Bukankah sebagai pemimpin seharusnya ia bicara tegas, cukuplah jaminan dari dirinya bahwa ia akan terus mendukung upaya pemberantasan korupsi dengan memberikan support kepada lembaga pemberantas korupsi yang telah dijualnya dalam kampanye politik sehingga mengangkatnya kembali menjadi presiden pada periode kedua. Tapi tidak, ia tidak memberikan support, ia mendiamkan itu semua dengan dalih bukan wewenang seorang presiden.

Jujur saja saya sebagai rakyat merasa ngeri dengan azab yang akan turun berikutnya bagi bangsa ini ketika pemimpin tidak lagi bisa melindungi rakyatnya, ketika pemimpin terlihat zalim ;meski ia tidak merasa melakukan kezaliman karena empatinya telah hilang. Takutlah akan doa para orang yang teraniaya, yang tiada jarak antara doanya dengan Allah. Takutlah akan doa para hamba yang berdoa karena melihat ketidak adilan telah meraja lela di bumi Indonesia. Doa itu mungkin bukan hanya datang dari petugas KPK yg saat ini diposisi teraniaya, tetapi dari kita, rakyat Indonesia yang tergerak hatinya, yang gusar hatinya melihat kemungkaran terjadi kasatmata didepan mata. Ketika doa-doa orang teraniaya mengalir dalam tangisan mereka, ketika tengadah tangan terjulur dari hamba-hamba yang lemah, dari rakyat-rakyat yang tak berdaya maka tiadalah yang akan datang kecuali azab yang akan turun kepada para pemimpin dan wakil rakyat, seperti turunnya azab kepada namrud, atau turunnya azab pada firaun,

Naudzubilah midzalik. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.

Tuesday, September 08, 2009

Syahdu yang hilang

Dulu, sewaktu kecil, kita sangat senang beribadah dalam hangatnya suasana ramadhan, bercengkrama dengan teman-teman dan berceloteh dalam gaya khas anak-anak tentang nikmatnya bulan barokah itu.

Meski kita tahu, nikmatnya bulan ramadhan saat anak-anak hanya sebatas kesenangan berbuka, bercanda dan bersenda gurau serta bermain-main dalam syahdunya suasana bulan puasa itu. Bulan yang membekas dan berbeda dari bulan-bulan lainnya.
Sholat isya dan tarawih berjamaah, sholat subuh berjamaah, tadarusan dan seabrek aktifitas lainnya yang begitu nikmat di lalui tanpa beban dalam jiwa anak-anak.

Kini, ketika dewasa, seolah-olah ada kesyahduan yang menghilang dalam aktifitas ramadhan kita. Pekerjaan-pekerjaan orang dewasa yang mengharuskan kita untuk berjibaku demi mencari sesuap nasi untuk nafkah keluarga, mengharuskan kita terlempar dalam kesibukan kita sendiri. Bulan ramadhan berjalan terasa hambar, terasa seperti biasa seperti bulan-bulan lainnya seolah-olah kita hanya memindahkan waktu jam makan kita dari siang ke malam hari saja. Dan bulan ramadhan pun berlalu tanpa syahdu.

Kita tidak mengerti mengapa kesibukan dunia menyebabkan kita menjadi sulit untuk memahami bahwa ramadhan itu adalah sebuah rizki dari Allah kepada manusia. Rizki yang datang kepada semua orang tetapi tidak semua orang mau menerimanya.
Kita tahu, saat ramadhan adalah saat rahmat dan pengampunan Allah turun deras dari langit, tapi kita tidak tahu, mengapa kita tidak antusias melaksanakannya. Kita hanya antusias mengumpulkan bekal untuk hari raya, bukan bekal untuk hari kiamat. Kita hanya sibuk bekerja untuk hari kemenangan itu, tetapi kita tidak dapat memastikan apakah kita menang pada hari itu. Menang bagi kita adalah saat kita bisa tampil “perfect” pada hari raya dihadapan sanak saudara, handai taulan dan teman-teman. Begitukah?

Entah mengapa begitu sulit menghadirkan suasana ramadhan itu kedalam hati, dan mengapa lebih mudah menghadirkan suasana ramadhan dalam balutan hiburan di televisi. Seolah-olah televisilah yang paling bergembira atas hadirnya ramadhan.

Kita tidak tahu, mengapa ketika semakin dewasa, saat tanggung jawab sebagai kepala keluarga semakin membesar, saat keinginan-keinginan tentang masa depan dan hidup layak didalam lilitan harta dan kekayaan semakin mendera sanubari, keinginan dan tekad akan penghidupan yang lebih baik demi masa depan anak-anak, demi masa depan orang-orang yang kita sayangi semakin membuat rasa dan hangatnya ramadhan hilang seperti hilangnya pagi ditelan siang. Dimana kita bisa temukan syahdunya suasana itu seperti saat kita kecil?

Mungkin kita akan menemukan kembali saat-saat itu, ketika kita tidak lagi sibuk akan urusan dunia, ketika rambut mulai beruban, ketika kita dipaksa pensiun karena umur tak bisa berbohong, ketika produktifitas telah berkurang dan menghilang. Dengan kata lain ketika senja telah tiba, dan ketika renta telah menyapa.
Apakah kita harus menikmati indahnya ramadhan dengan menunggu saat renta itu?
Apakah kita bisa menikmati nikmatnya ibadah dalam kerentaan itu?
Dan siapakah yang menjamin kita bisa sampai pada masa renta itu?

Tuhan, kemanakah perginya ramadhan nan syahdu itu?

Tuesday, September 01, 2009

Bulan Ramadhan : Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh : K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala. Kini – di bulan ini – ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya. Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’ Shiyami
Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’l Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya: "Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?" Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang bertuhan’ telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…" (Qs. 2 :185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban ini? Mereka jadi pan-dai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa meni sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang po-hon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit?

Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur-an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur-an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh ma-nusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perin-tah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalna-hu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Ma-laikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, mu-nafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur-an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Alqur-an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur-an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alqur-an membentuk frame berfikir. Alqur-an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.
Betapa da’wah Alqur-an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur-annya. Bila me-nyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Mu-suh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di te-ngah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.
Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? "Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi" (Yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.
Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

o0o