Friday, July 24, 2009

Ketika Empati Mulai Tumpul

Kisah ini adalah nyata dan pernah terjadi di negeri ini. Kisah yang terjadi tigapuluh tahun lalu disebuah daerah terpencil di pedalaman kalimantan. Kisah ini pernah saya baca dalam sebuah majalah berita pada tahun sembilan puluhan. Dalam kesempatan ini saya akan menceritakan kembali dalam ingatan versi saya, dengan sedikit improvisasi tanpa mengurangi isi dan kandungan ceritanya. Selamat mengambil I’tibar dari kisah tersebut.

Surat dalam Amplop tak berlogo.

Jumat Malam. 1 Agustus 1979, di rumah seorang Bupati.

Saat itu malam mulai merayap, jam dinding diruang tengah menunjukan pukul 22.00, diluar hujan rintik-rintik belum berhenti sejak tadi siang, dinginnya udara memaksa sang penghuni rumah untuk tidur cepat-cepat, apalagi setelah seharian melakukan inspeksi keseluruh jajarannya nyaris menghabiskan seluruh energinya. Setelah melipat tas kerjanya, Pak Kartajaya (bukan nama sebenarnya), seorang Bupati di kota kecil dipedalaman Kalimantan, bersiap-siap menuju tempat tidurnya. Ia harus tidur cepat-cepat, sebab besok pagi harus pergi ke Jakarta selama seminggu untuk mendampingi gubernur untuk ikut presentasi potensi wilayah bagi Penanaman Modal Asing diwilayah kekuasaannya. Perusahaan asing itu berencana membuka tiga lokasi proyek di wilayahnya. Baginya, berhasil menarik investasi asing kewilayahnya membuat prestasi sendiri dimata gubernur, dan tentu saja banyak keuntungan materi yang akan didapatinya.

Baru setengah jam ia memejamkan mata, tiba-tiba ia mendengar kegaduhan didepan rumahnya, lantas ia bangkit untuk memanggil ajudannya agar mengusir orang-orang yang membuat kegaduhan tengah malam itu. Sang ajudan segera menjalankan tugasnya, ia menuju kepintu gerbang dan mendatangi kegaduhan itu. Ternyata ada dua orang pemuda dengan wajah lusuh memaksa ingin bertemu sang Bupati. Yang satu berperawakan pendek, berambut ikal memakai baju merah dan bercelana jeans, yang satu lagi kurus berambut lurus memakai kaos oblong bersendal jepit. Keduanya adalah perwakilan dari dua desa bertetangga, desa A dan desa B, dua desa terpencil dipinggir hutan yang sejak lama bermusuhan. Rupanya niat mereka dihalangi oleh dua satpam penjaga rumah itu, sehingga mereka berteriak-teriak dan menimbulkan kegaduhan.
“Ada apa ini, teriak sang ajudan”, “ini pak; jawab satpam yg lebih tua; dua orang pemuda ini memaksa ingin bertemu Bupati, katanya penting sekali dan menyangkut nyawa manusia.” Mengapa kalian tidak datang saja besok pagi, Pak Bupati sudah tidur, jawab sang ajudan. “Tapi Pak, kami membawa surat dari pemimpin-pemimpin kami dan kami ingin langsung bertemu dengan Pak Bupati untuk menjelaskan kondisinya dan menunggu apa selanjutnya intruksi beliau,. Kalau kami tidak jelaskan, takutnya beliau tidak faham duduk perkaranya, dan kami ingin jawaban itu sekarang agar bisa kami sampaikan ke pemimpin kami saat ini juga”. Baik, jawab sang ajudan, kalian tunggu saja disitu dan kemarikan surat yang kalian bawa, mudah-mudahan Pak Bupati mau bertemu kalian.
Sang ajudan segera mengambil amplop surat dari pemuda itu dan melihat cover depannya. Tertulis surat itu ditujukan kepada Pak Bupati, dan pengirimnya mengatasanamakan tokoh desa A dan B. Terlihat amplop surat itu cukup aneh untuk ukuran surat resmi, tanpa kop surat dan alamat institusi, ia lebih mirip amplop surat kaleng.
Segera saja sang ajudan menuju kamar sang bupati dan mengetuk pintunya. “Toktoktok”, “siapa” tanya pak Bupati. “saya ajudan bapak” ada surat untuk bapak, katanya dari tokoh desa A dan B, katanya penting Pak. Sang pembawa surat juga ingin bertemu bapak dan menginginkan jawabannya sekarang, karena menyangkut nyawa orang Pak”. “Hemm desa A dan B, dua desa bebuyutan yang sering membuat buruk citra wilayah saya“, ada apa lagi sih. “Apa tidak bisa besok saja, saya sudah capek, bilang kepadanya, saya akan menjawab surat itu besok pagi dan taruh surat itu di laci meja saya”, “Tapi Pak...ini menyangkut...” “Sudah...” Pak Bupati segera memotong” tidakkah kamu mengerti kalau saya harus tidur agak pagian malam ini agar besok bisa menghadiri undangan Pak Gubernur ke Jakarta, bukankah kamu ikut juga” “Siap Pak” jawab sang ajudan. Segera saja ia menaruh amplop itu dilaci meja kerja pak Bupati. “Pak amplop itu sudah saya taruh dilaci bapak yang paling atas ya” “Ya, sekalian suruh orang itu kembali saja besok pagi”. “Siap Pak”.

Dua puluh tahun kemudian, Agustus 1999.

Pak Kartajaya sudah lama pensiun, kini ia hanya tinggal bersama dengan istrinya. Dua orang anaknya telah menikah dan tinggal di Jakarta. Kesibukannya sekarang hanya bercocok tanam, memelihara ikan dan sekali-sekali membersihkan ruangan kerja yang menjadi kebanggaannya. Foto-fotonya bersama gubernur dan Presiden acap kali dibersihkan sendiri, juga pajangan-pajangan senjata tradisionil yang ia dapat sebagai cindera mata ketika berkunjung ke daerah. Agar tak bosan, kadang-kadang seminggu sekali ia rubah posisi lukisan dan senjata itu, hanya meja kerjanya saja yang tak pernah ia rubah, selain karena berat, meja itu juga cukup besar, jadi ia hanya membersihkan kaca meja itu saja. Meja kerja itu terbuat dari kayu jati yang ia beli langsung dari jepara. Meja kerja dengan kualitas nomor satu, yang umum dimiliki oleh para pejabat dinegeri ini. Saat asyik membersihkan laci dan mengeluarkan isinya, tiba-tiba ia melihat sebuah amplop lusuh yang sepertinya sudah lama berada ditempat itu, tetapi belum sempat ia baca. Perlahan diambilnya amplop itu dan dilihat secara seksama. Sepertinya ini surat kaleng, tidak ada nama dan alamat institusinya selain nama pengirim tokoh desa A dan B. Ia mencoba mengingat-ingat tentang kedua desa itu, tapi tak juga bisa mengingatnya, kemudian dilihat kembali amplop itu, Surat itu memang ditujukan untuk dirinya, karena penasaran lalu dibukanya surat itu perlahan.

Desa A & B, 30 juli 1979

Kepada Bapak Bupati yang kami hormati,

Kami mewakili penduduk desa A dan B memohon petunjuk kepada Bapak apa yang kami harus lakukan, kami akan mematuhi apapun instruksi Bapak demi kebaikan desa kami. Mengingat situasi genting yang terjadi di desa kami, kami mohon kesediaan Bapak untuk datang ke desa kami untuk mendukung upaya damai yang kami ajukan kepada masyarakat didesa kami. Kami sudah lelah bertikai, kami sudah lelah bertempur karena mempertahankan dan membela sesuatu yang tidak jelas. Kami para tokoh muda ingin kedamaian terwujud di desa kami. Tetapi para tokoh tua tidak mau berdamai, mereka hanya berfikir tentang harga diri desa kami. Kami berusaha membujuk mereka, tetapi tidak bisa. Kami hanya butuh tokoh yang mau didengar oleh orangtua-orangtua kami dan tokoh itu adalah Bapak.

Sampai disini, Pak Kartajaya tertegun, ia mencoba mengingat-ingat, bagaimana surat ini bisa sampai kepadanya. Keningnya bekerut-kerut, tanda ia berusaha mengingat-ingat kapan ia menerima surat itu. Ia berdoa kepada Allah, untuk dimudahkan mengingat kejadian itu. Otaknya berfikir keras, berusaha mencari petunjuk. Lalu ia mengingat kebiasaannya dulu selama bekerja sebagai bupati. Ia ingat, ia mempunyai tiga laci di mejanya. Laci pertama paling atas adalah untuk berkas atau surat yang sudah selesai dibacanya dan sudah ditandatangani. Laci kedua dari atas adalah berkas kerjanya hari itu, dan laci paling bawah adalah untuk surat-surat atau berkas yang baru masuk. Ia sendiri yang menyusun seperti itu untuk memudahkan dirinya bekerja. Juga untuk menghindari ada berkas yang terlewati. Tetapi mengapa ada surat seperti ini yang belum sempat dibacanya. Perlahan ia mencoba berfikir keras dan mengingat-ingat, sedikit-demi sedikit mulai timbul ingatannya, ternyata surat itu adalah surat yang dikirim oleh pemuda yang membuat gaduh malam itu dirumahnya, dan karena ia mengantuk berat, ia menyuruh ajudannya meletakan dilaci kerjanya, dan sang ajudan meletakan di laci yang paling atas, pantas saja ia tidak pernah membaca surat itu, karena pagi-pagi ia harus berangkat ke Jakarta. Astaghfirullah.
Kemudian ia meneruskan membaca surat itu.

Ketokohan Bapak di desa kami, membuat para orangtua kami mempercayai apapun keputusan Bapak, tetapi para orangtua kami hanya memberikan waktu dua hari bagi kami untuk menghadirkan Bapak, jika tidak, mereka akan bertempur habis-habisan, sampai seluruh desa hancur berkeping-keping. Damai sekalian atau hancur sekalian. Jika bapak tidak sempat hadir ketengah-tengah kami, maka bapak bisa membuat surat sebagai ganti kehadiran Bapak, cukuplah stempel dan tandatangan bapak menjadi jaminan buat kami.

Kami mohon bapak segera membuat keputusan untuk kami. Kami mengutus dua orang perwakilan dari desa kami yang akan membantu bapak.
Kami tunggu kehadiran Bapak dua hari dari sekarang, jika dalam dua hari bapak tidak datang, maka kami akan saling menghancurkan, kami mohon pertolongan dan campurtangan bapak.

Terima Kasih

Ttd Ttd
Wakil Desa A Wakil Desa B

Tiba-tiba dada Pak Karta bergemuruh, airmatanya mengalir deras, tubuhnya lunglai, matanya gelap dan jiwanya guncang menahan penyesalan yang teramat dalam. Sebagai pemimpin, ternyata ia tidak bisa melindungi warganya. Ia malah asyik memikirkan keuntungan dirinya sendiri. Ia merasa empatinya telah hilang dan naluri kemanusiaannya telah tumpul. Kalau saja saat itu ia meninggalkan ego dan kantuknya dan mau sedikit saja membaca surat itu, maka segalanya tidak akan berakhir seperti ini. Yang paling menyakitkan adalah bahwa ia adalah satu-satunya orang yang diharapkan bisa mencegah pertumpahan darah itu. Tiba-tiba matanya gelap dan tubuhnya terasa lunglai. Ia tak sadarkan diri. Saat itu juga Pak Karta meninggal dunia terkena serangan jantung akibat tidak kuat menahan beban.

Minggu, 3 Agustus 1979 sore, dua puluh tahun lalu.

Halaman depan koran lokal memberitakan dua orang pemuda berduel hingga tewas didepan rumah Pak Bupati Kartajaya. Yang satu berperawakan pendek, berambut ikal memakai baju merah dan bercelana jeans, yang satu lagi kurus berambut lurus memakai kaos oblong bersendal jepit. Polisi tidak mengetahui motifnya apa.


Ibrah

Banyak sekali hal-hal yang kita anggap kecil ternyata dapat berdampak luarbiasa bagi orang lain. Kurang pekanya hati, rendahnya empati, miskinnya kasih sayang membuat seseorang terutama pemimpin kehilangan kepekaan batinnya. Dampak kurang pekanya hati dan rendahnya empati membuat hati menjadi tumpul. Kebijakan-kebijakan yang dibuatpun menjadi miskin keberkahan bahkan menuai caci maki.

Kurang pekanya orangtua terhadap anak, mampu membuat anak menjadi merasa dipinggirkan, begitu juga kurang pekanya guru terhadap murid, yang membuat murid merasa tak diacuhkan. Kurang pekanya para dai terhadap ummat, melahirkan ummat-ummat yang jahil, kurang pekanya pemimpin terhadap rakyat, melahirkan rakyat yang zalim dan teraniaya.

Kita masing-masing adalah pemimpin yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak. Seorang laki-laki adalah pemimpin dikeluarganya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang pembantu adalah pemimpin di rumah majikannya , maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, Seorang Penguasa adalah pemimpin dinegerinya, maka ia akan dimintai tanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. (Mutafaq alaihi).

Semoga Bermanfaat.

No comments:

Post a Comment