Wednesday, January 28, 2009

Betawi inklusif

Judul blog ini memang sedikit berbau primordialisme alias kesukuan, apalagi link blog ini www.celotehanakbetawi.blogspot.com dengan terang-terang mengusung nama betawi. Tetapi tidak berarti bahwa blog ini hanya bercerita tentang betawi, atau orang betawi atau hanya orang betawi yang boleh baca. Blog ini bercerita tentang sisi kemanusiaan anak bangsa yang kebetulan lahir dan berdomisili di betawi, enyak babe-nya orang betawi, engkongnya juga orang betawi. Nah dari sisi inilah pandangan-pandangan itu berpijak. Pandangan dengan latarbelakang betawi berikut atribut yg melekat yakni melayu, islam, mayoritas NU, kaum urban, mayoritas kelas menengah kebawah, dan sedikit ganteng, ceilee... :).
Ngomong-ngomong tentang ganteng, saya rasa wajar orang betawi ganteng-ganteng macam si pitung, si dul dan bang foke dengan kumisnya (Bang Foke orang betawi-kan ya?), juga noninya cakep-cakep. Karena suku betawi itu berasal dari campuran berbagai macam suku bangsa, ada arab, cina, jawa sunda dan lain-lain. Nah menurut gregori mendel, penemu tentang gen, gen yang datang dari campuran berbagai jenis itu membuat ras yang unggul, seperti ketahanan fisik terhadap penyakit, kecerdasan, dan bentuk yang bagus. Nah ganteng itu salah satu hasil pencampuran gen. Tapi nih, kalau ente tanya soal kegantengan Bang mandra :) (maaf ya Bang.. cuman buat sample aja kok) saya tidak tahu persis, tanya saja sama istrinya...

Kembali ke Betawi.
Nah dari dulu suku betawi ini terkenal inklusif/terbuka terhadap pendatang dan tidak pernah memiliki sifat arogan. Mereka menganut sikap tamu harus dihormati. Nah arogansi dan sifat penolakan betawi akan muncul jika mereka sudah tidak dihormati atau merasa harga dirinya di injak-injak.
Waktu kerusuhan mei 1998, kebetulah daerah saya dekat Binus dimana mayoritas pendatang adalah mahasiswa chinese, warga sekitar yang mayoritas orang betawi bahu membahu melindungi etnis tionghoa tsb. Sepanjang jalan Kh Syahdan sampai KH Taisir, semua mahasiswa tionghoa disuruh masuk kerumah-rumah warga dan jangan keluar rumah. Sedang kami para pemuda berjaga-jaga didepan mulut jalan dengan membawa senjata tajam untuk menghalau perusuh dari luar dan pita putih diikat dilengan sebagai tanda pengenal, Waktu itu Cing Aji Ali pengurus mesjid darussalam depan binus syahdan ngasih tausiah setelah sholat jumat supaya para pemuda ngejagain kampung karena ada isu penyerbuan dari luar dan katanya sudah sampai di slipi. Alhamdulillah Binus dan sekitarnya aman, meski ada beberapa tempat seperti batusari dan slipi yang hangus dibakar massa, tetapi itu tidak mengurangi penilaian bahwa pada dasarnya orang betawi cinta damai.

Ngomongin soal cinte damai, ada cerita menarik dari keluarga saya. Dahulu almarhum babe punya kenalan dagang seorang etnis tionghoa, namanya Koh Nadin (Apa kabar keluarga koh Nadin, Gong xi fat coi ye). Nah Persahabatan Babe sama Koh Nadin ini sudah ibarat saudara kandung, tiap lebaran enyak kirimin ketupat ke keluarga engkoh, begitu juga tiap imlek, si engkoh selalu kirim kue keranjang, dodol cina dll. Kebiasaan ini berlanjut sampe sekarang, meskipun orangtua-orangtua kami sudah meninggal, tradisi ini tetap kami teruskan, yah sebagai ajang silaturahmi.

Ada kejadian lucu waktu remaja dulu, ketika saya mengantarkan ketupat lebaran kerumah engkoh bersama Abang ipar saya. Rumah si engkoh terletak di deretan taupekong Palmerah, persis dibelakang Pasar Palmerah, rumah itu terletak dalam satu kompleks, kalau sekarang orang menyebutnya town house kali ye. Nah di kompleks itu mayoritas punya piaraan anjing. Abang Ipar saya paling takut sama anjing. Sewaktu masuk gerbang kompleks, kita celingak celinguk aman apa kagak, ternyata anjing-anjing itu enggak ada,so langsung motor kita selonong boy ke rumah si engkoh. Begitu sampai didepan rumah si engkoh, motor langsung saya parkir, Abang ipar saya langsung ketuk pintu dengan semangatnya, tok tok tok, begitu pintu dibuka yang keluar duluan malah dua anjing tinggi besar sambil menggongong dengan manisnya, bruuaar, bruuar (aneh juga saya dengernya, kok anjing bunyinya enggak guk guk, tapi bruar bruar...) Abang Ipar saya langsung kaku tak bergerak sambil ngoceh "tolong ada anjing", "tolong ada anjing" wakakakak saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin gak enak sama abang saya yang empunya rumah langsung berteriak: "masuk-masuk, masuk-masuk". Enggak tahu dia nyuruh saya atau nyuruh anjingnya, yang jelas ketika saya mau masuk, anjingnya juga langsung masuk sambil menundukan kepala, nguk nguk. weleh-weleh.
Sejak kejadian itu Abang ipar saya kuuaapook gak mau nganterin lagi. Nah lu kalo mau jadi ipar harus tahu dulu tradisi keluarga wekekekek.

Cerita mengenai si engkoh, Babe bilang keluarga si engkoh ada di Tangerang, katanya sih cina benteng. Cina Benteng adalah istilah orang cina yang dianggap pinggiran, bukan kelas menengah keatas, tetapi mereka lebih baik dari cina atas, karena mereka mau bergaul dan bergotong royong dengan pribumi. Kehidupannya tidak jauh beda dengan pribumi lah. Bedanya mereka wong cino, itu aja. Saya juga baru tahu kalau orang cina tidak semuanya kaya raya. Banyak orang cina yang hidup prihatin, apalagi sejak pemberontakan PKI dan Pemerintah menarik jarak dengan RRC, wah tambah kasihan saja kehidupan cina benteng. Untunglah reformasi bisa merubah itu semua, jadi etnis cina sekarang bisa bebas melaksanakan kepercayaannya.

Dulu, cerita Babe, jalan ke rumah si engkoh masih tanah, kalau hujan kaki pada debel-debel (debel itu tanah becek dan tebal nempel dikaki, kalo jalan kayak robocop), tapi itu masih mending, di sekitar rumah engkoh orang masih berternak babi, dan babi itu kadang dilepas kejalan, nah bisa dibayangin kan kalo jalan becek plus kotoran babi, baunya kayak apa. Babe sempat mau pingsan katanya. Gak papa Beh, demi silaturahmi.

Hari ini mungkin Tangerang sudah berubah, mungkin jalan sudah diaspal semua apalagi si Dul sudah jadi wakil bupati disana, mudah-mudahan Dul mengerti aspirasi warga tangerang.

Bersambung...

Nak, Tuhan sayang kepada bocah Palestina

Saat itu penghujung desember 2008, saat aku duduk menatap televisi bersama anak lelaki ku yang berusia 51/2 th, aku terhenyak melihat gaza digempur habis-habisan oleh israel dari segala penjuru, kemudian televisi menampilkan wajah-wajah bocah Palestina yang berlumuran darah.

Saat itu aku geram, geram dengan gigi geraham bergeletak, sembari melihat ke arah anakku dan membayangkan kalau korban itu adalah dirinya, aku menangis, aku marah, tetapi tak bisa melakukan apa-apa.

Sang anak bertanya kepada ku, “Abi, mengapa anak-anak Palestina itu dibunuh, mengapa ada orang jahat yang bisa berbuat seperti itu?. Israel itu kok jahat ya bi...”.

“Nak, Allah sedang sayang kepada bocah-bocah itu, mereka sedang berlomba menuju surga.” Jawabku diplomatis tak tahu harus berkata apa. Bagaimana menjelaskan kondisi ini kepada anakku, selain menceritakan tentang sejarah Israel yang berlumuran darah. Aku bukan tipe manusia penghasut, aku biarkan anak-anak ku menilai sendiri tentang manusia-manusia yang baik dan jahat tanpa tendensi apa-apa. Biar mereka mengetahui sendiri dari buku dan televisi tentang sejarah manusia-manusia durjana Israel.

Hari berikutnya, anakku senang sekali menggambar peristiwa perang gaza, Ia membuat jagoan sendiri dengan latar belakang bendera Palestina disatu sisi, dan disisi lain tank-tank israel sedang hancur lebur. Bahkan ketika bermain game beachead, Ia memposisikan sebagai mujahid Palestina, sedangkan musuh-musuh, tank, pesawat dan helikopter yang datang sebagai tentara israel. Begitu bangganya ia. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu memberikan dirinya pemahaman yang benar, pemahaman yang membawanya selamat dunia dan akhirat, baik tentang ilmu dunia, maupun ilmu akhirat. Amin...

Tuesday, January 27, 2009

Gelisah golput dalam pilkada dan pemilu

Gelisah Pilkada

Entah mengapa hati ini tidak juga bisa tenang tatkala perhelatan itu belum terlaksana. Entah mengapa semua menjadi galau, keluh kesah melanda hati dan kebimbangan membuat pikiran menjadi buntu.

Ku coba mengatur napas sambil berzikir akan pertolongan ilahi, untuk membuat jiwa menjadi tenang.
Kegelisahan ini datang seiiring dengan keragu-raguan, apakah saatnya sekarang ataukah terlalu terburu-buru. Siapkah menerima kekalahan, atau sudahkah mempunyi cukup kesabaran untuk menggengam kekalahan.
Tidak... itu bukan tujuan, ini cuma sarana dakwah yang menemukan momentumnya. Ya tapi apakah sudah cukup yakin mempercayakan kepada kedua sahabat itu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana keseharian mereka, jikalau bukan karena “samina wa ‘ato’na, kami dengar dan kami taati, niscaya kebimbangan ini bertambah-tambah. Jiwa yang bingung dan sulit membedakan, yang mana kawan dan mana lawan, siapa memanfaatkan siapa.
Tidak, engkau terlalu khawatir… tidakkah engkau lupa husnodzhon adalah lebih baik dari suuzhon?. Engkau bukan siapa-siapa, engkau bukan kader, bukan pula simpatisan, engkau hanya orang luar yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama dengan dakwah kami, bahkan engkau bukan siapa-siapa.
Yah memang, aku bukan siapa-siapa, aku adalah orang yang kebetulan ada saat dakwah itu menggelitik jiwaku, mungkin hanya itu dan…
Ah, apa peduliku jika aku bukan siapa-siapa. Mengapa aku peduli jika aku adalah nothing, mereka pun cuma teman lama yang datang kembali saat mereka butuh suaraku, lantas pergi setelah perhelatan selesai…
Any compliant???

Lafaz Allah di langit Palmerah Jakarta, 9 Februari 2007 Pukul 16.50






Pada Hari jum'at tanggal 9 Februari 2007 Pukul 16.50 (seminggu setelah Jakarta dilanda banjir besar) terjadi keajaiban dilangit jakarta tepatnya arah barat tempat matahari hampir terbenam. Kejadian ini terlihat dari kelurahan palmerah tepatnya di Jl. KH. Syahdan No. 24 rt.006/012 Jakarta Barat dengan durasi selama 10 menit (gambar yang terekam adalah 5(lima) menit terakhir.

Kronologisnya sbb : dua orang bocah bersepupu bernama Muhammad Rifqi (6 th) dan Ahmad Miftahul Adnan (4th) sedang bermain-main diteras rumah. Mereka bermain tebak-tebakan hewan di awan, Sebelumnya rifqi berkata kepada Adnan bahwa di langit ada gambar dinosaurus, sejurus kemudian gambar dinosaurus itu berubah menjadi tulisan (lafaz) Allah. Kemudian kedua bocah tersebut berteriak-teriak memanggil kedua orangtuanya sambil berteriak "Mama ada tulisan Allah di langit, mama mau lihat enggak". Kemudian Mursanah ibu dari Rifqi keluar rumah mencari tahu apa yang terjadi. Sesaat kemudian Mursanah segera memberitahu yang lain untuk melihat lafaz Allah tersebut, mereka yang diberitahu adalah Mbak Yanti penjaga toko buku galileo, Nabila (6 th,kakak dari adnan), Jumaroh (mbaknya adnan), Munawati (tantenya rifqi) dan Ana Rahmawati (Ibu dari Adnan). Setelah lima menit berlalu, barulah Munawati mengambil gambar tsb melalui handphone Nokia 6600(seperti yg kita saksikan bersama).

Satu jam kemudian ketika saya (penulis) tiba dirumah dan diberitahukan tentang lafaz allah tsb, kemudian penulis bersama Munawati melihat kelangit ternyata disana ada lafaz Muhammadarasulullah. Tetapi gambarnya tidak sejelas lafaz Allah dan waktunya sangat singkat sekali kira-kira 30 detik, kemudian langsung menghilang dan tersisa hanya lafaz Allah dan Muhammad yang terlihat samar-samar.